Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 134


__ADS_3

Radit dan Nada mengamati orang di depannya, mau apa kesini? Bahkan dirinya tak pernah mengatakan jika adiknya kecelakaan. Hubungannya dengan Micel yang tak dekat membuat dirinya tak pernah membeberkan identitas Micel pada orang lain. Lalu apa tujuan mereka ke sini? pertanyaan yang ada di dalam benak Radit.


"Om Pradikta, Vino. Ada apa?" tanya Radit sambil menjabat tangan Radit dan Tuan Pradikta.


"Marvel, ada yang ingin kami bicarakan," ucapnya sambil menatap ke arah Radit dengan khawatir.


Radit terdiam dan hanya memandang ke arah anak dan ayah itu. Ada sesuatukah? Kenapa tampaknya sangat serius sekali?


"Okey Om, Vino, kita cari tempat yang nyaman." ucap Radit. Pandangan matanya masih menyimpan beberapa pertanyaan.


"Maaf Yang, sebaiknya aku kembali," ucap Nada pada Radit.


Tuan Pradikta menatap ke arah Nada, orang yang di idam-idamkan jadi menantunya. Akan tetapi kedekatan Radit dan Nada yang menjadi misteri sejak acara grand openeing tadi, sudah di jawab oleh Vino ketika dalam perjalanan ke sini. Kata Vino, Nada dan Radit telah menikah dan itu membuat hati Tuan Pradikta sedikit kecewa.


"Iya, istrahatlah dulu," ucap Radit sambil mengusap pelan puncak kepala Nada.


Pak Pradikta menghela napas panjang, bahkan Radit tak sungkan bersikap mesra pada Nada di depannya? Mungkin memang bukan Vino yang ditakdirkan menjadi jodoh untuk Nada. pikirnya.


Nada menatap ke arah Vino dan papanya, mengatubkan tangannya dan pamit undur diri. Nada bahkah sebelumnya mencium tangan Radit tanpa sungkan. Apa yang harus ditutupi di depan mereka? Toh memang Vino dan papanya sudah tau status pernikahannya.


"Maaf Om, Vino, saya pamit dulu," ucapnya dan dijawab dengan aggukan oleh Tuan Pradikta dan di jawab senyuman oleh Vino.


Nada melangkahkan kaki indahnya menuju ke arah rumahsakit lagi. Tak lupa dirinya membawa roti bakar selai coklat yang tadi diberi oleh Rafa.


"Kita duduk di kafe sana saja agar lebih rilek," ucap Radit lagi sambil mengarahkan tangannya ke kafe yang masih buka di sebrang jalan. Kedua orang yang diajak bicara mengangguk dan mengikuti langkah Radit.


Mereka duduk di kursi cafe dan memesan kopi. Radit menatap kedua orang di depannya dengan sedikit khawatir.


"Jadi ada apa Om? Ada apa datang ke sini?" tanya Radit sambil mengaduk kopi di depannya. Pelanyan baru saja mengantarkan kopi itu di meja.


Tuan Pradikta tampak menghela napas panjang, sepertinya dia mencari bahasa yang tepat untuk mengatakan pada Radit tujuanya datang menemuinya.


"Jadi sebanarnya kedatangan kami kesini untuk meminta maaf," ucap Tuan Pradikta dengan senyuman yang dipaksakan. Sepertinya mereka berdua tampak syok, entah baru saja mengalami kejadian apa, Raditpun tak tau.


"Minta maaf? Untuk apa Om? Kalian tidak melakukan kesalahan apapun, lalu untuk apa minta maaf?" tanya Radit sedikit membenahi posisi duduknya yang dirasa tidak nyaman karna ucapan lelaki paruh baya itu.


"Bukankah adikmu kecelakaan?" tanya Tuan Pradikta lagi sambil mengamati wajah Radit yang masih saja terlihat bingung.

__ADS_1


"Iya, adik saya kecelakaan. Bahkan dia amnesia," ucap Radit tampak prustasi.


Vino menghela napas dalam-dalam mendengar penuturan Radit. Pak Pradikta juga melakukan hal yang sama. Separah itukah?


Mereka takut, jika Radit akan marah bila tau Emely yang menabraknya. Sama seperti Reaksi asistenya hingga harus meyekap Emely dan terjebak dalam sebuah pernikahan. Padahal, perjodohan Emely dengan putra kawannya hanya menunggu waktu. Pak Pradikta bingung menghadapi masalah ini juga.


"Nak Marvel, sebenarnya yang menabrak adikmu adalah Emely," ucap Pak Pradiktaa sambil mengusap kasar wajahnya.


Deg


Jantung Radit bergetar hebat, Emely? Radit memejamkan matanya dan megeratkan tangannya. Bagaimana dia harus bersikap? Emely? wanita manja itu adalah salah satu wanita yang begitu manja padanya, bahkan dia adalah wanita yang pernah mengatakan kekagumannya pada dirinya. Akan tetapi, setatus dirinya yang berteman dengan Vino membuat Radit hanya menganggap Emely sebagai adiknya.


Micel? Dia adalah wanita manja yang ternyata adalah adik kandungnya sendiri. Adik yang mempunyai ikatan darah yang sama dengannya. Lalu, bagaimana dirinya harus bersikap?


Radit mencoba menahan diri, walau bagaimanapun kecelakaan tak ada yang mau. Lagi pula Micel juga salah, dia menyebrang tanpa melihat jalan. Lagi pula Micel juga sudah sadar meskipun dirinya tengah menderita amnesia.


Deg,


Radit membelalakan matanya lebar-lebat. Jika yang menabrak Micel adalah Emely, bukankah Dani menikah dengan Emely? Radit memejamkan matanya. Emely yang sempat akrab dengan Radit itu pernah bercerita pada Radit bahwa mamanya menjodohkannya.


Dia tak sanggup menolak perjodohan itu dan pada akhirnya Emely menerima perjodohan itu.


"Jadi Emely yang menabrak?" tanya Radit memastikan.


"Lebih tepatnya tidak sengaja, tidak sengaja menabrak. Dan karna ketidak sengajaan ini membuat saya pusing sekali Marvel. Maka dari itu saya kesini untuk meminta maaf agar mengurangi beban saya," ucap Pak Pradikta.


Radit menghela napas panjang, bagaiamana semua ini bisa terjadi? Bagaimana bisa Dani harus menikah mendadak, bagaimana juga harus Dani pasangan dari Emely? Astaga Dani. Lagi-lagi Radit mengusap kasar wajahnya, benar-benar tidak habis pikir.


"Jadi Asistenku menikah dengan Emely?" tanya Radit dan diangguki oleh Tuan Pradikta prustasi.


"Ardani Rahardian Wijaya?" tanya Radit memastikan.


"Ya, Asistenmu yang menyebalkan itu menyekap adikku di sebuah rumah di desa terpencil yang kemudian di gerebek warga. Warga pikir mereka pasangan mesum," sahut Vino emosi saat mengingat tingkah Dani. Orang yang menyebalkan dan terpaksa menjadi adik iparnya.


Radit tampak berpikir, kata Dani waktu itu polisi memberikan jalan damai karna sama-sama korban dan sama-sama rugi. Lalu, bagaimana bisa dia tak terima? Seharusnya dia menerima dengan lapang dada, tapi kenapa malah seperti ini? Hais, asistenya itu terkadang otaknya satu langkah lebih maju dan seenak jidatnya sendiri.


"Aku juga minta maaf atas kelancangan asistenku, jika di kepolisiaan di beri jalan damai, seharusnya dia mematuhi. Tapi rasa sayangnya pada orang yang dianggap saudara nyatanya membuat dirinya bertindak ceroboh sekali," ucap Radit sambil memejamkan matanya. Memijit pelipisnya yang berdenyut sakit.

__ADS_1


"Jadi kau tidak marah?" tanya Vino sambil menatap ke arah Radit. Radit membalas tatapan sahabatnya itu dan tersenyum singkat.


"Kau pikir aku sepicik itu? Korban kecelakaan adalah adik kita, bahkan sekarang Emely mendapat masalah seperti ini karna ulah asistenku, lalu masihkah aku menuntut sesuatu?" tanya Radit.


Vino menghela napas panjang, begitupun dengan Tuan Pradikta. Radit yang biasanya ambisius nyatanya sekarang tampak banyak berubah. Pasti semua karna Nada, wanita itu benar-benar bak malaikat yang begitu sangat mempesona.


"Jadi kau memaafkan Emely?" tanya Tuan Pradikta dan diangguki senyuman.


"Emely sudah saya anggap sebagai adik sendiri Om, lagi pula ini tidak disengaja. Aku tidak tidak mau juga masalah ini diperpanjang, kasihan Emely. Pasti dia tersiksa karna ulah asistenku," ucap Radit sambil membayangkan wajah Dani yang saat itu menakuti Nada.


"Hem, sangat menyebalkan," batin Radit.


"Vel, ini ada titipan buket bungan dari Emely untuk adikmu. Dia juga menitip salam permaafan karna telah menabrak adikmu, dia merasa bersalah. Sebenarnya dia ingin menemui adikmu, tetapi sayangnya ini semua terjadi," ucap Vino sambil menyerahkan buket bunga yang indah pada Radit.


Radit menatap ke arah Vino dan memandang bunga yang indah itu. Dipastikan Micel sangat menyukainya. Micel adalah pecinta bunga dan merawat bunga dengan telaten.


"Kau tidak bercita-cita untuk melihatnya? Sekalian aku kenalkan dia padamu, dia adik kandungku. Adik yang aku pikir beda ayah, ternyata kami satu ayah. Bahkan kecelakaan ini terjadi juga membawa suatu hikmah tersendiri untuk kehodupan kami," ucap Radit pankang lebar.


"Kau serius?" tanya Vino sambil menatap Radit.


"Hem," jawab Radit.


"Aku akan membawakan es krim, kali aja dia suka," ucap Vino.


"Kau pikir anak tk? Dia hampir wisuda, Tuan Rezidhan Alvino Pradikta," ucap Radit sambil menatap ke arah Vino dengan wajah dongkolnya.


Vino menautkan alisnya, dia pikir adik dari sahabatnya itu masih kecil.


"Wisuda?" tanya Vino memastikan.


"Hem, bulan depan acaranya. Umurnya baru dua puluh tahun, tapi karna kerja kerasnya dia mampu menyelesaikan dua tahun saja S1." Radit berucap panjang dan lebar sambil mengamati wajah Vino yang tampak antusias dan penasaran.


"Okey aku ikut," ucapnya sambil menatap ke arah Radit.


"Kalau begitu papa langsung saja, Vino. Orang papa sudah kesini. Mengobrolah kalian, lama jiga kalian tak bersama. Papa akan mengurus masalah lainya," ucap Tuan Pradikta kemudian berlalu pergi.


Radit dan Vino berjalan ke arah dimana adiknya dirawat.

__ADS_1


😍😍😍🎀🎀


__ADS_2