
"Kakak bisa menghubungiku, selamat bekerja kakak cantik," ucap gadis cantik itu kemudian melangkah pergi.
Nada tersenyum, dan memandang dua gadis cantik itu dengan tenang.
Tak lama dari itu, terdengar deringan ponsel dari sakunya. Nada menggeser tombol hijau, Nada memandang wajah ibu tercinta yang tersenyum di depan layar ponsel HP nya.
"Halo, assalamualaikum Bu," sapa Nada sambil mendudukan diri kursi putarnya.
"Waalaikumsalam sayang," sapa ibunya sambil tersenyum. Rasa rindu menggebu, melihat putrinya menikah adalah impian. Kabar Nada menikah adalah kebahagiaan tersendiri, meskipun dirinya tak bisa memyaksikannya.
"Sepertinya kamu bahagia, apa malam tadi terlewati dengan bahagia?" tanya ibunya sambil tersenyum. Nada memejamkan matanya, bayangan Radit menari di otaknya. Dia memang sangat bahagia semalam. Nada terdiam dan menatap ibunya dengan tenang.
"Ibu bahagia melihatmu bahagia, ibu berharap kamu bahagia selalu. Lupakan Rafa," ucap ibunya.
Deg, mendengar nama Rafa membuat Nada tersenyum dan menatap ibunya. Perasaan yang masih sama saat mendengar nama itu. Bahkan, dengan menghibur diri dan mencoba menjadi wanita penggoda pada Raditpun tak lantas bisa membuatnya lupa pada lelaki itu. Apa jahat sekali dia? Ya, menggoda Radit adalah cara dirinya mengalihkan perhatian dari Rafa. Apa salah? Entahlah, yang jelas Nada meniatkan untuk beribadah. Bukankah tidak salag juga menggoda suami sendiri?
"Doakan Nada Bu," ucapnya pelan.
"Maaf Nona Nada, ada Tuan Vino mau bertemu," ucap seorang karyawannya yang kini berdiri di sampingnya. Nada menoleh dan tersenyum.
"Oh, iya. Bilang padanya sebentar lagi saya datang kesana," ucap Nada pelan.
"Siapa yang datang?" tanya ibunya sambil tersenyum.
"Customer Bu," ucap Nada. Ibunya tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Ya sudah, temui dia. Ibu tidak mau mengganggu waktumu, bahagia selaku sayang, " ucap ibunya.
"Sampai jumpa nanti lagi, Bu. Sampaikan salam aku sama orang di rumah," ucap Nada.
"Iya, jangan lupa luangkan waktu untuk pulang bersama suami." ucap ibunya lagi.
Nada tersenyum dan mengangguk. Setelah mengakhiri obrolan dengan ibunya, Nada berjalan menuju ke ruangannya. Nada tersenyum dan menyapa orang yang duduk di kursi.
"Selamat sore, Tuan Vino," ucap Nada menyambut.
"Aku baik, Bagaimana kabar kamu?" tanya Vino.
"Alkhamdulilah Aku baik. Silahkan duduk kembali," ucap Nada.
"Tuan Vino dari mana? tumben ada waktu mampir kesini?" tanya Nada sambil memperlihatkan wajah sumringahnya.
"Wah, kebetulan sekali saya hari ini free," ucap Nada sambil meletakkan minuman di atasan meja.
"Wah, kebetulan yang membahagiakan," ucap Vino sambil memandang Nadaa.
Keduanya membahas tentang acara fashion mode yang akan diselenggarakan. Membahas kerja sama mereka.
😍😍😍😍😍
Radit dan Dani membereskan beberapa berkas di atas meja, seketika Dani dan Radit menoleh ke arah pintu yang menampakan wajah segar kakeknya.
__ADS_1
"Kakek, ada apa?" Radit berdiri dan menyambut kakeknya dengan tenang.
"Marvel, nenekmu ingin makanan yang dimasakan istrimu, sejak tadi dia tidak mau makan," ucapnya sambil menatap Radit dengan tenang.
Radit mengernyitkan dahinya. Sejak kapan neneknya suka makanan yang dimasakan orang, selain masakan art?
"Okey, biar nanti aku bilang padanya untuk memasak lagi, nanti biar diantar Dani ke rumah, " ucap Radit.
"Heh, mana bisa begitu, selain ingin makanannya, nenek juga ingin berkenalan dengannya. Jadi, bawa istrimu ke rumah," ucap kakeknya.
Radit terpaku, dia enggan mempertemukan Nada dengan Mira entah apa alasan hatinya, lalu bagaimana bisa dia melakukannya, jika kakek meminta membawa Nada ke rumah itu?
"Tapi, Kek,"
"Kakek dan nenek bukan orang jahat, sepertinya kau pelit sekali memperkenalkan istrimu pada kami. Jemput dia sekarang dan bawa ke rumah," ucap kakeknya sambil menepuk pundak Radit kemudian melangkah pergi.
Radit terdiam dan menatap ke arah Dani.
"Apa?" tanya Dani sambil tersenyum.
"Kau tau dimana tempat kerja wanita itu?" tanya Radit. Dani tersenyum dan memberikan alamat butik pada Radit. Radit mengambil dan memperhatikan nama butik itu.
"Sheyna bountique? Jadi dia salah satu karyawan di butik teekenal itu?" tanya Radit. Dani tersenyum dan memandang bosnya.
"Segera jemput dia, atau kau mau aku yang menjemput?" goda Dani kemudian melenggang pergi.
__ADS_1
😍😍😍
Ritual...ritual... 😍😍😍😍