
Di pelataran Sheyna bontique. Radit tengah memarkirkan mobilnya dengan binar mata yang begitu menyilaukan. Radit melirik ke arah Nada yang masih terlihat tampak pucat.
"Kau yakin mau bekerja hari ini?" tanya Radit dan diangguki oleh Nada.
"Hem, aku tidak papa. Lagi pula aku membawa obat. Kamu jangan mengkhawatirkan aku," ucap Nada sambil tersenyum.
"Okey, aku harap kamu benar-benar tidak apa-apa," harap Radit. Seluas senyuman terbit dari bibir indahnya. Segera Radit turun dari mobilnya. Dengan elegan dia mengibaskan jasnya. Radit membuka pintu untuk Nada. Nada tersenyum tipis dan keluar dari mobilnya. Keduanya saling menatap lekat.
Nada meraih tangan Radit dan menciumnya, Radit merasakan debaran jantung yang bermaraton. Tangannya ingin menyentuh puncak kepala Nada, akan tetapi tertahan sehingga dia hanya bisa mengepal kuat.
"Aku masuk dulu yang," ucap Nada sambil tersenyum. Radit mengangguk, Nada melangkahkan kakinya.
"Hati-hati Dear," ucap Radit.
Deg
Nada menghentikan langkah kakinya. Apa tadi?Dear? Apa Radit tidak salah minum? Aish, Nada masih bergulat dengan pemikirannya sendiri. Tiba-tiba Radit ada di depannya. Nada terkejut dan menatap Radit dengan perasaan yang campur aduk.
"Ada apa?" tanya Nada.
Radit memajukan kepalanya dan mencium puncak kepala Nada dengan mesra. Ada sebuah kenyamanan yang didapatnya pada posisi seperti ini. Apa yang dia rasakan sama persis saat mengecup kening Nada seusai ijab qobul pernikahan beberapa hari yang lalu.
Nada merasakan jantungnya berdetak hebat, biasanya dia yang menggoda Radit. Tapi semua seakan berbalik arah. Nada segera menjauh. Dia tidak sanggup bila harus menamakan wajah merahnya di depan Radit.
"Aku ke dalam dulu, yang," ucap Nada dan diangguki oleh Radit.
Radit menatap punggung wanita cantik yang menghilang dari pandangannya. Dipandangnya butik kekinian yang begitu megah itu. Butik belantai lima dengan arsitek yang menawan dan bertuliskan Sheyna bontique. Segera Radit kembali ke mobil dan melesat menuju ke arah MRD group.
😍😍😍😍😍
Nada melangkahkan kakinya dengan tenang menuju ke ruangannya. Karyawan Nada menyambutnya dengan senyum, Nada membalasnya dengan senyuman yang menawan.
Nada masuk ke dalam ruangannya, dan meletakan tasnya di atas meja.
Beberapa saat kemudian terdengar deringan ponsel yang begitu nyaring. Nada segera mengambil ponselnya yang memperlihatkan nama ayah disana. Segera Nada menggeser tombol hijau dan meletakan ponselnya di telinganya.
"Halo assalamualaikum ayah," sapanya dengan lembut.
"Nad, kamu baik-baik saja?" tanya ayahnha. Nada mengernyitkan dahinya.
"Iya, Nada baik-baik saja Yah, kenapa? Ayah merindukan aku?" tanyanya narsis.
__ADS_1
"Ayah hanya merasa tidak enak saja semalam, ayah pikir terjadi sesuatu denganmu, mengingat ayah melihat tak terjadi apapun dengan ibu dan kakakmu," ucap ayahnya. Nada memejamkan matanya. Begitulah ikatan darah, bahkan apa yang dirasakan Nada pasti sampai di batin orang tuanya.
"Nada baik-baik saja yah. Ayah sudah sarapan? Apa perlu Nada mengantar makanan untuk ayah?" tanya Nada sambil mendudukan dirinya di kursi putarnya.
"Ayah sudah sarapan, hari ini ayah akan kembali. Apa kamu bisa bertemu ayah sebelum ayah berangkat?" tanya ayahnya.
"Malam yah?" tanya Nada.
"Hem," ucap ayahnya.
"Nada akan kesana selepas dari butik," ucap Nada.
"Okey, kalau begitu selamat bekerja Nak. Aassalamualaikum,"
"Waalaikumsalam ayah," ucap Nada kemudian mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja.
"Pagi Bu Nada," Sifa tampak cantik dengan jilbab cantik duduk di depan Nada.
"Pagi, Sifa. Cantik amat," ucap Nada sambil tersenyum.
"Sudah mendingan, Sifa sepertinya nanti aku tidak bisa datang ke kantor Pradikta Groub. Apa kamu bisa menggantikan aku?" tanya Nada.
"Kenapa begitu Nad?" tanya Sifa antusias.
"Aku ingin istrirahat," jawab Nada santai.
"Okey, aku akan menggantikanmu nanti," ucap Sifa dan diangguki oleh Nada.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" Nada menatap ke arah Sifa yang sepertinya menyimpan sesuatu yang ingin dilontarkan.
"Kemarin ada laki-laki yang menyebalkan masuk kesini, apa dia benar mempunyai izin darimu?" tanya Sifa dengan hati-hati.
"Siapa?" tanya Nada.
"Dia bilang dia membereskan kekacauan dan sudah mendapat izin darimu," Nada tampak berpikir kemudian menatap ke arah Sifa dengan tenang.
"Apa dia muda?" tanya Nada.
"Hem," jawab Sifa.
__ADS_1
"Menyebalkan?" tanya Nada.
"Hem," jawab Sifa
"Tampan?" tanya Nada lagi.
"Hem," jawab Sifa lagi. Nada tertawa dan sukses membuat Sifa menatap ke arah Nada.
"Apaan sih nad? Malah tertawa," ucap Sifa.
"Aku kaget aja sih, aku pikir saat menyebalkan kau tak melihat ketampananya. Ternyata kau masih bisa menilainya," ucap Nada sambil menggelengkan kepalanya.
"Apaan sih Nad, malah godain, nyebelin juga lama-lama," ucap Sifa lagi.
Nada tersenyum dan memandang Sifa dengan tenang.
"Dia Dani, asisten pribadi suamiku," ucap Nada dengan tenang.
"Apa dia mengganggumu?" tanya Nada.
"Enggak, hanya saja membuat aku muak," ucap Sifa sambil memanyunkan bibirnya.
"Hem, dia memang sangat menyebalkan, memuakkan," ucap Nada kemudian meraih beberapa berkas di atas meja.
"Yasudah, aku hanya mau bertanya itu saja, aku kembali ke ruangan," ucap Sifa dan diangguki oleh Nada.
"Sifa," panggil Nada.
"Ya," jawab Sifa sambil memutar tubuhnya.
"Jangan benci-benci, nanti cinta lo," goda Nada. Sifa menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja sahabatnya itu.
😍😍😍😍😍
Mira berkutat dengan komputer yang berada di depannya. Deringan ponsel berbunyi dan menampakan nama Roland disana, Mira menghela napas panjang Apa dia akan diperas lagi?
😆😆😆
Eng ing eng... ritual ko kendor ya gesss 😁😁😁😁
kira-kira siapa ya yang menelpon Mira? 🙈🙈
__ADS_1