
Radit, Vino dan Gino mengedarkan pandangan. Mereka terkejut saat memandang satu sama lain. Ketiganya mengepalkan tangannya dan saling berdiam.
"Maaf, aku tidak ada waktu untuk itu," Radit kembali melangkahkan kakinya. Melihat Vino mungkin tak menjadi masalah, yang sangat mengganggu otaknya adalah menatap lelaki angkuh dari keluarga sinatria itu.
Namun, langkahnya terhenti saat Gino memanggil namamya.
"Tuan Muda Marvel, ada apa gerangan anda ke sini?" tanya Gino seolah ingin membuat lubang yang menjerumuskan. Dia pikir Radit akan terpancing? Akan tetapi, justru dia yang akan mengalihkan perhatian para wartawan itu dari Nada.
"Kau tampaknya tidak perduli padaku, adikku baru saja kecelakaan. Kau tidak berniat menjenguknya Tuan Gino?" tanya Radit sambil memaksa tersenyum. Gino? Bahkan dia baru beberapa waktu lalu mengetahui nama orang di depanya dari Delon.
Gino terdiam, bagaimana cara memancing Radit mengatakan tentang Nada? Bahkan Radit seolah mampu menggiring opini lain.
"Oh, jadi kalian kesini untuk itu? Bukan karena hal lain?" tanya salah satu wartawan.
Pertanyaan wartawan itu membuat Radit memejamkan matanya sejenak, ingin membuka mulutnya akan tetapi suara seseorang tampak menyahut ucapannya.
"Hem, aku kesini untuk Micela. Adik dari Tuan Marvel Raditia Dika. Dia calon istriku," ucap Vino sambil memandang ke arah Radit dan wartawan bergantian.
Radit tampak terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Vino yang seakan menegaskan kesungguhan pada adiknya. Radit menatap ke arah Vino yang menatapnya dengan tegas.
"Wah, amazing. Jadi Tuan Muda Marvel dan Tuan Muda Vino calon ipar?" tanya mereka lagi. Radit dan Vino tampak berpandangan. Mereka hanya terdiam kemudian mengangguk pelan. Entah bagaimana nanti, yang jelas Radit bisa lega Nada dalam keadaan yang aman.
"Kalau anda Tuan Muda sinatria?" tanya Wartawan. Jika kedua orang tadi tak menyinggung Nada, akan lebih mudah menggiring opini para wartawan untuk percaya bahwa dia ada hubungan dengan Nada.
"Dia memenuhi undanganku untuk datang ke sini, kebetulan aku ingin sahabatku berkumpul di sini," ucap Delon yang tiba-tiba datang sambil membawa kantong plastik.
Radit bernapas lega saat melirik Delon yang datang tepat waktu. Dia bingung harus menjawab apa nantinya, untung saja sahabatnya itu sangat tau keadaan. Radit tersenyum saat melirik kantong plastik yang di bawa Delon dan dipastikan isinya adalah nasi goreng bang Mali. Nasi goreng yang diinginkan sejak pagi.
Gino mengepalkan tangannya, siapa lagi lelaki ini? Sangat menguras emosinya.
"Maaf, kami harus segera masuk." Radit melangkahkan kakinya. Para wartawan memberi jalan dan segera membubarkan diri.
Vino, Delon Dan Gino masuk juga. Vino berjalan menuju ke arah dimana Micel berada, Delon berada di belakang. Di depannya ada Gino, Delon harus memastikan Gino mengikuti langkah Vino menuju ke kamar Micel.
__ADS_1
Radit? Setelah mengambil bungkusan Nasi dan berbisik pada Delon tadi, dia menghilang sejenak untuk menghindari Gino.
Radit membuka ponselnya, beberapa panggilan dari Nada terlewat beberapa jam yang lalu. Nenek juga memanggilnya. Ingin memanggil balik, akan tetapi nenek juga memberikan pesan bahwa Nada berada di ruang perawatan. Radit mejamkan matanya, dia begitu mengkhawatirkan keadaan nada. Nada pingsan? Segera Radit melangkah ke arah kamar dimana Nada berada.
🎀🎀🎀🎀
Radit telah sampai di kamar Nomor 122, dibukannya hendel pintu kamar rawat itu dengan pelan. Dilihatnya Nada yang tampak memandang ke arah nenek dengan bingung.
"Apa maksud nenek? Bahkan aku tidak membelikan apapun untuk Nenek," ucap Nada sambil berusaha untuk duduk. Nenek membantu Nada dan tersenyum.
"Kau bahkan memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, Sayang," ucap neneknya lagi. Nada memutar bola matanya dan mencoba berpikir. Apa itu?
Nenek mengusap pelan puncak kepala Nada dan memberikan hasil dari pemeriksaan dari dokter pada Nada. Nada mengambil kertas itu dan membacanya dengan tenang. Air mata Nada tumpahlah sudah.
Hamil? Nada menatap nenek seolah bertanya apa benar? Nenek mengangguk pelan, Nada berhambur ke pelukan Nenek.
"Alhamdulilah," lirih Nada. Suatu kebahagiaan yang sangat besar baginya saat mendengar kabar ini. Bahagia ketika dia benar-benar di percaya untuk menjadi seorang ibu. Nada mengusap air matanya, pasti suaminya sangat bahagia juga.
Radit? Nada begitu merindukan suaminya. Suami yang sedari tadi pergi. Ingin dia memeluknya. Ingin dia merasakan dekapan hangat yang selalu mampu membuatnya nyaman.
"Sayang, nenek sepertinya harus ke kamar Micel menyusul mamamu. Ada Marvel yang akan menjagamu," ucap nenek. Nada melepas pelukan pada nenek.
Dilihatnya Radit berdiri dan menatap ke arahnya.
"Marvel, nenek pergi dulu. Selamat, kau akan menjadi seorang ayah." ucap Nenek sambil mengusap pelan pundak Radit dan melenggang pergi.
Radit menatap wajah sembab istrinya, Radit juga melirik ke arah perut datar Nada. Radit menghela nafas panjang. Rasanya sesak, bahagia, terharu, semua bercampur menjadi satu.
Keduanya saling menatap, bahkan mereka tampak masih tak percaya dengan kabar yang di dengar.
Radit maju beberapa langkah, tangannya terulur mengusap air mata yang masih tersisa dipipi Nada. Radit mengamati wajah cantik yang tampak seperti bayi itu. Wajah cantik yang halus tanpa cela.
"Terimakasih atas kabar bahagia ini, aku sangat bahagia dan amat sangat bahagia sekali," ucap Radit sambil mengusap pelan perut datar Nada.
__ADS_1
Nada menatap Radit dengan tenang, di lihatnya wajah itu dengan senyuman yang indah. Tangan Nada terulur menyentuh wajah Radit yang sangat tampan itu.
"Alhamdulilah Yang, aku juga berterimakasih padamu. Bukan hanya karna aku, akan tetapi kehamilanku ini juga berkat usaha kerasmu Yang, usaha kita berdua. Dia buah cinta kita," ucap Nada dengan wajah yang merah merona.
Radit membelalakkan matanya dan terkekeh pelan. Astaga, Nada menggodanya. Bahkan Nada mengingatkan betapa dirinya begitu perkasa saat melakukannya.
Radit mengangkat tubuh Nada ke pangkuanya, Nada sontak melingkarkan tangannya di leher Radit. Keduanya saling menatap lekat. Radit menatap bibir merah muda Nada yang begitu menggoda.
Radit menyambar bibir Nada dan memberikan ciuman hangat yang membuai. Radit memejamkan matanya, menikmati manis bibir istrinya yang selalu menggoda. Hais, tiba-tiba dirinya teringat ulah Zifana yang lancang tadi.
Sengaja Radit mencuci mulutnya beberapa kali. Dia ingin segera mendapat kenikmatan dari Nada yang tiada banding ini, menghapus jejak bibir laknat yang mencuri ciuman dari bibirnya.
Setelah kehabisan napas, mereka mengakhiri ritual itu. Radit mengusap pelan perut Nada lagi dan kembali membaringkan Nada. Radit berdiri di samping Nada kemudian mencium perut Nada dengan pelan.
"Hai kesayangan Daddy, sehat sehat di dalam, jangan menyiksa mommy. Okey," ucapnya pelan dan mampu membuat hati Nada bergetar hebat. Nada memejamkan matanya, hamil di tengah gosib yang menerpa. Apa yang akan dikatakan orang diluaran sana?
"Yang, apa yang kamu sembunyikan dariku? Aku tau, kamu..." ucapan Nada terhenti ketika Radit kembali membungkam bibir Nada dengan ciuman mesranya.
Radit mencoba memberikan ketenangan untuk istrinya. Radit tau dan yakin bahwa Nada telah mengetahui gosib di luaran sana. Nada bukan wanita bodoh yang bisa dikelabuhi. Bahkan air mata Nada mengalir saat ini.
Ditengah ciuman mesra itu, Radit mengusap Air mata yang terus berderai di pipi mulus Nada.
Radit melepas ciumannya, ia mendekap Nada dalam pelukan hangatnya. Nada merasakan kenyamanan di pelukan Radit. Rasa rindu di dalam hatinya seakan sirna dibawa terbang oleh rengkuhan sayang tangan Radit.
"Istirahatlah, jaga kesehatan baby kita yang ada disini. Jangan memikirkan apapapun yang mengganggu pikiranmu, bahkan jika saat ini kamu meminta aku mengatakan pada dunia bahwa kamu adalah istriku, aku akan melakukannya,"ucap Radit sambil mengusap pelan perut Nada lagi.
Nada memejamkan matanya, dulu dia sangat ingin mendapatkan pengakuan di depan banyak orang, tapi saat ini dia takut akan semakin banyak orang yang akan mencelakai dirinya. Radit orang yang berkuasa, banyak orang yang benci bahkan sayang. Sepertinya di keadaan yang seperti ini bukan waktu yang tepat untuk mengumumkan.
"Aku tidak mau kamu terpaksa, cari waktu yang tepat. Biar masalah ini selesai dengan sendirinya, aku bukan wanita yang seperti apa yang mereka bicarakan. Aku istrimu, dan disini adalah putramu, tak ada yang bisa mengubah takdir ini. Aku dan kamu satu," ucap Nada kemudian kembali berhambur ke pelukan Radit.
Menjadi istri dari Radit adalah pilihannya, apapun yang terjadi, sedari awal dia meniatkan untuk ibadah kepada Yang Maha pencipta.
"Sekarang doaku bukan lagi menjadikanmu pasangan hidup di duniaku, tetapi aku berdoa agar dapat menjadi pasangan di surga bersamamu juga. Kamu terlalu sempurna bagiku My lovely wife," lirih Radit di telinga Nada. Membuat air mata Nada menetes kembali.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀