
Micel segera berlari ke arah mobil belakang, ditatapnya orang yang dia ketahui bernama Pak Amar sedang fokus menatap ke depan. Micel tampak terkejut.
"Selamat pagi Nona Muda, jadi kita mau kemana?" tanya lelaki itu pada Micela dengan tenang.
Micel membelalakan matanya, Pak Amar? Dia pikir sudah tua, perut buncit kepala botak. Jadi Pak Amar setampan ini? Sepertinya usia lelaki itu tak jauh berbeda dengannya.
"Pagi, anda Pak Amar?" Micel tampak menautkan alisnya. Inginya kabur dan menikmati udara luar yang pastinya sangat segar. Akan tetapi sepertinya menyenangkan juga jika harus bersama dengan orang yang kata mertuanya bernama Amar itu.
Lelaki itu tersenyum, diliriknya kaca sepion yang menampakan wajah cantik Micela istri kecil dari kakaknya. Rendi menerawang jauh memikirkan suatu kejadian beberapa menit yang lalu.Ya, Dia adalah Rendi Alaska.
"Ren," panggil Mama Elina pada Rendi. Anak Asuh dari Mama Elina dan Papa Pradikta yang selama ini menjadi asisten pribadi papa Pradikta.
"Iya Ma, ada yang bisa Rendi Bantu?" tanya lelaki tampan berusia dua puluh tiga tahun itu. Lelaki yang selisih lima tahun dari Vino.
"Ren, Bisa Mama minta bantuan padamu untuk menemani Micel? Sepertinya Kakakmu ada urusan dengan Willy sehingga tadi malam meninggalkan rumah," ucap Mama Elina dengan tenang.
"Rendi? Apa tidak salah Ma?" tanya Rendi dengan tenang.
"Salah bagaimana? Bahkan Mama Rasa Micel aman jika bersama denganmu, mau siapa lagi? Biar Pak Amar mengantar Papa," ucap Mama Elina.
"Rendi takut saja kalau Kak Vino bakalan marah istrinya pergi bersama Rendi Ma," sahut Rendi.
Mama Elina tersenyum dan menatap ke arah putra angkatnya itu. Putra angkat yang diangkatnya sejak usia lima belas tahun.
"Sebenarnya Mama dan Papa ada Misi," ucapnya sambil tersenyum.
"Misi?" tanya Rendi.
"Hem, Mama takut saja jika niat Kak Vino menikah itu salah. Pernikahan Kakakmu terkesan sangat terburu, mama hanya ingin tau adakah rasa cinta untuk Micela atau tidak, Mama tidak mau Micela tersakiti. Karna sampai saat inipun kakakmu belum bisa diajak bicara," ucap Mama Elina.
"Jadi?"
"Jadi Mama ingin memastikan Bahwa kakakmu mencintai Micela atau tidak, jika iya maka mama sangat bahagia. Jika belum, tugasmu adalah membantunya untuk membuka hati pada istrinya," ucap Mama Elina.
"Jadi Mama mau aku membuat Kak Vino cemburu begitu?" tanya Rendi. Mama Elina tersenyum dan mengusap pelan pundak putra angkatnya.
"Mama rasa kau cukup pandai untuk memikirkannya, Mama yakin kau paham." Mama Elina melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Rendi. Rendi segera melangkah menuju ke parkiran mansion Pradikta.
Micel menatap ke arah orang di depanya dengan geram. Kenapa orang itu malah melamun?
"Apa perlu aku menyetir sendiri? Kenapa kau diam saja Pak Amar?" sentak Micel pada Rendi. Membuat lelaki dua puluh tiga tahun itu menoleh ke belakang.
"Maaf, Nona. Saya menggantikan Pak Amar untuk mengantar Nona. Perkenalkan, nama saya Rendi, asisten pribadi Tuan Pradikta," ucap lelaki tampan itu sambil mengulurkan tangannya pada Micel.
Micel membelalakan mata indahnya, jadi Rendi adalah asisten pribadi Papa Mertuanya dan harus mengantarkan dirinya? Astaga, jadi tidak enak kalau dia harus kabur dan dilaporkan pada Papa Mertuanya nanti.
Micel melihat uluran tangan Rendi dan tersenyum, tidak membalas uluran tangan Rendi, Micel menatap Rendi dengam senyum indahnya.
"Aku Micel, Micela Adelia," ucap Micel dengan tenang.
__ADS_1
"Jadi kita akan kemana Nona Micel?" tanya Rendi pada Micel.
Micel menghela napas dalam dalam. Micel meraih ponselnya. Beberapa pesan dan panggilan dari Vino masib saja dia abaikan.
"Kita ke Mol saja," ucap Micel.
"Baik Nona Cantik, kita berangkat," ucap Rendi kemudian menancap gas mobilnya.
Micel menyandarkan tubuhnya, memandang pemandangan luar. Ke Mol? Sebenarnya tidak ada tujuan apapun. Micel mengambil ponselnya dan menghubungi kontak Kak Nada, kakak iparnya.
Nada yang kini baru selesai sarapan pagi menatap ke arah Ponselnya yang terus saja berdering. Dilihatnya kontak Micel memanggil dirinya. Segera Nada mengulurkan tangannya, memgambil ponsel yang ada di atas meja.
"Halo Micel, ada apa sayang?" tanya Nada sambil mengusap usap perutnya.
"Kak, aku mau ke Mol. Bisa temenin aku? Kalau bisa aku jemput," ucap Micel di sebrang sana.
Nada menghela napas panjang, hari ini banyak kesibukan di jam siang. Bertemu dengan beberapa klien Sheyna bontique.
"Kakak sibuk?" tanya Micel lagi. Nada tersenyum tenang.
"Kakak akan sempatkan waktu untukmu, kita bertemu di sana ya," ucap Nada. Micel terdengar tertawa bahagia.
"Terimakasih Akak, aku tunggu di sana. Ajak juga Kak Marvel, bilang padanya aku minta jatah bulanan," canda Micel pada Nada. Nada yang semula tersenyum kini tampak bersedih. Semalam dirinya sulit sekali memejamkan matanya, bahkan sampai saat ini Radit belum juga bisa di hubungi.
"Kak, aku bercanda," Micel yang tak kunjung mendengar jawaban Nada tampak hawatir.
"Lalu kakak kenapa diam?" tanya Micel.
"Kakakmu pergi ke luar kota semalam," jawab Nada. Dadanya terasa sesak, dia sangat merindukan suaminya. Bahkan Radit benar benar tidak bisa dihubunginya.
Micel tersenyum, dia tau arah pembicaraan kakaknya. Kakak dan Kakak iparnya adalah pasangan yang saling mencintai, apagi kakak iparnya sedang hamil. Dipastikan mereka saling merindukan.
"Kakak jangan bersedih, kakak bersiaplah. Kita bertemu sekarang," ucap Micel.
"Okey, kakak akan bersiap sayang, asalamualaikum," ucap Nada.
"Waalaikumsalam kak," jawab Micel kemudian menutup ponselnya.
"Bukan kakak saja yang kesepian. Aku juga merasakannya," ucap Micel lirih kemudian menyandarkan tubuhnya. Semula Micel yang tampak ceria kini tengah berkaca kaca.
Nada dan Radit saling merindukan. Sedangkan dirinya? Bahkan entah bagaimana suaminya dia tak tau, rindu atau tidak? Entahlah.
Air mata Micel luruh tanpa diminta, Micel memejamkan matanya sejenak. Rendi yang mengetahui Micel menangis tampak tersentak, diambilnya tisue di jok depan dan mengulurkan tisue itu pada iparnya.
Micel tampak mengabaikan uluran tangan Rendi. Merasa diabaikan, Rendi melempar tisue itu ke belakang hingga tisue itu mendarat di pangkuan Micel.
"Aduh," keluh Micel saat kotak tisue itu sedikit memberikan hentakan di tangannya.
"Aku bisa memgambil sendiri nanti," ucap Micel sedikit ketus dan sanggup menerbitkan seulas senyuman di bibir Rendi. Melihat Micel sanggup menerbitkan kebahagiaan tersendiri di hati Rendi.
__ADS_1
"Aku diperintahkan untuk meladenimu Nona cantik. Jangan mempersulit pekerjaanku," ucap Rendi dengan Ramah.
Ponsel Micel kembali berdering, lagi lagi nomor baru memanggilnya. Lagi lagi juga Micel mengabaikannya.
😆😆😆😆
Vino membolak-balikan berkas yang dibawa Willy kepadanya dengan Emosi. Dia sangat geram karna Micel tak mengangkat telpon darinya. Willy yang melihat tingkah atasanya hanya garuk kepala. Bagaimana bisa dia seperti itu? Willy Vino yang tampak sebal, sedangkan Vino menatap Willy yang tersenyum senyum sendiri.
"Kenapa kau senyum-senyum tidak jelas?" sentak Vino pada asistennya itu.
"Aku heran saja melihatmu seperti itu, apa yang kau pikirkan? Kau menyesal semalam meninggalkan istrimu?" tanya Willy.
"Apa yang membuat mu heran? Aku baik baik saja," ucap Vino.
"Sepertinya aku bahagia melihatmu merindukan Micela," ucap Willy.
Uhuk-uhuk
Vino tersedak udara mendengar pengakuan Asisten pribadinya itu, bagaimana bisa dia terlalu jujur mengatakan hal itu padanya.
"Aku tidak merindukannya," sanggah Vino.
"Jangan bohong," sahut Willy.
"Sudah aku katakan aku tidak bohong, bukankah kau tau kalau aku hanya ingin menjaganya? Kenapa masih saja menggodaku?
Willy tersenyum puas, menggoda Vino. Tampak wajah Vino yang memerah menahan emosi. Willy tertawa melihat tingkah bosnya.
"Aku rasa kau itu tidak beres, mengaku saja,"
Willy menepuk pundak Vino, Vino menepis tangan Asistennya itu.
"Aku sudah katatakan aku baik baik saja, jangan menggodaku,"
"Itu mulutmu yang mengatakan, tapi aku rasa hatimu tak karuan," ucap Vino.
Willy tersenyum dan berlalu, Vino mengacak-acak
rambutnya, bayangan Micela menari-nari dipikiranya.
"Willy, coba kau hubungi Rendi. Suruh dia cari tau keberadaan Micela," pinta Vino. Willy menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Vino. Diraihnya ponsel yang ada di saku celana.
Willy mengirim pesan pada Rendi. Tak lama dari itu Rendi mengirimkan Poto dirinya yang berada di mobil bersama Micel.
Willy membelalakan matanya, Vino yang menyadari keanehan Willy segera mendekat.
"Ada apa?" tanya Vino. Willy terdiam, Vino segera mengambil ponsel Willy dari tangan lelaki itu.
🤣🤣🤣
__ADS_1