Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
145. PCSC


__ADS_3

Radit mengusap pundak Nada, rasanya bahagia sekali. Radit berharap bisa seperti ini untuk selamanya. Bahagia bersama dengan Nada, wanita yang mampu membawa hidupnya ke arah kebaikan.


"Sekarang makan, kamu butuh makan. Aku membawa nasi goreng sepesial, pasti kamu menyukainya." Tangan Radit terulur mengambil bungkusan nasi goreng di atas meja. Segera Radit membuka dan menyuapkan pada Nada.


Nada membuka mulutnya dan tersenyum. Ingatan Nada saat ini terngiang dengan wajah Zifana dan wajah Gino, wajah manusia yang dirasa sangat berbahaya baginya.


Radit menatap wajah Nada kemudian menyentuh wajah Nada dengan tangan kanannya.


"Apa yang kamu pikirkan Dear? Tolong jangan memikirkan apapun," ucap Radit pelan.


"Yang, apa Zifana mantanmu?" tanya Nada sambil menatap ke arah Radit dengan penuh penasaran. Radit menghela napas dalam-dalam, Nada mengenal Zifana?


"Kamu mengenalnya Dear?" tanya Radit.


"Pernah aku bertemu dengannya beberapa kali, sepertinya dia sangat membenciku." Nada mencoba menjelaskan pada Radit tentang pemikirannya.


"Dia orang yang pernah dijodohkan denganku, dulu dia menolakku. Bahkan beberapa kali tak mau menemuiku," jawab Radit dengan tenang.


"Dia menolak? Kamu berarti pernah bersedia?" tanya Nada lagi.


"Dia menolak dan aku terpaksa, perusahaan banyak mengalami kerugian saat papa tiba-tiba pergi. Tuan Sinatria menawarkan bantuan, akan tetapi dengan syarat yang demikian. Tidak ada kesepakatan karna perjodohan itu juga tidak berjalan, pada akhirnya aku meminta bantuan pada Vino, Delon dan Nico. Perusahaan berkembang dengan pesat, dan aku pun hanya berada di balik layar karna aku berada di rumah Kak Micho dan ibu," ucap Radit panjang lebar.


"Lalu kenapa Zifana sekarang seolah menginginkanmu?" Nada bertanya lagi.


"Entahlah, mungkin dia terpesona denganku setelah bertemu denganku waktu itu," ucap Radit sambil tersenyum. Nada mendorong tubuh Radit, Radit teekekeh pelan dan menangkup kedua pipi Nada.


"Kamu cemburu?" tanyanya.


"Harus aku menjawab, bagaimana bila seorang yang kamu cintai di inginkan orang lain?" tanya Nada.


Radit memejamkam matanya, bahkan di luar sana banyak orang yang menginginkan istrinya.

__ADS_1


"Bukankah kita sama, bahkan Vino juga menginginkanmu. Lagi, orang yang saat itu menjualmu di bar juga mengejarmu." Radit menghela napas panjang dan menatap Nada dengan tenang.


"Aku dan Vino tidak ada hubungan apa-apa," ucap Nada.


"Begitupun dengan aku dan Zifana, hanya saja Vino lebih tau arti menerima kenyataan dan Zifana mementingkan ambisi," ucap Radit.


"Lalu aku harus bagaimana menghadapinya?" tanya Nada.


Radit menatap istrinya dengan teduh, memberikan ketenangan pada perempuan cantik itu.


"Kamu cukup diam, bila nanti dia bertindak keterlaluan, aku akan melakukan hal yang tidak pernah mereka bayangkan." Radit mencoba meyakinkan Nada dengan menggenggam erat tangan Nada.


Nada tersenyum singkat kemudian menatap Radit dengan teduh.


"Aku akan selalu berdiri di sampingmu, entah itu bahagia, entah itu menderita. Jika pada akhirnya kita tetap harus bersama, maka tidak akan pernah ada tangan yang bisa mengusik kebersamaan kita," lirih Nada.


Radit mengusap pelan puncak kepala Nada dan menciumnya beberapa kali.


"Vino? Micel?" tanya Nada pada Radit yang mematapnya bimbang.


"Kau tau, Micel memgingat Vino dan juga kamu. Bahkan, kata Kak Arfan, orang yang diingat Micel adalah orang yang memberikan kesan baik di memori akhirnya. Kau tau, Vino dapat diingat Micel dengan jelas," ucap Radit lagi.


Nada memejamkan matanya, jadi lelaki dewasa yang diceritakan Micel adalah Vino? Lelaki yang membuatnya bahagia? Nada menghela napas panjang. Bukan apapun, dia tau arah pembicaraan Radit. Cemburu? Tentu saja, itu yang dirasakan Radit.


"Sudah aku katakan aku tak ada perasaan dan hubungan dengan Vino. Jika dia ingin memulai dengan Micel apa salahnya?" tanya Nada. Meski sulit, dia mencoba untuk meyakinkan suaminya.


"Jika pada akhirnya Micel harus bersedih karna Vino tidak bisa mencintainya, dia hanya pelarian, lalu aku harus bagaimana? Sedangkan orang yang nyata dicintai Vino adalah istriku?" tanya Radit lagi.


Nada memejamkan matanya lagi, sesak menyeruak di dadanya. Bukankah jika itu terjadi, hibungannya dengan Micel tidak akan baik-baik saja?


"Katamu Vino tau artinya menerima kenyataan, bukankah dia akan belajar untuk mencintai Micel?" tanya Nada.

__ADS_1


"Jadi?" tanya Radit.


"Beri kesempatan pada Micel dan Vino, jika kamu cemburu. Kita bisa menjauh dari mereka, bahkan kita bisa pergi ke lain daerah." ucap Nada. Radit tersenyum dam memeluk erat Nada.


"Rasanya aku ingin selalu memelukmu, entah bagaimana aku tidak ingin melepaskanmu," lirih Radit.


🎀🎀🎀🎀🎀🎀


Vino, Delon dan Gino kini saling berhadapan. Mereka berada di sebuah Kafe. Vino dan Delon tampak menatap waspada pada Gino di depannya. Tanpa harus mengatakan, mereka tau pasti bahwa Gino bukan orang baik-baik.


"Jadi apa yang membuatmu ke rumahsakit?" tanya Vino sambil mengamati Gino yang hanya diam.


"Aku hanya ingin berkunjung di tempat rekan kerja." Sahutnya.


Vino menghela napas panjang kemudian berdiri.


"Aku bukan orang bodoh yang bisa kau kelabuhi dengan mudah Tuan Muda Sinatria, cukup kau tau, menyakiti bagian dari kami sama saja kau mencari masalah pada kami," ucapnya kemudiam melenggang pergi.


Delon menatap Gino dan tersenyum sinis.


"Berpikir dulu sebelum melangkah, Tuan. Jika pusakamu hanya pisau tumpul. Maka sampai kapanpun tak bisa melawan pisau yang terasah" ucap Delon kemudian memasukan tangannya di saku celana dan melenggang pergi.


Gino mengepalkan tangannya, kenapa mereka tampak kompak sekali?



"Ehhh,,," suara Micel terdengar bersamaan dengan deringan ponsel. Vino mendekat ke arah Micel. Nenek dan Mama Mira keluar sebentar memberi waktu pada Vino bertemu dengan Micel.


"Kakak," ucap Micel ketika netranya jelas memandang ke arah Vino.


Micel berusaha bangun, namun keadaannya yang lemah membuatnya kesulitan. Vino mendekat dan membantu Micel untuk duduk. Kedua pasang mata itu saling menatap. Lama, sehingga keduanya terhanyut dalam sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan.

__ADS_1


❤❤❤❤


__ADS_2