Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 137


__ADS_3

Radit yang mengkhawatirkan Nada segera melangkah keluar dari kamar Micel menuju ke ruang istirahat. Bersama Mira? Bahkan dirinya belum sepenuhnya bisa percaya pada wanita yang menyandang status sebagai ibunya itu.


Radit mempercepat langkahnya dan segera membuka hendel pintu, matanya membelalak melihat pemandangan ini. Bahkan kekhawatirannya hilang seketika ketika melihat Mama Mira duduk di kursi sedangkan Nada membaringkan tubuhnya dan menempatkan kepalanya di pangkuan Mira. Mira mengusap pelan kepala berkerudung Nada.


Radit masih terpaku sambil mendengarkan interaksi kedua wanita itu.


"Terimakasih mama memperbolehkan aku berbaring di sini, aku bahagia sekali," ucap Nada sambil memandang langit-langit kamar. Matanya sudah mulai mengantuk. Entah kenapa dia ingin diusap-usap kepalanya.


"Sama-sama, jika kamu menginginkan apapun katakan saja, mama akan siap membantumu," ucap Mira. Mira semakin yakin menantunya tengah mengandung dan belum juga menyadari. Ingin dirinya memberi tahu Nada dan Radit hal ini nantinya.


Nada tidak terdengar menyahut, hanya denguran halus yang terdengar di telinga Mira. Wanita cantik itu telah tertidur pulas.


Mira mengusap air matanya, andai saja dia menikmati momen seperti ini dengan Micel, dengan Radit juga suaminya. Pasti dia bahagia sekali, lalu jika dirinya tidak merasakan kebahagiaan saat menikah dengan perjodohan. Lalu, mengapa dia seakan mendesak Radit dengan Zifana? Bukankah itu kekeliruan yang nyata?


Radit memejamkan matanya, apa dia tak salah lihat? Mama Mira dan Nada? Radit mengusap pelan dadanya yang sesak, kenapa masalah silih berganti? Ketika mamanya mulai berubah, kenapa dirinya dan Vino malah terlibat suatu hubungan yang sulit untuk di mengerti? Radit memejamkan matanya.


"Semoga Vino bisa memantabkan hatinya," lirihnya.


"Mama," Radit mendekat ke arah Nada dan mamanya berada.


"Marvel, Nada tertidur. Kau bisa mengajaknya pulang. Tampaknya Nada sedang tidak enak badan," ucap Mira sambil menatap ke arah putranya.


Radit segera menatap ke arah Nada kemudian mengusap pelan wajah Nada yang tampak kelelahan.


"Aku akan membawanya pulang ke mansion Ma," pamitnya kemudian mengangkat tubuh Nada. Mira berdiri dan menatap kedua anaknya.


"Hati-hati Marvel," ucapnya sambil menatap ke arah Radit.


Radit mengangguk kemudian berjalan keluar meninggalkan ruang istirahat dan menuju ke arah parkiran.


🎀🎀🎀🎀


Vino, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jalan malam yang sunyi membuatnya sebagai pengendara utama. Emosi yang memuncak dikepalanya membuat dirinya meluapkan dengan cara yang seperti ini.


Beberapa kali Vino menerjang lampu lalu lintas, bahkan beberapa kali juga mendapat umpatan dari pengendara lain.


Vino tampak prustasi dan menghentikan laju mobilnya di sebuah bar. Bayangan tiga wajah wanita menari di otaknya. Asila, wanita cantik yang begitu dicintai, namun harus pergi untuk selamanya.


Vino memejamkan matanya, bayangan Nada mengisi pikirannya, sekian lama menolak dekat dengan seseorang, baru dengan Nada hatinya bisa terbuka. Namun, nyatanya cinta tak berpihak padanya hingga dirinya kembali harus terluka.


Micel? Gadis cantik yang mampu mengambil perhatiannya dengan sikap manjanya itu ternyata adalah adik ipar Nada? Adik dari sahabatnya sendiri? Takdir macam apa yang ada pada dirinya?


Vino menatap langit malam yang gelap dari jendela kaca. Langit malam ini seperti hatinya yang saat ini suram tak bisa untuk menerima kenyataan.


"Tuhan kenapa kau selalu mematahkan hatiku? Kenapa selalu aku?" Teriaknya di sebuah ruang VVIP.


Prang, teriakan Vino disertai dengan dilemparnya botol Wine yang memperdengarkan suara yang sangay nyaring bunyinya.

__ADS_1


Jika niatmu salah dan kamu hanya menjadikannya pelampiasan sesaat, jangan harap aku diam saja. Kau memang sahabatku, tapi aku juga tak rela bila adikku patah hati karnamu


Ucapan Radit teengiang di otaknya, bahkan sebenarnya dia tak ada sedikitpun niat untuk mematahkan Micel. Yang dia tau, hatinya bahagia melihat Micel saat dipatahkan oleh keinginanya bersama Nada.


Vino mengusap kasar wajahnya, bahkan sampai saat ini bayangan Micel menari di otaknya.


Jatuh cinta atau pelarian? Hais,Vino tak mau lagi berpikir tentang itu.


❤❤❤❤❤


Di sebuah mansion mewah keluarga sinatria, Gino tengah merencanakan sesuatu dengan di sebarnya sebuah foto dirinya dan Nada yang sedang beradegan mesra di bar waktu itu. Nada dan Radit yang tampak mesra pula akan tetapi tak nampak wajahnya.


Gino menyebar foto itu pada salah satu akun wa temannya yang berprofesi sebagai wartawan.


"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya orang yang kini menatap layar komputer dan sedang mengedit beberapa surat kabar.


"Yang perlu kau lakukan adalah membuat berita murahannya wanita itu, dengan kedoknya yang tertutup, dia menarjetkan beberapa pengusaha kaya untuk menjadi ATM berjalan. Kau juga harus mencantumkan bukti trasfer 1 M yang aku berikan," ucap Gino sambil mengusap dagunya dengan senyum licik yang menghiasi bibirnya.


"Apa yang kau rencanakan Kak?" tanya Zifana sambil meletakan beberapa camilan di atas meja kemudian menatap Kakaknya yang kini berbincang dengan rekannya.


"Aku ingin mendapatkan Nada, dengan cara kotor sekalipun. Jika banyak berita miring, dia di benci banyak orang. Dan saat itu aku harus datang dengan seratus persen kemenangan. Dia tidak akan ada pilihan lain selain menerimaku," ucap Gino.


"Apa kau lupa, Marvel bisa melakukan apapun?" tanya Zifana.


"Marvel tidak penting bagiku, bahkan Marvel pasti lebih mementingkan menyelamatkan karirnya dari pada mengakui keberadaan Nada," ucapnya.


"Kita lihat saja nanti Zifana. Jangan menyerah sebelum mencoba," ucap Gino sambil menatap ke arah Zifana yang kini memandang dirinya dengan tenang.


🎀🎀🎀😍😍


Radit membaringkan tubuh Nada di ranjang king sizenya. Nada mungkin sangat kecapean sehingga dari rumah sakit di angkat ke mobil hingga sampai mansion wanita itu tak bangun juga.


Radit mengusap wajah Nada dengan pelan kemudian melepas kerudung istrinya. Di kecupnya puncak kepala Nada dengan mesra, hingga sebuah tangan menahannya agar tetap pada posisi itu.


Radit tersenyum jadi dari tadi sebenarnya Nada terbangun? Manja sekali dirinya minta digendong ala bridal style terus.


Nada hanya diam membisu dengan kedua mata memandang wajah Radit.


Nada ingin mengatakan sesuatu tetapi lidahnya seakan kelu karna posisi ini begitu membuatnya deg-degan. ingin merutuki dirinya sendiri, pada akhirnya Nada melepaskan tangannya dan tersenyum jahil.


Radit kembali duduk, sedangkan Nada menyembunyikan dirinya di balik selimut.


Radit membuka selimut Nada dan menarik kedua tangan Nada untuk duduk.


"Dasar jahil, aku pikir kamu tidur beneran, ternyata hanya mengerjaiku," ucapnya sewot. Nada terkekeh dan mengatupkan kedua tangannya.


"Maaf, aku hanya ingin di gendong saja, kenapa sewot?" tanya Nada sambil tersenyum.

__ADS_1


Radit memegang dagu Nada dan Mengusapnya dengan lembut. Radit melirik b*bir Nada sekilas sebelum kembali menatap mata Nada lagi.


Radit meraih dagu Nada dan menyambar bibir mungil yang membuat dirinya panas dingin itu. Mendaratkan kecupan manis yang membuatnya seakan terbang melayang. Nada dengan tenang membalas ciuman Radit yang semakin dalam dan semakin menuntut itu.


Menerima balasan ciuman dari Nada membuat sesuatu di bawah sana merespon dengan cepat. Radit memejamkan matanya karena menahan desakan tubuh bagian bawahnya yang meronta dan terbangun.


"Apa kamu mau memberikan malaikat kecil untukku secepatnya?" tanya Radit dengan suara beratnya.


Nada mengangguk pelan, Radit tersenyum tipis dan kembali menyambar bibir mungil Nada.


Nada meletakkan kedua tangannya di dada Radit. Keduanya kini memejamkan mata, menikmati kehangatan dan rasa manis yang tercipta.


Lidah keduanya saling bertautan, bermain lebih dalam dan kemudian Radit berkelana ke bawah, semakin ke bawah memberikan rasa geli yang nikmat sehingga membuat Nada mengeluarkan d*sahan yang membuat Radit semakin bergairah.


Dengan gerakan cepat Radit menyambar tubuh Nada, Napas mereka semakin berkejar tak beraturan, terdorong oleh keinginan yang menggebu di dada keduanya. Kini Keduanya larut dalam kehangatan dan keintiman, saling memiliki dan saling memuaskan, berharap malaikat kecil segera hadir diantara mereka.


Wahai Dzat yang maha memberi hidup, berikanlah kami malaikat kecil yang akan menambah kebahagiaan kehidupan kami. Batin Radit.


Tubuh Radit dan Nada kini bermandikan peluh, setelah melakukan ritual malamnya.


"Aku sudah tidak sanggup lagi, Yang. Aku lelah sekali." ucap Nada manja. Setelah mereka mencapai puncak kenikmatan beberapa kali.


"Okey, untuk malam ini cukup sampai disini. Kita lanjutkan besok lagi," ucap Radit kemudian berbaring di samping Nada. Radit mengusap pelan puncak kepala Nada yang tampak kelelahan, kemudian mencium mesra kening Nada.


"Terimakasih untuk malam ini." ucap Radit.


"Hemm, tapi lain kali jangan selama ini. Aku capek sekali Yang." sanggah Nada.


"Bukankan kamu suka,hemm?" goda Radit membuat Nada malu kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Radit terkekeh melihat tingkah istrinya itu. Keduanya memejamkan mata dan mengarungi samudra mimpi.


🎀


Pagi hari yang indah, Nada tampak menatap jam dinding yang ada di kamarnya. Tak ada Radit di sampingnya. Bahkan Radit sudah shalat subuh dan sengaja tidak membangunkannya karna Nada melihat sajadah masih terletak di tempatnya.


Nada segera berdiri dan menuju ke kamar mandi. Membersihkan diri dan mengerjakan ibadah shalat subuh.


Setelah selesai melakukan shalat, Nada segera turun. Dilihatnya Radit di dapur sambil memotong beberapa buah dan menghaluskan cabe, garam, dan gula.


"Lagi apa Yang?" tanya Nada sambil menatap ke arah Radit sambil tersenyum.


"Aku pengen makan rujak, ini mulut rasanya aneh banget." ucapnya sambil mencolekan buah mangga muda ke sambal.


Nada tampak menggelengkan kepalanya pelan.


"Ini masih pagi lo, makan nasi dulu kan enak," ucapnya sambil merai telur di lemari es. Nada membuat makanan sedangkan, Radit menyalakan TV. Ditengah asiknya makan, telinganya mendengar gosib di salah satu stasiun TV yang dapat membuatnya membelalakkan matanya.


😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2