
Tak menunggu Lama, Vino menggenggam tangan Micel dan melangkah ke arah dimana Mama Mira, Nenek Amy, Kakek Rey dan juga Radit Nada berada.
"Aku akan membawanya bersamaku, doakan kami bahagia," ucap Vino sambil menatap ke arah mereka bergantian. Radit maju beberapa langkah dan menatap Vino juga Micel bergantian.
"Kalian harus bahagia, jangan sakiti dia." Radit berangkulan sejenak dengan Vino kemudian meraih Micel dalam dekapan hangatnya.
"Apapun yang terjadi, tetaplah berada di samping suamimu. Entah bagaimana, jadilah kekuatan suamimu untuk tetap berdiri. Tanpa wanita hebat, lelaki tak akan pernah bisa berdiri tegak," ucap Radit pada Micel. Micel memejamkan matanya. Andai kakaknya tau, bahwa Vino tak pernah mencintainya, apa dia akan setuju? Entahlah, Micel tersenyum dan mengangguk pelan.
"Sekarang ikutlah suamimu, dia imammu, menjalani sesuatu hal baik bersamanya adalah ibadah," ucap Radit sambil tersenyum.
Vino menarik tangan Micel, dia menatap Radit dan Berpamitan untuk pergi. Radit mengangguk pelan, meski berat melepaskan adik yang baru saja menjalin hubungan baik dengannya, tapi memang takdir harus begini.
Vino melangkahkan kaki keluar dari mansion keluarga Handika Raditia. Micel memejamkan matanya sejenak, rasa sesak menyeruak di dadanya. Meski dia kehilangan ingatannya, bagaimana pun dia merasa ada yang hilang dari hatinya ketika harus meninggalkan mansion mewah itu.
Vino membuka pintu mobil dan mempersilahkan Micel untuk masuk. Mama Elina dan Papa Pradikta tampak masuk ke dalam mobil hitam yang berada di belakang mobil Vino berada.
Vino menatap ke arah Micel dan mendekatkan wajahnya ke arah Micel. Micel tampak gugup dan meringsut mundur.
"Apa yang kau lakukan Kak?" tanya Micel ketus. Vino semakin memajukan wajahnya hingga jaraknya dengan Micel hanya beberapa centi saja.
"Mau apa kamu Kak? Berhenti! Jangan mendekat lagi," ucap Micel yang panik karna Vino mengurungnya, meletakkan kedua tangannya di pundak Micel. Wajah mereka kini semakin dekat, membuat jantung Micel memompa lebih cepat. Jantungnya bergetar hebat. Micel mengepalkan tangannya, rasanya ingin memberikan pukulan pada manusia yang ada di depannya. Manusia yang menikahi dirinya entah karna terpaksa atau apa.
"Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan," ucapnya sambil menatap wajah Micel yang tampak ketakutan, akan tetapi tetap terlihat cantik di depannya.
Micel melirik ke arah belakang, ia takut ada orang saat dia berada di posisi seperti ini.
"Oke kita bicara, tapi singkirkan tanganmu dari pundakku," ucap Micela ketus. Vino tersenyum sinis kemudian meletakkan jari telunjuknya di pipi Micela. Membuat usapan lembut disana hingga Micel merasakan desiran hebat dihatinya. Micel memejamkan matanya, mencoba menekan hatinya.
"Aku akan melakukan apapun yang aku mau, dan kau tidak berhak menolak ataupun membantah kemauanku," ucap Vino di telinga Micel. Micel menghela napas panjang dirinya dilanda ketakutan, tubuhnya bergetar hebat. Dia memang sekarang telah menjadi istri lelaki di depannya, akan tetapi apa yang dia mau saat ini? Apa juga yang dia mau dari pernikahan ini?
__ADS_1
"Apa yang Kakak inginkan? Bicaralah," ucap Micela.
Vino menatap ke arah kaca mobil. Vino memasukan dua tangannya di saku celananya, memandang indah pemandangan di luar untuk mengurangi penat di otaknya. Mobil hitam yang ditumpangi kedua orang tuanya melaju dengan cepat.
"Tentang pernikahan ini," jawabnya santai.
Micel menghela napas dalam. Dia tau arah pembicaraan Vino, pernikahan ini entah pernikahan macam apa. Hanya sebuah keterpaksaan di dalam situasi yang mungkin sangat urgent.
"Apa ini hanya sebuah permainan?" tanya Micel pada Vino yang menatapnya dengan tenang. Vino tersenyum sinis, menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobilnya. Netranya memandang ke depan. Vino menghela napas panjang.
"Bagus, jika kamu tau. Ada beberapa hal yang harus kita sepakati," lanjut Vino sambil menyerahkan berkas pada Micela yang diambilnya dari tas kerja.
"Apa itu?" tanya Micela sambil menerima beberapa berkas dari tangan Vino.
"Bukankah kamu bisa membaca, Gadis? Baca, dan tanda tangani," jelas Vino.
Pihak pertama: R Vino Pradikta
Pihak kedua : Micela A
Pernikahan Sah
Pihak kedua menuruti semua kemauan pihak pertama
Pihak kedua tidak berhak ikut campur urusan pihak pertama
4.Pihak kedua melakukan tugas sebagai seorang istri
__ADS_1
5.Pihak kedua dilarang meminta cerai jika pihak pertama tidak menyetujui.
Dan seterusnya.
Beberapa lembar isi dari surat itu hanya menguntungkan Vino saja. Micela melempar berkas itu ke depan Vino. Vino menautkan alisnya.
"Kenapa ada perjanjian? Aku merasa di rugikan disini. Perjanjian macam apa itu?" ucap Micel.
Vino tersenyum kemudian membuka lembaran itu. Membaca sekilas dan menghela napas kasar.
"Tidak bisa begitu Kak Vino," sanggah Micela.
"Aku yang menentukan, aku kepala keluarga, aku suamimu." ucap Vino. Micel menghela napas panjang.
"Aku tidak setuju!" sanggah Micel lagi.
"Setuju atau tidak kau harus tetap setuju, aku yang berhak atas hidupmu," ucap Vino lagi.
"Tidak bisa begitu Kak, seharusnya tidak usah ada pernikahan jika hanya aku yang dirugikan!" sentak Vino.
"Kamu itu tidak bisa melarangku. Kamu harus tau, kamu berada dalam pengawasanku, ingat surat perjanjian itu," ucap Vino tegas.
Micela menggenggam ujung bajunya, hatinya sakit mendengar ucapan Vino. Micel mengusap kasar wajannya.
"Biarkan aku bekerja," ucap Micel. Vino terdiam menatap lekat ke arah istrinya.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1