
Nada melangkahkah pelan menuju ke arah dimana Sifa bercengkrama dengan seorang wanita cantik yang membelakanginya. Dari belakang, wanita itu tampak cantik sekali. Segera Nada ingin bertemu dengannya.
"Kenapa buru-buru sekali Nona Zifa?" tanya Sifa yang sejak tadi membujuk Zifana untuk tetap tinggal. Zifana sepertinya sudah sangat tidak nyaman. Dia takut jika harus berhadapan dengan Nada saat ini.
"Sepertinya atasan Anda masih sangat sibuk, sedangkan saya masih ada beberapa acara," ucap Zifana sambil tersenyum.
"Tidak juga Nona, maafkan saya yang lama datang. Tadi ada sedikit urusan dengan suami saya," ucap Nada yang menyahut ucapan orang itu kemudian berhenti tepat di depan Zifana.
Zifana dan Nada saling berpandangan, keduanya saling menatap dan saling terkejut. Bahkan Zifana pun tak menyangka bahwa Nada ada di depannya dengan tersenyum. Akan tetapi, perlahan senyuman Nada menghilang tergantikan dengan sebuah perasaan kecewa yang mendera.
Masih sangat kental diingatan Nada, dia harus disekap di sebuah gudang yang asing dan menakutkan. Untung saja dia bisa selamat karna bantuan suami tercinta, bahkan Vino dan Delon. Menatap ke arah Zifana membuat rasa sesak menyeruak di dadanya.
"Maaf Nada, aku tau sepertinya sangat tidak tau diri sekali saat aku harus duduk di sini dengan percaya diri bahwa kamu akan menerima kerja sama denganku. Sebenernya aku sudah ingin pergi sejak tadi, tapi...."
"Duduklah Nona Zifana," sahut Nada sambil tersenyum sangat mempesona. Bahkan dia ingat betul bagaimana Zifana secara tak sengaja juga menyelamatkannya dengan menjatuhkan pisau kemudian mengajak Gino menjauh darinya.
Deg
jantung Zifana seakan sesak seketika, bukan makian yang dia dapatkan, akan tetapi sebuah sambutan baik dari Nada.
"Maaf Nada, aku tidak bisa duduk di depanmu dengan percaya diri. Aku sangat malu dengan ulahku kemarin, kamu boleh saja melaporkanku. Aku akan tetap di sini dan tak akan pergi sampai polisi datang, untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku," ucap Zifana dengan tenang. Sifa mengerutkan keningnya. Apa yang dilakukan wanita di depannya sehingga mengatakan hal yang seperti itu? Nada tersenyum kembali. Dia sangat marah, akan tetapi dia cukup tau bahwa Radit sudah memberikan hukuman setimpal untuk keluarganya.
Di posisi yang sedang sangat berada di bawah untuk saat ini, dan Zifana masih bisa berpikir baik dan sepertinya sangat tulus, membuat Nada tergerak untuk profesional dalam bekerja.
"Maaf Nona Zifana, aku tidak ingin membahas hal lain di sini, hanya ingin membahas Sheyna bontique dan Zif bontique. Sudah bisa kita mulai?" tanya Nada sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Zifana memejamkan matanya, rasanya sesal beeputar di otaknya. Kenapa dia pernah buta menilai Nada? Bahkan Nada sangay terhormat dan elegan sekali dengan setiap hal. Bahkan dia sangat menjunjung atitude.
Fik, Nada memang wanita sempurna yang mampu membuatnya merasa iri. Bahkan dirinya sangat sombong, angkuh dan merasa di atas angin. Pantas saja, lelaki yang tadi berada di sampingnya tadi dengan ketus dan sangat jelas sekali mengatakan bahwa dirinya angkuh dan sangat sombong.
Zifana tak lagi bisa menjawab, dengan pelan dia memberikan proposal pengajuan kerja sama. Menjelaskan dengan gamblang dan sangat mudah di terima oleh Nada dan Sifa. Nada mengangguk, ada sebuah kekaguman pada Zifana yang mampu memberikan kesan di hatinya.
"Aku rasa sebenarnya kau sangat baik, akan tetapi kau teejerumus di sebuah keadaan yang menjadikanmu mempunyai sikap yang angkuh. Semoga saja suatu saat nanti, ada pangeran yang mampu membawamu dalam sebuah kelembutan Nona Zifana," batin Nada.
"Terimakasih Nona Zifana, aku terima kerja sama ini. Semoga ke depan lebih baik lagi," ucap Nada sambil menanda tangani beberapa berkas kesepakatan.
"Nona Zifa, dan Nona Nada, saya undur diri dulu," ucap Sifa dan diangguki oleh kedua wanita cantik itu. Sifa yang merasa ada sesuatu diantara mereka segera pergi. Sepertinya keduanya membutuhkan waktu untuk sekedar saling bercengkrama.
"Nada, aku minta maaf." Zifana menatap Nada yang baru saja selesai menanda tangani berkas di meja dan melipatnya.
Nada menatap Zifana dan meletakan berkas itu di dalam tas kerjanya. Dipandang dengan lekat wajah cantik wanita yang kini menggerai rambut panjangnya itu.
"Tapi aku sangat keterlaluan, bahkan aku mungkin sangat sulit untuk dimaafkan Nada," ucap Zifana.
Nada tersenyum dan menatap Zifana dengan tenang.
"Bagiku orang yang mau mengakui kesalahan dan mau memperbaiki diri itu jauh lebih baik dari pada orang yang berbuat kesalahan tetapi dia bersikap abai. Kamu punya kesempatan untuk memperbaiki dirimu Zifa, punya kesempatan untuk menjadi manusia lebih baik lagi. Bukan hanya padaku, tapi pada Tuhanmu dan pada orang yang pernah kau lukai," ucap Nada panjang lebar.
Zifana memejamkan matanya, ucapan wanita di depannya bagai skak yang mampu membuatnya tak mampu lagi menjawab. Bahkan selama ini dia lupa pada Sang Maha pencipta. Masih pantaskah dia untuk kembali?
Zifana membuka matanya kemudian berdiri dan mendekat ke arah Nada. Dia berdiri, Nada juga ikut berdiri.
__ADS_1
"Nada, boleh aku memelukmu?" tanyanya sambil berkaca. Entah, Zifana yang selama ini tak pernah meneteskan air mata. Tiba tiba saja meneteskan air mata di pipinya. Hidup bersama dengan dua laki-laki yang keras dan mendidiknya penuh dengan ketegasan, membuat dirinya seakan keras dan angkuh.
Nada tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.
Radit yang saat ini melihat pemandangan ini dari atas hanya tersenyum tipis. Nada selalu bisa membawa diri dan memberikan kehangatan untuk orang yang berada di dekatnya. Tak disangka, Zifana manusia angkuh itu bahkan bisa berubah. Tadinya Radit ingin mendekat dan mengusir Zifana, akan tetapi percakapan dua wanita itu membuat dirinya mengurungkan niatnya.
Gino dan Tuan Sinatria sudah mendapatkan hukuman, sepertinya memberikan kesempatan pada Zifana tak ada salahnya. Lagi pula selama ini Zifana tak pernah mengganggunya secara langsung, atau mencoba menggoda atau melakukan hal nekat.
"Maafkan aku Nada, aku harap kamu selalu bahagia bersama Marvel, menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah. Semoga baby dalam kandunganmu juga sehat selalu," ucap Zifana saat berada dalam dekapan Nada.
"Terimakasih Zifa, semoga kamu juga segera mendapatkan jodoh," ucap Nada sambil tersenyum.
"Amin, terimakasih Nada," ucap Zifa kemudian melepas pelukannya.
🎀🎀🎀🎀🎀
Radit menghela napas panjang, semoga hidupnya lebih baik kedepannya. Zifana sepertinya bukan lagi bahaya baginya. Yang masih dalam benaknya adalah Micel. Vino? Sepertinya dia harus bicara dengan sahabatnya itu.
Radit mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Vino disana.
"Kau dimana?" tanyanya.
"Aku di apartemen," jawabnya.
"Tunggu aku di sana, aku kesana sekarang juga,"
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀