
"Apa kalian membohongiku?" tanyanya lagi sambil menatap tajam ke arah Dani yang menunduk.
"****," umpatnya.
Radit memutar langkahnya turun dan berlari ke arah taman belakang. Dirinya begitu khawatir pada neneknya dan nyatanya dia dibohongi? Sangat menjengkelkan.
Tak lama kemudian, sampailah Radit di taman belakang. Tampak neneknya menata beberapa pot di meja. Radit memeluk neneknya dari belakang dan meletakan dagunya di pundak wanita berusia lanjut itu.
Nenek Amy tersenyum, dia tau ini adalah pelukan hangat dari cucu kesayangannya.
Nenek Amy Mengulurkan tangannya menyentuh pipi Radit. Dia membalikan badanya dan menatap Radit.
"Hey, kenapa kau nakal sekali? Apa hanya dengan nenek membohongimu kamu mengingat nenek?" tanya Nenek Amy sambil menjewer telinga Radit, membuat Radit meringis kesakitan.
"Maaf, Nek. Radit sangat sibuk," jawabnya.
Walau membenci ibu nya, Radit begitu menyayangi neneknya.
"Sibuk apa? Kamu punya segudang kesibukan di rumah, tapi malah mengatur kesibukan orang lain," ucap neneknya lagi.
"Kak Micho bukan orang lain, nek. Kak Micho adalah kakak bagi aku," ucap Radit.
"Ya sudah, yang terpenting bagaimanapun kamu sibuk disana, luangkan waktu untuk nenek yang selalu merindukan kamu," ucap nenek Amy.
Radit tersenyum kemudian mengangguk pelan.
"Sekarang istirahatlah, kita berbincang besok lagii," ucap nenek Amy lagi.
"Enak sekali istirahat, biarkan saja dia disini menemaniku bermain catur." Suara Kakek di sudut taman membuat Radit menoleh, Radit berjalan ke arah dimana kekeknya berada. Dia duduk dan menggerakan catur sehingga kakek kalah telak darinya.
Kakek tersenyum kemudian memeluk cucu kesayangannya.
"Kenapa kau nakal sekali? Lihatlah, belahan jiwaku sakit karna merindukanmu, kau mau aku apakan?" tanyanya sambil mengusap pundak Radit dengan kasih sayang.
"Maafkan aku Kek," ucapnya sambil melepas pelukan kakeknya.
__ADS_1
"Jadi, aku hanya di bohongi?" Radit bersandar di kursi dan menatap ke arah kakek dan neneknya bergantian. Mereka tersenyum dan mengangguk pelan.
"Kami sangat merindukanmu Tuan Muda Marvel, bahkan nyatanya hanya dengan cara ini kau mendengarkan permintaan kami," lirih nenek. Radit menghela napas panjang kemudian mengeluarkan dengan pelan.
"Ini sangat tidak lucu," ucap Radit ketus kemudian berbalik arah menuju ke pintu masuk. Nenek dan kakek hanya tersenyum melihat kelakuan cucu kesayangannya itu.
Langkah Radit terhenti ketika berpapasan dengan wanita Paruh baya yang masih tampak cantik tengah berdiri di depan pintu.
"Selamat malam, Marvel," sapa Mira sambi tersenyum.
Radit mengepalkan tangannya, dia selalu benci melihat wanita ini. Radit tak menyahut sambutan Mira, ia berlalu begitu saja.
Mira tampak memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya.
"Malam Kak Marvel," sapa gadis cantik berusia 17 tahun.
Ya papanya meninggal saat mamanya ketahuan selingkuh 10 tahun yang lalu. Dan gadis di depannya adalah putri mamanya dari papa tirinya yang jarang sekali pulang ke rumah ini. Lebih tepatnya Radit yang melarang lelaki itu untuk tinggal di rumah milik papanya.
"Malam," sahutnya dingin kemudian berlalu.
Micel, gadis cantik itu memejamkan matanya, dia tak tau kenapa Radit bersikap dingin padanya? Apa salahnya?
"Coba kamu dekati dan kenali kakakmu, Kak Marvel akan baik jika kamu mengenalinya," ucap Mira sambil mengusap pelan pundak micel putrinya.
🎀🎀🎀🎀
Malam begitu sunyi, Radit menikmati malam di Ruang santai sambil menikmati sebotol wine yang menghangatkan tubuhnya. Dani mengambil alih botol wine dan menggantinya dengan segelas jus. Radit mengernyitkan dahinya, kemudian menatap ke arah sahabatnya itu.
"Jangan terlalu sering minum, jaga kesehatanmu. Kalau bukan dirimu sendiri, lalu siapa lagi yang akan menjaga?" ucapnya panjang lebar.
"Dani, aku telah menemukan dia," ucap Radit sambil menatap gelas di depannya. Pandangan matanya kosong. Dani menoleh dan mendengar ucapan bosnya itu.
"Kau akan mengejarnya?" tanya Dani.
Radit mengusap wajahnya kasar. Bahkan, untuk mengatakan saja dia tidak sanggup, apa lagi untuk mengejarnya, mana bisa?
__ADS_1
"Wanita itu milik kakak angkatku," sahutnya prustasi.
Dani mengernyitkan dahinya dan menatap Radit dengan penuh tanda tanya.
"Apa maksudmu?" tanya Dani.
"Kenapa masih bertanya? Apa perkataanku kurang jelas?" tanya Radit dengan nada ketusnya.
Dani tampak menyedekapkan tangan ke dada dan menatap Radit sambil mengusap dagunya.
"Apa kau patah hati sebelum mengungkapkan?" tanya Dani antusias. Radit menghela napas panjang, ia melemparkan bantal sofa ke arah Dani. Dani tertawa lepas melihat bosnya itu.
"Aki tak bisa merebut apa yang di miliki kak Micho, kak Micho sudah banyak membantuku selama ini. Aku tidak bisa menyakitinya," ucap Radit kemudian menatap wajah Amara yang ada di ponselnya.
" Jadi?"
"Biarkan semua berjalan seperti ini, wanita hanya membuat masalah. Aku tidak mau berada dalam keadaan yang nantinya akan membuat hubunganku dan Kak Micho merenggang," ucap Radit. Dani mengangguk pelan.
"Jadi kau terpaksa pulang karna alasan itu?" tanya Dani.
"Hem, aku tidak bisa dirumah terlalu lama. Aku akan segera pergi, banyak sekali pekerjaan yang harus aku urus. Kau tetap pada posisimu, hendel semua pekerjaan dan selalu awasi Nyonya Mira, jangan biarkan dia banyak bertingkah," ucapnya.
"Baik Tuan Muda," ucap Dani.
Radit mengambil kembali bantal sofa dan melempar pada Dani lagi. Dani tertawa, dan menatap Radit di tengah tawanya.
"Sepertinya manager Marvels group ingin diganti," sinisnya.
"Kau bisa menempatkanku di posisi yang lebih mudah Tuan Ceo," sahut Dani.
"Kau mau mati?" tanya Radit.
"Mana berani," sahut Dani.
"Panggil aku Radit, tidak bisakah kau mematuhinya," ucapnya sambil menepuk pundak Dani.
__ADS_1
"Oke, istirahatlah Radit," ucap Dani. Radit mengangguk dan melangkah pergi.
🎀🎀🎀🎀🎀