
Radit kembali melajukan mobilnya, waktu menunjukan pukul 13.00. Dia harus mempersiapkan segala perlengkapan untuk menuju ke pulau X. Pulau X Adalah daerah yang dekat dengan dimana rumahnya berada. Akankah dia kembali pulang untuk memenuhi permintaan kakeknya?
Tak lama kemudian, sampailah mereka di mansion keluarga Prayoga. Bi Rini melangkahkan kaki ke rumah, sementara Radit masih berdiri di parkiran.
Deringan ponsel Radit terdengar, Radit segera mengambil ponselnya. Dilihatnya nama Dani disana. Dani asistenya menelpon? Ada apa? Segera Radit menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Halo Dani, ada apa menghubungiku?" Radit mengusap rambutnya kasar.
"Halo, Tuan Muda. Nenek Amy sakit, dia ingin bertemu dengan Tuan Muda." Suara serak Dani tampak panik.
Radit memejamkan matanya Neneknya sakit? Haruskah dia pulang? Lalu jika tidak pulang bagaimana dengan neneknya? Selain kakek, nenek adalah orang yang sangat memperdulikan keadaannya. Lantas apa yang harus dilakukannya?
"Tuan Muda," paggil orang di sebrang lagi.
"Aku akan pulang, bilang pada nenek aku akan segera menemuinya," ucapnya kemudian menutup ponselnya.
Radit memejamkan matanya, 10 tahun ini dirinya meninggalkan rumah itu dan hanya kembali saat ada kepentingan. Haruskah dia pulang sekarang? Pikiranya melayang jauh, bayangan Mira, ya Mira ibu kandung yang melahirkannya mengiang di otaknya.
Mama yang tega menodai ikatan suci pernikahan dengan papanya kemudian papanya meninggal dunia. Benci? Sangat benci ketika dirinya harus melihat wajah wanita yang seharusnya bisa membuat ketenangan malah menjadi wanita yang menciptakan luka di setiap napasnya.
Pantaskah dia membencinya? Pantaskah dia membantahnya? Apakah dia durhaka? Entah, yang jelas, Radit memilih untuk menjauh dan pergi dari rumah mewahnya. Meninggalkan kemewahan dan mencari kesenangannya sendiri. Radit meraih ponselnya dan memanggil seseorang.
"Siapkan pesawat, aku akan terbang sekarang juga. Aku mengkhawatirkan nenek," ucap Radit kemudian menutup ponselnya lagi.
Seketika Radit mengambil keperluanya, dia menemui ibunya yang tengah memasak di dapur
__ADS_1
Melihat putranya yang tengah menggunakan hodi dan membawa tas kecil, Bi Rani tampak menautkan alisnya.
"Mau kemana Nak?" tanya Bi Rani.
"Radit harus pergi sekarang, Bu. Ada hal penting yang harus aku lakukan," ucapnya sambil mengecup pelan ibunya.
"Sekarang?" tanya wanita paruh baya itu. Radit mengangguk pelan. Jawaban Radit membuat Bi Rani tampak bersedih. Tetapi, dia kembali tersenyum dan mengusap pelan pundak Radit.
"Hati-hati, jangan lupa bilang pada kakakmu," ucap Bi Rani.
"Hem, aku sudah menghubunginya. Radit harus berangkat, Bu. Asalamualaikum," ucapnya kemudian melenggang pergi. Satu unit taxi online pesanannya sudah menunggunya di depan.
mereka menuju ke arah bandara yang hanya menempuh satu jam perjalanan. Satu jam berlalu, sampailah Radit di bandara.
Radit disambut 2 ajudan yang membungkuk dan mempersilahkannya untuk berjalan. Radit berjalan cepat menuju pesawat pribadi yang di siapkan oleh Dani, teman yang sekaligus orang kepercayaanya. Orang yang menjaga perusahaannya beserta mata-mata untuk melihat gerak gerik Mira ibunya. Di depan pintu masuk pesawat tengah berdiri pramugari cantik yang menggulung rambutnya ke atas. Tampak leher jenjang yang menyita perhatian seorang marvel Raditia Dika.
"Selamat siang Tuan Marvel, selamat menikmati perjalanan," sambut pramugari cantik itu dengan ramah.
Radit hanya diam dan berlalu duduk di barisan kursi paling depan.
ππππ
Di sebuah bandara, jet pribadi mendarat dengan sempurna. Radit turun dari pesawat kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Tampak dua orang tergopoh menuju ke arahnya dan membungkuk memberi hormat pada tuan mudanya, membawakan koper beserta beberapa perlengkapan milik tuan mudanya.
__ADS_1
"Mari silahkan masuk Tuan muda," seorang ajudan membuka pintu mobil untuk Tuan muda mereka.
Radit masuk ke dalam mobil, kemudian mobil mewah berwarna merah metalix itu melaju dengan kecepatan rata-rata.
Tak beberapa lama kemudian, sampailah mereka di depan mansion mewah yang sangat besar. Pintu gerbang otomatis terbuka dan mobil mewah itu segera masuk ke halaman rumah.
Sopir paruh baya itu turun dan membuka pintu. Radit keluar dari mobil dan disambut oleh Dani yang sudah menanti dirinya sejak tadi. Dani sedikit membungkuk memberi hormat pada tuan mudanya.
"Selamat datang tuan muda," sambutnya penuh penghormatan.
Radit mengangguk pelan kemudian menatap ke arah mension mewah yang telah lama dia tinggalkan. Setelah beberapa menit berdiri, Radit melanjutkan langkahnya ke atas.
Para pelayan berjajar rapi menyambut dirinya, Radit memejamkan matanya. Di luaran sana dia harus melayani Micho, tapi di rumah sendiri dilayani seperti Ini membuatnya tak nyaman.
Salah satu dari mereka mengambil alih koper yang di bawa sopir kemudian berjalan di belakang Radit dan membawanya mengikuti Radit.
"Dimana Nenek berada, Dani?" tanya Radit pada Dani sambil terus berjalan menapaki anak tangga dengan terges.
"Nyonya besar ada di taman belakang, Tuan Muda."
Radit menghentikan langkahnya, bagaimana bisa neneknya ada di belakang? Bukankah Neneknha itu sakit? Radit menghentikan langkahnya, memutar langkahnya dan menatap ke arah Dani dengan sorot mata tajamnya.
"Apa kalian membohongiku?"
ππππππ
__ADS_1
Eng ing engππππππ