
"Micel, Awas," Vino berteriak dan membuat Micel menoleh. Micel memeluk erat balita lima tahun itu sambil mencoba melawan.
Vino menatap waspada ke arah lelaki bertubuh besar yang kini menyerangnya. Akan tetapi, hatinya menghawatirkan Micel yang kini semakin dekat dengan manusia jahat yang berlarian mendekat dan berusaha untuk memukulnya.
Bug
Vino menendang dada orang di depannya sehingga orang itu mengeluarkan darah segar dari mulutnya dan ambruk ke belakang.
Vino berlari ke arah dimana Micela berada, akan tetapi, Nicho sahabat baiknya sudah terlebih dulu mendekat ke arah Micel. Nicho melindungi Micel yang tengah menggendong balita lima tahun itu.
Vino memejamkan matanya, seakan terbakar api, Vino merasakan sesak yang menghujam hatinya. Perasaan macam apa ini? Vino mematung, bahkan dirinya tak sadar seseorang yang berada di belakangnya membawa balok kayu yang besar.
Micel tampak terkejut, ingin berteriak tetapi mulutnya seakan kelu. Ingin berlari, dia berada di jangkauan yang jauh. Micel menghela napas dalam-dalam.
"Kak Vino, awas!!!" Teriak Micel. Vino tersentak dan segera menoleh. Vino memutar tubuhnya dan dengan cekatan menepis tangan orang yang ada di belakang. Mengambil alih balok kayu dan memberikan pukulan ke arah orang tersebut.
Micel menghela napas lega, entah kenapa dirinya merasakan lega melihat suaminya baik baik saja. Vino melirik ke arah Micel yang juga menatapnya, keduanya saling memandang dan entah perasaan apa yang menyelinap masuk di hati keduanya.
Terdengar bunyi sirine polisi yang mendekat, membuat para penjahat itu berlarian untuk menyelamatkan diri.
Vino berjalan mendekat ke arah Micel dengan hawatir, entah kenapa dirinya yang terkejut mendapati Micel yang mampu bela diri tampak bangga dan ingin memeluk erat istrinya.
__ADS_1
Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika melihat Nicho yang baru saja menumbangkan seseorang juga mendekat ke arah Micel dan menatap lekat ke arah Micel. Mengusap peluh Micel yang ada di pelipisnya karena Micel kesulitan mengusap peluh itu karena menggendong seorang balita di tangannya.
Micel menatap ke arah Nicho dengan tenang, menatap Nicho membuat dirinya seakan sudah terbiasa melakukan ini semua. Apa pernah mereka melakukan ini sebelumnya?
Di saat itu, seorang polisi dan seorang ibu muda berjalan ke arah Micel.
Ibu muda itu mengambil alih putrinya dari tangan Micel dan berterimakasih. Polisi menatap ke arah Micel dan Nicho bergantian.
"Terimakasih telah membantu Nona dan Tuan, kalian hebat. Pasangan yang serasi, semoga kalian langgeng sampai nanti," ucap wanita itu.
Deg
Tanpa menunggu apapun, Vino melangkah pergi. Rendi menatap kepergian kakaknya, dia tau kakaknya sepertinya tengah cemburu. Seulas senyum terbit dari bibir Rendi, tapi entah kenapa juga, dia merasakan sakit saat melihat Micela bersama dengan lelaki lain.
"Sama sama Mbak, lain waktu dijaga putrinya dengan baik," ucap Micel dengan tersenyum.
Pak polisi menjabat tangan Micel dan Nicho kemudian tersenyum.
"Terimakasih Tuan Nicho dan Nona Micela," ucap polisi itu. Nicho mengangguk pelan dan tersenyum. Kenapa hanya mereka berdua? Padahal Vino dan Rendi juga menolong. Micel merasakan sesak, dia menatap punggung Vino yang semakin menjauh.
"Maaf, saya harus permisi pak Polisi, Kak Nicho," ucap Micel kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
nikho menghela napas panjang, rasa sesak menyeruak di dadanya.
"Andai kamu tidak hilang ingatan Micel, pasti kamu sangat bahagia," ucap Nicho lirih. Pak polisi meneruskan berbincang dengan Nicho sedang Micel berlari mengejar langkah Vino.
"Kak," Micel mengejar langkah Vino dan berdiri di depan Vino. Menghentikan langkah Vino yang sejak tadi mengabaikan panggilannya.
"Kak, lihat lenganmu. Kau harus segera mendapatkan perawatan," ucap Micel sambil menatap ke arah lengan Vino yang menyedihkan.
"Kau tidak perlu menghawatirkanku," ucap Vino datar kemudian melanjutkan langkahnya. Micel memejamkan matanya, apa dia sangat keterlaluan hari ini?
"Kak, kau marah?" tanya Micel. Vino yang tadi berjalan dan memasukkan tangannya di saku celana berhenti dan menunduk, menatap ke arah Micel.
"Apa pantas aku marah? Bukankah ini maumu? Bebas melakukan apapun?" tanya Vino dengan senyuman sinisnya.
Micel memejamkan mata indahnya, apa begini rasanya sakit hagi? Rasa sesak menyeruak, bahkan bukan bahagia yang dia dapat saat Vino mengabaikan dirinya. Bukankah ini kemauannya?
"Kak, aku minta maaf. Aku sadar aku salah, aku... "
"Bukankan kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini? Tidak Bahagia dengan larangan yang aku buat? Sepertinya aku tidak perlu lagi menghawatirkan keselamatanmu, kau bisa diandalkan untuk menjaga dirimu sendiri," ucap Vino kemudian melenggang pergi.
Micel terdiam, menatap Vino yang berjalan menjauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1