Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 71


__ADS_3

Mira menghela napas panjang. Apa dia akan diperas lagi? Mira menggeser tombol hijau dan mendengar suara serak berat orang tersebut.


"Halo, ada apa lagi kau menghubungiku Ronald?" tanyanya dengan emosi. Terdengar tawa orang di sebrang dengan sangat nyaring, membuat Mira memejamkan matanya dan menutup telinganya.


"Kau lupa, kebiasaan yang selama ini aku lakukan? Aku butuh uang, Nyonya Mira," ucap suara di sebrang dengan tawa yang menggelegar.


"Hentikan ucapanmu Ronald, aku tidak akan memberikan uang padamu lagi," sentak Mira pada Ronald.


"Oh, apa kau mau aku membeberkan kebenaran pada putramu?" ucap Ronald. Mira menghela napas panjang.


"Tutup mulutmu, Ronald! Kejadian itu sudah lama, aku juga sudah memberikan banyak uang kepadamu. Jadi jangan lagi menggangguku setelah ini. Jangan memerasku lagi!" Bentak Mira.


"Okey, beri aku 50 juta Nyonya Mira. Aku rasa ini tidak sebanding dengan harta yang kamu miliki sekarang ini," ucap Ronalde dengan tawa sinisnya.


"Aku akan mentrasfernya, dan jangan lagi menggangguku," tegas Mira.


"Okey Nyonya Mira," Mira menutup ponselnya dan memejamkan matanya. Ronald, lelaki itu adalah orang bayaran yang diakuinya sebagai selingkuhannya sehingga mengkibatkan Handika meninggal dunia.


Flash Back


Mira, memuntahkan isi perutnya. Badanya terasa lemas, Mira melirik ke arah kalender. Yang benar saja, dia telat tiga minggu. Mira memejamkan matanya. Dia hamil? Oh no, dia merasa sangat menderita karena menikah paksa dengan Handika. Walaupun Handika sangat mencintainya, dan memperlakukan dirinya dengan baik, nyatanya cinta Mira tak bisa berpaling dari kekasihnya dulu.


Walaupun begitu Handika yang sangat mencintanya enggan untuk melepasnya. Mira memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya. Karna jika Handika tau dirinya hamil lagi. Handika tidak akan pernah mau melepaskannya. Mira, wanita itu berulang kali meminta perceraian dan tak pernah dikabulkan.


Seiring waktu berlalu, sehingga 7 tahun lamanya Mira menyembunyikan Micel. Micel ia titipkan pada salah seorang pembantu. Akan tetapi, pembantu yang mengasuh Micel tengah sakit keras sehingga meminta suaminya untuk menjaga Micel.


Pertemuan antara Micel, Mira dan juga Ronald diketahui oleh Handika yang saat itu melewati taman bermain. Handika dengan tenang mendekati Istrinya. Mira terkejut, yang dia takutkan adalah Handika mengetahui jika Micel adalah putrinya.


"Mira, siapa dia?" tanya Handika dengan senyumannya. Tak ada jawaban dari Mira, Mira menghela napas panjang.


"Dia putriku dengan dia," jawab Mira spontan sambil menunjuk ke arah Ronald.

__ADS_1


Handika yang semula tersenyum kini mentap ke arah gadis kecil yang sangat mirip dengan Mira. Apa benar dia putri Mira bersama orang itu? Handika memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak hingga pada akhirnya Handika menghembuskan napas terakhirnya.


Saat itu, Radit yang berada dalam mobil segera keluar dan menatap kearah papanya yang tengah terkapar, tadinya Radit ingin ikut keluar, tetapi Handika melarangnya. Radit meminta tolong, dirinya menatap ke arah papanya kemudian menatap ke arah Mira dengan sorot mata yang tajam.


Sedang Mira yang tampak panik hanya menatap Handika yang kini diangkat banyak orang menuju ke mobilnya. Mira melirik ke arah Micel yang kini merasa ketakutan karna tatapan tajam Radit yang seakan menghujamnya.


Namun, mungkin takdir tak mau berpihak pada Mira. Hingga diwaktu yang bersamaan, kekasih yang katanya mencintainya telah menikah dengan orang lain.


Flash Back off


Mira menghela napas panjang dan merasakan sesak di dadanya. Jika Radit tau jika Micel adalah adik seayah dan seibu, bukankah dia akan semakin membencinya karna menutupi semua ini?


Radit membenci Micel karna dia pikir Micel adalah adik yang membawa petaka. Lalu, jika Radit tau ibunya sendiri yang membuat hubungan darah itu merenggang, bukankah dia semakin membenci Mira? Mira tak mau lagi membahas masalalu, biarkanlah semua berjalan seperti ini. Dia tidak siap kehilangan Radit ataupun Micel. Meski mereka berada dalam sekat yang seakan memisahkan setidaknya Mira bisa hidup dengan putra dan putrinya.


😏😏😏😏😏😏


Micel menghentikan Mobilnya di pelataran Sheyna Bontique. Jam menunjukan pukul 16.00. Segera Micel menuju ke loby dengan bahagia. Gadis cantik itu dengan Riang berjalan ke arah kasir.


"Mbak, karyawan yang bernama kak Nada dimana ya? Kok nggak kelihatan?" tanya Micel sambil menatap ke arah orang yang diajak bicara.


kedua orang itu tampak saling berpandangan.


"Bu Nada?" tanya salah satunya.


"Kak Nada istri dari..." Micel menghentikan ucapannya. Mana tau mereka kalau Kak Nada adalah istri dari Marvel Raditia Dika? Radit memyembunyikan pernikahannya dan tak ada yang tau.


"Micel," Nada yang baru saja keluar dari ruangan menatap adiknya dengan bahagia.


"Kakak," ucapnya sambil tersenyum dan menatap ke arah Nada.


"Ayo masuk," ucap Nada sambil menarik tangan Micel ke ruangannya.

__ADS_1


"Kemana Kak?" tanya Micel.


"Ke ruangan kakak," jawab Nada.


Micel tersenyum, kemudian mengikuti langkah Nada menuju ke ruangannya. Mereka sampai diruang kerja Nada. ruangan yang luas yang tertata rapi, setara dengan ruang kerja kakaknya di rumahnya. Micel mengedarkan pandangannya. Menatap arsitek yang sangat indah dan memukau.


"Kak, yakin kakak hanya karyawan?" tanya Micel. Nada meletakan jus di atas meja dan tersenyum ke arah Micel.


"Apa status kakak penting?" tanya Nada.


"Bagi aku tidak penting, karna aku sangat bahagia punya kakak," ucap Micel sambil meraih Nada dan memeluknya. Nada menghela napas panjang.


"Tapi, mungkin bagi mama sangat penting," ucap Micel. Dia tau bahwa Mamanya adalah tipikal orang pemilih. Dia hanya mau berbaik hati pada orang yang selevel dengannya.


"Biarlah mama menganggap kakak apa," ucap Nada.


"Tapi kakak harus menunjukannya," ucap Micel. Nada tersenyum ke arah Micel.


"Biarkan mama tau dengan sendirinya.


"Apa kakak bahagia?" tanya Micel.


"Iya, kakak bahagia, apalagi punya adik sebaik kamu," ucap Nada.


Micel melepaskan pelukan nya mencoba mencari kebenaran di mata Nada. Yang benar saja, tidak ditemukan kebohongan disana.


"Kakak, terimakasih karena kakak mau menjadi bagian dari kami, aku bahagia. Aku tau kesulitan kakak, aku yakin kakak kesulitan menghadapi sikap Kak Marvel dan Mama," ucap Micel


Nada tersenyum, ia sudah faham arah pembicaraan Micel. Dia memeluk Micel, gadis yang baru saja dikenalnya dan telah menjadi adik iparnya.


"Hei, jangan mengkhawatirkan kakak. Kakak akan memenangkan hati kakakmu, kamu tenang saja gadis kecil. Mungkin saat ini kakak belum mendapatkan hati kakak mu, tapi kakak bahagia memiliki adik sepertimu, memiliki kakek dan nenek juga Mama. Doakan kakak, kakak akan berusaha memenangkan hati kakak mu, sampai kakak lelah dan benar-benar menyerah,"

__ADS_1


Micel mengeratkan pelukan nya, dirinya bahagia mendapatkan kakak ipar yang baik seperti Nada.


__ADS_2