Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Untuk Mama Elina


__ADS_3

"Nah kan, mati," ucap Davina lagi sambil menatap ke arah Micela yang kini menatap ke arah Alda dan Aldi.


Micel terkekeh melihat tingkah Davina yang jengkel. Sejak tadi wanita cantik itu mengawasi ponsel Micel.


"Kak, kenapa seperti security saja, menunggu ponselku," ucap Micela sambil mengarahkan pandangan matanya pada Davina.


"Adel, ponselmu menarik perhatian kakak. Kau dipanggil panggil oleh Mama dan kakak. Tapi tidak segera diangkat," ucap Davina sembari duduk di samping Micela dengan membawa setoples makanan.


Micel melirik ponselnya, sebenarnya dia tau kedua mamanya menghawatirkannya. Tapi dia masih saja sebal dengan kelakuan suaminya yang sangat menyebalkan itu.


"Angkat saja, kasian mereka," ucap Davina lagi. Micela terdiam dan menatap ke arah wanita dewasa yang berkisar umur dua puluh sembilan tahun itu.


"Adel, kau tau. Keinginan sederhana kakak semenjak kecil?" tanya Davina sambil menggenggam tangan Micela dengan erat. Micel menatap ke arah kakak ipar dari Nicho itu.


"Apa Kak?" tanya Micela dengan antusias.


"Keinginan kakak sejak kecil adalah menerima telepon dari Mama," ucap Davina sambil menatap lekat ke arah Micela yang menatapnya dengan lekat.


Deg, Micel merasakan desiran rasa sakit yang tersirat dalam ucapan Davina.


"Mama?" tanya Micel lagi.


"Hem, dari mama dan papa. Dan kakak tidak pernah merasakannya." jawab Davina. Micela menatap ke arah Davina, dia teringat ucapan Nicho tadi, bahwa kakak iparnya sejak kecil hidup di panti.


"Sejak usia sembilan tahun, kakak hidup di panti. Kakak tidak tau siapa orang tua Kakak, tidak tau bagaimana rasanya memanggil Mama," ucap Davina sambil menatap ke arah Alda dan Aldi.


"Sembilan tahun?" tanya Micela.


"Hem, bahkan mama mertua kakak juga sudah tiada sebelum kakak berjodoh dengan Kak Vito," jawab Davina. Micel menganggukan kepala.


"Jadi sebelumnya kakak bersama keluarga?" tanya Micela lagi.


"Menurut cerita ibu panti begitu. Kakak di temukan di pinggiran jalan, kakak mengalami trauma sejak di temukan hingga kakak susah untuk beradaptasi dengan orang baru. Tapi, setelah kakak sembuh, kepingan masa kecil tidak kakak ingat. Bahkan Kakak hanya ingat bahwa nama kakak adalah Vina, dan ibu panti menambahkan nama Da di depannya," ucap Wanita cantik itu sambil tersenyum bahagia.


"Sampai sekarang kakak tidak ingat?" tanya Micel. Davina menggelengkan kepala.


"Kakak tidak ingat apapun," jawabnya.


"Kakak tidak berusaha mengingatnya?" tanya Micela.

__ADS_1


"Yang kakak ingat jika kakak memaksakan mengingat adalah sebuah adegan kekerasan yang dilakukan sekelompok orang jahat, dan kakak tidak mau lagi mengingat itu," ucap Davina.


Micel menatap Davina dengan tenang, kalau begitu Micel akan meminta mama atau mama mertuaku menelpon kakak. Lain waktu aku akan mengenalkan mereka pada kakak," ucap Micel sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Davina. Davina tersenyum bahagia.


"Terimakasih Micel, kakak bahagia mendengarnya. Kau tau mempunyai suami, adek ipar, Alda dan juga Aldi adalah hal yang sangat membahagiakan. Kehilangan mereka mungkin hal yang sangat berat, kadang kakak memposisikan diri menjadi orang tua kakak. Bagaimana sedihnya mereka kehilangan kakak, jadi kamu juga harus memposisikan diri sebagai orang tuamu juga. Pasti mereka sangat sedih dan hawatir tidak mendapatkan kabar darimu sejak siang," ucap Davina.


Micel menghela napas panjang dan tersenyum ke arah Davina.


"Terimakasih kak, seharusnya aku bersyukur dan menghargai keberadaan mereka, Mama, Mama mertua yang sangat baik," ucap Micel.


Micel mengulurkan tangannya mengambil ponsel dan mengirimkan pesan kepada Mama dan Mama mertuanya.


Asalamualaikum Mama. Maaf Ma, Micela ada perlu tadi, hingga meninggalkan ponsel di tas. Micel akan segera pulang. Maaf membuat Mama hawatir. Tulis Micel di ponselnya dan mengirimkan kepada Mama dan Mama mertuanya.


"Mama mertua?" tanya Davina antusias.


Micel mengangguk pelan. Davina memejamkan matanya sejenak. Setaunya, Nicho menyukai Micel. Nicho dekat Dengan Micel di perguruan milik Nicho dan sering mengajak Micel ke sini. Benarkah hampir dua bulan tak bertemu, sekarang Micel telah menikah? Davina menghela napas panjang. Entahlah, biarkan mereka sendiri yang memikirkan. Yang penting hubungan persahabatan mereka baik baik saja.


Tak berapa lama kemudian, deringan ponsel dari Mama Elina terdengar. Micel segera menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.


"Asalamualaikum Ma," jawab Micel dengan tenang.


"Sayang, kamu dimana? Apa perlu Mama menjemputmu?" tanya Mama Elina dengan panik.


"Pulang sekarang juga," tegas Mama Elina. Micel tau, mertuanya sangat menghawatirkan dirinya.


"Iya Ma, Micel pulang sekarang, Micel pulang untuk Mama Elina," jawabnya sambil tersenyum.


"Mama tunggu kedatanganmu, asalamualaikum," ucap mamanya kemudian menutup ponselnya. Micel menghela napas panjang dan menatap ke arah Davina. Memberi pesan WA pada Mama Mira bahwa dia akan kembali ke mansion Pradikta.


"Aku akan pulang kak," ucap Micel. Davina menepuk pundak Micel.


"Bahagialah bersama Mama dan Mama mertua selagi ada," ucap Davina. Micel mengangguk.


"Alda, Aldi. Aunty Adel pulang, coba peluk dan pamit dulu sayang," teriak Davina pada kedua putra dan putrinya.


Kedua balita lima tahun itu mendekat ke arahnya.


"Aunty pulang? Besok main lagi ya," ucap Alda. Micel berjongkok dan menatap dua bocah kecil itu.

__ADS_1


"Aunty akan mengusahakan, baik baik kalian ya, jangan nakal" ucap Micel sambil menatap sayang ke arah kedua bocah itu. Mencium mereka bergantian.


Setelah selesai berpamitan, Mereka berjalan ke arah depan.


❤❤❤❤


Laju mobil Vino yang berkecepatan tinggi membelah jalanan. Vino melacak keberadaan Micel lewat GPS yang ada di ponsel istrinya itu. Bersama Nicho? Di puncak?


Vino mengepalkan tangannya, emosi memenuhi otaknya. Apa yang mereka lakukan? Nicho? Pantaskah disebut sahabat jika dia saat ini bersenang senang bersama dengan istrinya?


Beberapa jam berlalu. Vino menghentikan laju mobilnya di halaman Vila yang luas. Dari arah yang berlawanan, mobil mewah milik seseorang juga berhenti.


Vino keluar dari mobil dengan tergesa, Mobil di depannya tadi ternyata milik Vito. Nicho dan Vito keluar dari mobi juga.


Mereka sama-sama mendekat. Vito tampak bingung dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Dimana istriku berada?" tanya Vino sambil menatap tajam ke arah Nicho yang tampak datar datar saja. Vito memandang ke arah Vino dan Nicho bergantian. Bukankah mereka adalah sahabat baik? Dari empat bersahabat, Nucho bercerita bahwa Vino yang sangat akrab dengannya.


"Istri?" tanya Nicho lagi dengan suara yang tidak enak di dengar oleh telinga Vino.


"Jangan banyak bicara, dimana Micela sekarang?" tanyanya lagi.


Vino dan Nicho saling berpandangan tajam. Vino terdiam, perasaan aneh dan sakit menjalar di hatinya ketika mendengar ucapan Nicho. Status sebagai suami Micela membuat perasaannya tak menentu ketika Nicho seakan menyepelekannya.


Vito yang memang belum tau Micel telah menikah memandang ke arah adiknya. Setaunya Micel dan Nicho teman dekat, di padepokan yang dimiliki oleh Nicho. Apa sudah gila adiknya? Kenapa membawa istri orang? Apalagi sahabatnya sendiri? Sebegitu butakah cinta Nicho pada Micel Adelia? Entah, Vito masih tampak menyimak perdebatan mereka.


"Lelaki macam apa yang mengabaikan keberadaan istrinya?" tegas Nicho. seulas senyum sinis menghiasi wajahnya ketika melihat Vino tampak mengeratkan rahang dan mengepalkan tangannya.


"Itu bukan urusanmu!" ucap Vino tegas.


"Jika kau membuat Micela menangis itu menjadi urusanku," sentak Nicho. Ucapan Nicho bagaikan goresan luka yang semakin di perlebar di hatinya. Vino merasakan sesak yang mendera, melirik ke arah Nicho yang memasang wajah dinginya.


Vito hanya diam menatap Nicho dan Vino bergantian, rasa sesak menggelayuti dirinya. Meskipun tak tau bagaimana kebenarannya, sangat jelas sekali mereka terjebak dalam cinta segitiga.


Vino mengeratkan kuat-kuat rahangnya, rasanya dirinya tengah di permainkan oleh sahabatnya. Vino meraih kerah baju Nicho memberi satu pukulan yang membuat sudut bibir Nicho berdarah. Tak tinggal diam, Nicho juga melakukan hal yang sama. Mereka saling mencengkram dan saling beradu kekuatan.


"Jangan memancing masalah jika kau masih mau hubungan kita baik baik saja, Micela istriku dan selamanya akan seperti itu," tegas Vino.


Cih, Nicho berdecih mengangkat kepalan tangannya lagi. Ingin dia menghabisi Vino saat ini juga.

__ADS_1


Hentikan!!!


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2