Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 135


__ADS_3

Nada yang baru saja meninggalkan gerombolan suami beserta Vino dan papanya, berjalan menuju ke arah koridor rumah sakit di mana Micel dirawat. Micel tampak bercengkrama dengan kakek dan Nenek saat dirinya hendak menuju ke dalam. Nada mengurungkan niatnya dan berhenti di depan pintu.


Astaga, Nada merasa pusing kembali melanda kepalanya. Nada terhuyung mundur, untung saja seseorang menahan dirinya.


"Maaf, saya tidak sengaja," ucapnya sopan kemudian memutar langkahnya menatap ke arah dimana seseorang itu berdiri.


Nada sedikit terkejut saat melihat ibu mertuanya berdiri di depannya.


"Ma-ma," ucapnya sambil tersenyum canggung. Nada memejamkan matanya. Mamanya hanya diam kemudian menyerahkan segelas teh yang tadi dibelinya untuk Nada.


"Sepertinya Kau perlu istirahat, wajahmu pucat sekali, minumlah ini supaya menghangatkan tubuhmu," ucapnya datar. Nada memandang teh yang berada di cap plastik bening itu.


Tangannya seakan sungkan untuk menerimanya.


"Ambilah dan segera istirahat," ucap Mama Mira sambil tersenyum. Nada masih terpaku, benarkah ini adalah mertuanya? Kenapa dia masih saja tidak percaya dengan pemandangan di depannya? Astaga, Nada benar-benar terkejut.


"Iya Ma, aku juga akan segera istirahat." jawabnya kemudian tersenyum juga ke arah wanita paruh baya itu dengan tenang. Nada juga mengambil cap berisi teh hangat itu.


"Sebaiknya kamu istirahat di hotel, di sini kurang nyaman untuk istirahat," ucap mamanya lagi. Meski masih sangat kaku, tapi sedikit perhatian yang ditunjukan dari ibu mertuanya membuat dirinya terbang melayang.


"Tapi Mas Marvel belum datang, aku pulang bersama dirinya saja," ucap Nada santun.


"Ya sudah, terserah padamu," ucap Mira kemudian yersenyum tenang dan melangkah pergi.


"Ma," panggil Nada pada Mira.


"Ya, terimakasih karna mama memberi ini," ucap Nada sambil tersenyum.


"Sama-sama Nad," ucap Mira kemudian hampir masuk ke dalam ruangan Micel.


Akan tetapi, Nada yang tampak berlari ke sebuah toilet dan tampak lemas sekali membuat Mira mengikiti langkahnya. Dilihatnya Nada memuntahkan isi perutnya di washtapel.


Berulang kali Nada mengelap mulutnya dan memegang perutnya yang sangat mual. Mira yang tampak khawatir segera mensekat ke arah dimana menantunya berada dan memijat tengkuk Nada yang tengah memuntahkan isi perutnya.


Nada tampak teekejut, jadi ibu mertuanya telah benar-benar berubah? Nada memejamkan matanya. Ternyata seperti ini di sayang dan diperhatikan oleh mertua, sangat membahagiakan.


Nada mengelap mulutnya kemudian menatap ibu mertuanya dengan tenang.


"Ma, maaf aku merepotkan mama," ucap Nada.

__ADS_1


Mira hanya diam, mengamati wajah Nada yang tenang dan sangat menentramkan. Dilihatnya wajah cantik yang selalu meneduhkan itu.


"Sepertinya kamu sakit Nad, coba diperiksakan." ucapnya sambil mengamati wajah Nada yang tampak lebih baik setelah mengeluarkan isi perutnya.


"Aku sepertinya masuk angin Ma, beberapa hari ini aku rasa aku tidak selera makan, aku juga jarang mengisi perut. Aku rasa aku memang masuk angin, Ma." ucap Nada sambil memijat pelipisnya yang terasa bersengyut.


"Ini minumlah dulu." Mira mengarahkan teh hangat pada Nada saat sudah di luar toilet. Nada mengisi perutnya dengan teh hangat itu dan merasa lebih baik.


"Sini mama kerokin leher kamu," ucap Mira. Dia menangkap gejala sesuatu hal, tapi untuk memastikan lagi dirinya akan melihat informasi selanjutnya Nanti saja. Mira memejamkan matanya, Marvel putranya apa benar akan menjadi seorang ayah? Alhamdulilah, semoga apa yang dipikirnya tak salah.


Nada memandang Mira, benarkah mertuanya sangat menyayanginya?


"Tapi Ma," sanggah Nada. Perlakuan Mira yang berubah membuatnya sungkan. Tapi Mira tersenyum dan menggandeng tangan Nada ke arah ruangan istirahat yang berada di samping ruang Micel berada.


"Duduklah, coba sibak kerudungmu," ucap Mama Mira dan dituruti oleh Nada. Mama Mira mulai mengoles minyak di leher Nada dan membuat gerakan ke atas ke bawah sehingga menimbulkan warna merah di leher mulus Nada. Gerakan yang membuat keadaan Nada lebih baik. Sama seperti tanda cinta yang berwarna merah yang di buat suaminya dan bisa membuat keadaanya membaik.


Mira dan Nada saling berpandangan, Mira mengakhiri gerakannya kemudian melangkahkan kaki jenjangnya ke meja makan.


Mira tampak memindahkan makanan di piring kemudian memberikan pada Nada. Nada hanya diam dan menatap buah-buahan di atas piring. Buah segar yang menggoda selera Nada untuk mengisi perutnya kembali.


"Makanlah Nad," ucap Mira sambil menyuapkan makanan pada Nada. Nada membelalakan matanya. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ini sebagai tanda perminta maafan mama, selama ini mama selalu berbuat jahat padamu. Padahal kamu adalah orang yang tepat untuk Marvel, sayang sekali mama baru menyadari saat ini," ucap Mira sambil tersenyum menatap menantunya.


Nada meraih piring dari tangan Mira dan meletakan di meja. Diraihnya tubuh Mira dan didekap dalam dekapan hangatnya.


"Mama, terimakasih," ucap Nada terharu. Bahkan rasa bahagia mengalahkan segalanya. Dia sangat bahagia mendapat kasih sayang dari ibu mertuanya.


"Minta apa dari mama sebagai tanda perminta maafan mama?" tanya Nyonya Mira.


"Aku minta disayangi mama saja, tidak mau yang lain," ucap Nada.


Nyonya Mira terenyuh. Gadis cantik yang menyandang status sebagai menantunya itu sebenarnya telah merebut hatinya. Namun rasa sayang yang dia tunjukkan benar-benar berbeda. Rasa sayang yang berbalut dengan keegoisan sehingga membuat dia menyakiti anak menantunya itu.


"Mama akan menyayangimu jika kamu mengisi perutmu,"ucapnya sambil melirik buah di atas piring yang berada di meja depannya.


Nada tersenyum dan menganggukan kepalanya, Nada meraih piring itu dan menatap ke arah Mama Mira dengan perasaan yang bahagia.


Mira tampak melepaskan kalung berlian yang indah dari lehernya kemudian mengambil tangan Nada dan meletakan kalung itu di tangan Nada.

__ADS_1


Nada mengamati kalung itu dan menatap Mira dengan segala pertanyaan yang mengiang di otaknya.


"Ini apa Ma?" tanya Nada sambil menatap ke arah Mama Mira dengan berbagai pertanyaan.


"Ini adalah kalung dari nenek, kalung turun temurun dari nenek yang diturunkan dari nenek setelah mama menikah. Karna istri Marvel adalah kamu, sepertinya mama harus memberikannya padamu Nada," ucap Mama Mira sambil menatap Nada yang tampak mengamati kalung itu.


"Ambillah," ucap Mamanya sambil mengenggam tangan Nada untuk meyakinkan Nada menerima kalung itu.


"Tapi, Ma," sanggah Nada.


"Tidak ada pembantahan. Mama menyayangimu, maaf bila mama bertindak hal yang tidak baik selama ini kepadamu, Nad," ucapnya.


Nada terharu, bulir bening mengalir di pelupuk matanya. Nada kembali memeluk mertuanya.


"Mama, Mama menyayangiku saja itu sudah lebih dari segalanya. Tidak perlu memberikan hadiah seperti ini," ucap Nada. Mama Mira yang juga teeharu mengusap air mata yang mengalir di matanya juga.


"Itu hadiah karna kamu memang layak. Ini bukan dari mama, tapi ini dari keluarga MRD karna kamu layak menerimanya," ucap Mamanya.


"Mama," Nada melepas pelukan ibu mertuanya. Memandang kearah ibu mertuanyanya, kemudian memeluknya lagi. Nada menumpahkan segala air mata di pundak ibu mertuanyanya.


"Maaf, mama pernah salah paham denganmu. Mama pernah meragukan kelakuanmu. Nyatanya kamu adalah wanita baik dan begitu cantik. tidak salah Marvel memperjuangkan cintanya untukmu. Tetaplah bahagia sampai kapanpun sampai maut memisahkan cinta kalian." ucap ibu mertuannya lagi.


Hati Nada benar-benar bahagia, bahkan tangisan yang dia keluarkan adalah tangis bahagia.


"Ya Allah SWT, terimakasih untuk semuanya." ucap Nada pelan sambil memejamkan mata indahnya.


🎀🎀🎀🎀🎀


Vino dan Radit tengah sampai di depan ruang kamar Melati yang bernomer 112. Radit menggenggam hendel pintu dan membuka pintu kamar rawat Micel.


"Keduanya memasuki kamar rawat yang hanya menampakkan nenek dan Micel yang sedang mengamati foto album di pangkuannya.


"Gadis, ada tamu yang datang. Dia teman kakak ingin menemuimu," ucap Radit sambil menatap Micel dan merangkul pundak Nenek Amy yang tersenyum ke padanya.


Vino yang berada di belakang Radit tersenyum menatap ke arah gadis yang menunduk itu. Mendengar namanya di panggil, gadis itu mendongak dan menatap seorang yang berdiri di samping kakaknya.


Mata indah Micel mengerjab beberapa kali, membuat orang di depannya tampak mematung dan tak sanggup mengatakan apapun karna terkejut. Vino memejamkan matanya sejenak dan memastikan matanya tak salah melihat.


"Micel," lirih Vino.

__ADS_1


🎀🎀🎀🎀


__ADS_2