Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 67


__ADS_3

Kenapa juga harus mengurung kakak iparnya di dalam kamar? Aku harus memberinya pelajaran.


Micel mendekat ke arah Nada dengan langkah tenang, Micel segera menghampiri kakak iparnya yang terbaring lemah. Linangan air mata menghiasi wajahnya, kakaknya benar-benar keterlaluan. Micel mengamati perempuan cantik yang memejamkan matanya tersebut. Sangat cantik.


"Beruntung kakak memiliki istri sepertinya, kenapa malah menganiaya?" lirih Micel. Micel mengusap air mata di pelupuk matanya. Bahkan selama ini kakaknya tidak pernah menganggap dirinya. Lalu, bagaimana nasip kakak iparnya? Pasti sangat menyedihkan, mempunyai suami seperti kakaknya.


Ceklek,


Pintu kamar terbuka dan menampakan sosok Mira. Teriakan Micel membuat Mira terkejut dan nendatangi asal suara.


"Micel, apa yang kau lakukan?" tanyanya tampak tak suka melihat kebaikan Micel pada Nada.


"Aku menolongnya, kasihan Ma. Tampaknya kakak ipar menahan sakit," ucap Micel.


"Pergi ke kamarmu sekarang," titah Mira.


"Tidak," jawab Micel tegas.


"Mama bilang pergi," bentak Mira lagi.


"Aku bilang tidak, aku ingin menunggu kakak ipar. Mama juga kan yang meminta bibi tidak membuka pintu? Apa salah kakak ipar?" bentak Micel.


"Micel, tinggalkan tempat ini," ucap Mira lagi. Micel mengusap air matanya. Dia melangkah pergi. Mira, wanita keras itu selalu seenaknya sendiri. Micel merasakan sesak yang mendera, diapun melangkah pergi.


😘😘😘😘

__ADS_1


Radit melirik jam tangan yang menunjukan pukul 04.00. Entah apa yang bergelayut di pikirannya. Radit merasakan gelisah dan ingin secepatnya sampai di rumah, berharap wanita yang selalu membuatnya emosi itu tidak apa-apa.


"Shitt," umpat Radit saat dirinya mendapati rambu-rambu lalu lintas yang mendadak merah. Beberapa menit saja membuat darahnya seakan mendidih. Gemuruh di dada seakan membuatnya semakin sesak. Beberapa menit kemudian, rambu-rambu berubah hijau.


Radit kembali menancap gas mobilnya dan membelah jalanan nan sepi, dengan kecepatan yang tinggi. Dua puluh menit berlalu, Radit sampai di depan rumah.


Micel berpapasan dengan Radit yang terburu masuk ke dalam. Keduanya saling menatap lekat.


"Kau berurusan dengan aku jika terjadi apa-apa dengan kakak ipar," tegas Micel.


Radit tampak terdiam, biasanya adiknya itu tidak setegas ini. Ada apa sebenarnya?


Radit melangkah, menabrak separuh badan Micel, Micel memejamkan matanya. Kakaknya benar-benar menyebalkan.


Radit melirik ibunya dan menatap dengan sorot mata yang tajam.


"Apa yang anda lakukan disini? Keluar sekarang juga," ucap Radit. Mira memejamkan matanya dan melangkah pergi tanpa menjawab sepatah katapun. Mira, wanita itu hendak memastikan bahwa Radit mengabaikan Nada, namun ternyata tak sejalan dengan kenyataannya.


Radit mengunci pintu kamarnya dan kembali berjalan ke arah dimana Nada terbaring. Diusapnya wajah cantik yang berbalut kerudung itu dengan tangan kanannya. Radit berjongkok dan mencium kening Nada. Dirasakan sebuah kenyamanan disana.


"Ehhh,,," suara Nada terdengar. Radit segera duduk dan menggenggam tangan Nada. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.


Nada mengerjabkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk dalam penglihatannya.


"Yang!!" ucap Nada ketika netranya jelas memandang ke arah Radit. Nada berusaha bangun, namun keadaannya yang lemah membuatnya kesulitan. Radit mendekat dan membantu Nada untuk duduk. Kedua pasang mata itu saling menatap. Lama, sehingga keduanya terhanyut dalam sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan.

__ADS_1


Nada mengalihkan pandanganya dan mendorong Radit menjauh darinya. Radit merasakan sesak di dadanya. Apa Nada marah padanya?


"Bagaimana bisa kamu disini? Pergilah," ucap Nada lemah saat dirinya mengingat hal yang membuatnya harus terbaring. Radit sedikit beraksi dan duduk di ranjang, membuat gadis cantik itu beringsut mundur.


"Pergi aku bilang, kenapa masih disini!" bentak Nada, Nada merasa geram melihat Radit di depannya. Dia meninggalkan dengan seenak jidatnya dan sekarang datang seakan malah menguji kesabarannya.


Radit menatap ke arah Nada dan merasa terkejut ketika melihat Nada yang mencoba bangkit. Dengan cepat Radit menahan bahu Nada dan menekannya agar tetap di posisinya. Hal itu membuat Nada histeris, bayangan perlakuan kasar Radit malam itu menghantui otaknya, bahkan perlakuan keterlaluan Radit yang mengurungnya juga menyisakan luka di hatinya. Tubuh Nada bergetar hebat, tatapan matanya tajam memandang Radit dan mencoba memberontak.


"Apa yang kau lakukan? Pergi aku bilang!" tegas Nada. Radit menghela napas panjang, apa Nada sebegitu kecewa sehingga seperti ini? batin Radit bertanya tanya.


"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu," ucap Radit dengan lembut. Nada menghentikan gerakannya memberontak. Mata mereka saling menatap, saling beradu, hingga Nada menitihkan buliran Air mata yang jatuh tanpa diminta.


Radit merasa sedikit panik saat buliran air mata terus saja mengalir dengan sorot mata yang masih saja tajam, Radit mengusap air mata dengan lembut. Diraihnya Nada dalam dekap hangatnya.


Nada memejamkan matanya merasakan detak jantung nya tak beraturan, sakit, takut, semua bercampur menjadi satu. Nada mencoba menguasai hatinya. Mencoba menerima dekapan hangat Radit yang memang sanggup memberikan kenyamanan.


Nada kini menatap wajah Radit. Wajah tampan yang kini sangat dekat denganya. Deruan Napas Radit terdengar di telinga Nada. Hembusan napas Radit terasa di wajahnya. Nada memejamkan mata indahnya.


"Tuhan, mampukah aku untuk tetap berada di sampingnya?" lirih Nada di tengah isak tangisnya.


😘😘😘😘😘


Like komen jo kendor yokk..


.

__ADS_1


__ADS_2