Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Membangkang 3


__ADS_3

Vino membelalakan matanya melihat pemandangan yang ada di ponsel milik asisten pribadinya. Bagaimana bisa istrinya tengah pergi bersama dengan Rendi? Vino menghela napas kasar, melempar ponsel Willy ke meja dengan kasar.


Willy terkejut dan mendekat ke arah ponselnya di meja, masih baik baik saja kan kau? Tidak retak karna ulah Tuan Vino kan? Willy mengambil ponselnya dan menatap ke arah Tuannya, protespun sia sia. Sepertinya Vino tengah tidak baik baik saja.


Vino meraih ponselnya dan memanggil nama Mbak Arina, tak lama kemudian deringan ponsel diangkat oleh pemilik ponsel.


"Halo Tuan Vino," jawab suara di sebrang sana.


"Halo Bi, apa perintah yang aku berikan padamu? Bukankah aku memintamu untuk menjaga Nona Micela agar tidak pergi? Kenapa kamu membiarkanya pergi?" sentak Vino pada mbak Arina.


"Maaf Tuan Vino, tapi Nona Micel mendapat izin keluar dari Tuan besar dan Nyonya besar. Saya tidak bisa melarangnya, kata Tuan besar anda bisa protes langsung kepadanya kalau mau protes," ucap Mbak Arina terdengar gugup.


Vino mengusap kasar wajahnya, kenapa papa dan mamanya membiarkan Micel keluar? Tidak taukah jika diluaran sana berbahaya untuk Micela istrinya? Istri? Benarkah seperti itu? Tidak taukah dia meminta Micel agar selalu di mansion karna keamanan di mansion sangat terjaga? Vino menutup panggilan ponselnya kemudian menekan kontak Rendi.


Rendi tersenyum tipis melihat kontak Tuan Vino yang terhormat memanggil dirinya. Dengan tenang dia menggeser tombol hijau.


Sudah dia pastikan kakak angkatnya itu akan menelpon dirinya. Rendi tersenyum, kemudian memutar setiran untuk memarkirkan mobil karna dirinya dan Micel sudah sampai di tempat yang di tuju.


"Halo kak," sapa Rendi dengan tenang.


Micel menautkan alisnya, mendengar panggilan kakak yang diucapkan Rendi. Siapa? Entahlah, bukan urusanya. Micel kembali melihat pemandangan di luar yang menyejukan matanya. Sambil menunggu mobil berhenti dan dia akan segera ke luar.


"Dimana kau sekarang?" tanya Vino pada adik angkatnya itu.


"Apa urusanmu Kak?" goda Rendi.


"Katakan saja, bukankah kau bersama dengan nya?" tanya suara di sebrang sana.


Rendi melirik ke arah sepion, Micel terlihat tampak tenang memandang luar ruangan. Entah bagaimana, melihat wanita itu begitu sangat menyita perhatiannya.


Micel yang menyadari mobil berhenti segera bersiap turun. Melihat Rendi tengah sibuk menelpon diapun hanya diam, mengambil tasnya kemudian membuka pintu mobil. Micel turun kemudian berjalan menjauh dari Rendi.


"Dengan siapa Kak? Kalau ngomong yang jelas, biar aku paham," goda Rendi lagi.


Rendi selalu seperti itu. Kelakuan konyol dan kocaknya selalu membuat Vino sebal. Rendi diangkat anak saat dirinya menghilang dulu, menghilang dan terjerumus dalam lembah hitam yang salah.


"Ren plise," suara di sebrang tampak tidak mau diajak bercanda. Rendi terkekeh pelan.


"Iya Kak, aku bersama Kakak Ipar. Papa dan Mama memintaku untuk menemaninya, katanya kau sibuk dan meninggalkannya sejak malam," ucap Rendi.


"Dimana? Jangan berbelit-belit Ren," sentak Vino.

__ADS_1


Rendi terkekeh pelan dan menghela napas kasar.


"Di Mol dekat sheyna bontique, kakak mau menyusul? Sebenarnya jika tidak menyusulpun tak apa, aku bisa menjaganya," ucap Rendi kemudian menutup ponselnya.


Deg


Jantung Vino seakan terhantam batu besar, bagaimana bisa Rendi mengucap seperti itu? Tidak sungkankah dia? Rasa sesak menyeruak di dadanya, entah karena apa.


Segera Vino menutup ponselnya, melirik jam yang menunjukan pukul 09.00. Vino berdiri dan meraih kunci mobilnya.


"Kau mau kemana?" Willy menatap ke arah atasannya dengan tenang.


"Aku harus pergi, kau hendel kantor dengan baik. Lagi pula tak ada masalah yang serius, aku akan menyusulnya," ucap Vino kemudian melangkah pergi. Willy tersenyum tipis, melihat Vino yang seperti ini mengingatkannya pada masa itu. Masa dimana Vino tengah jatuh cinta pada Asyla.


😍😍


Micel melambaikan tangannya pada Nada yang kini berdiri di dekat mobil. Dilihatnya kakak iparnya tampak cantik dengan balutan gamis bunga bunga yang indah.


"Pagi Kak," Micel mencium pipi kanan dan pipu kiri Nada. Membuat seulas senyuman indah untuk kakak iparnya.


"Pagi Sayang," jawab Nada.


"Jadi Kita mau ngapain?" tanya Nada pada adik cantiknya itu.


"Maaf Mas, ada yang bisa kami bantu?" tanya Nada. Micel yang tadi tak tau apapun kini tengah menatap ke arah dimana Nada menoleh. Matanya membelalak sempurna saat melihat ke arah Rendi yang berdiri dibelakangnya.


"Rendi, kenapa mengikutiku?" Micel tampak membelalakan mata indahnya, menatap tajam ke arah Rendi yang menyedekapkan tangannya di dada. Micel melirik penampilan asisten pribadi mertuanya itu, kaos oblong celana pendek. Haish, maco sekali. Pasti jika teman teman kuliahnya ada disini, Rendi sudah menjadi rebutan.


"Sudah aku bilang, aku ditugaskan untuk mengikutimu Nona Cantik," ucapnya sambil tersenyum. Nada menggelengkan kepalanya, sepertinya adik iparnya tak sadar kalau dia sudah menjadi istri. Kelakuanya sama saja sebelum menikah.


"Micel, biarkan saja dia menjalankan tugasnya. Dia juga tidak mengganggu," ucap Nada.


Micel tampak memejamkan mata indahnya, tidak mengganggu?


"Dengarkan apa kata kakakmu?" ucap Rendi dengan wajah menyebalkannya. Rendi tersenyum menang ke arah Micel.


"Aku terganggu Kak," kesalnya kemudian melangkah masuk.


Nada menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah Micel, dia mengimbangi langkah adik iparnya.


"Micel, kamu itu sudah menikah. Bukan lagi anak kecil, kenapa masih kekanak kanakan?" Nada berbicara, Micel menatap ke arah kakak iparnya dan menghentikan langkah nya.

__ADS_1


"Begitu kah Kak?" tanyanya. Nada menghela napas panjang, tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya.


"Tidak tau saja kakak, kalau aku tidak pernah dianggap ada dalam pernikahan ini," keluh Micel dalam hatinya. Mereka berjalan mengelilingi mol, mencari sesuatu yang dibutuhkan.


Dua jam berkeliling mol membuat Nada dan Micela kelelahan, beberapa paperbag berjejer rapi diatas meja. Nada hanya menggelengkan kepalanya melihat belanjaan adik iparnya. Mereka menunggu pesanan makanan, yang tadi mereka pesan.


"Micel, kenapa belanja banyak sekali?" tanya Nada saat melihat banyak paper back berjejer itu.


"Biarin, aku mau Rendi yang membawanya." ucap Micel. Nada lagi lagi hanya bisa tersenyum.


Micel juga hanya tersenyum memandang kakak iparnya. saat itu pelayan datang dan memberikan pesanan mereka. Merekapun menyantap makanan favoritnya.


"Micel,"


"Hem,"


"Kamu bahagia?" Nada menatap adik iparnya dengan tenang. Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat Micel terdiam. Bahagia? Entahlah.


"Kakak sendiri bagaimana? Apa kakak ku yang tampan masih juga belum bisa dihubungi?" tanya Micel.


Nada tertawa mendengar celoteh Micel, kenapa ditanya malah balik bertanya? Nada hanya tersenyum. Tak lama dari itu Rendi datang ia mengambil beberapa paperbag di meja.


"Hai, sudah selesai makan?" tanyanya.


"Sudah, kamu mau makan?" tanya Micel.


"Aku sudah makan, lebih baik kita pulang saja, takutnya Tuan Vino menunggu," ucap Rendi.


"Pulang saja duluan, aku masih mau berbincang dengan kakakku," ucap Micel. Nada tersenyum dan menatap ke arah adik iparnya.


"Sepertinya kakak harus beranjak sekarang, ini sudah siang dan kakak ada pertemuan dengan klien," ucap Nada sambil berdiri membawa dua paper bag.


Micel yang kasihan pada kakak iparnya yang tampak kecapean menatap ke arah Rendi.


"Rendi, sebaiknya kau bantu kakak ipar. Taruh juga belanjaku di mobil. Aku masih ingin di sini," ucap Micel dan dianguki oleh Rendi. Micel menatap ke arah kakak iparnya.


"Kakak hati hati ya," ucapnha sambil mencium pipi Nada.


"Kamu juga, sampai jumpa lagi. Asalamualaikum," ucap Nada kemudian melangkah pergi bersama dengan Rendi.


Micel memejamkan mata indahnya, sebentar rasa sesak di dadanya hilang. Tapi, masih saja rasa sesak itu kembali.

__ADS_1


Di sana, di luar restauran, dia melihat seorang lelaki tinggi besar mengintai seorang ibu yang membawa tas mahal. Dipastikan isinya barang berharga. Ibu itu juga menggendong balita. Entah kenapa darahnya seakan mendidih, Micel berdiri dan mendekat ke arah wanita itu. Berharap dia tidak terlambat datang nantinya.


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2