Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 36


__ADS_3

Dani memijat pelipisnya, bahkan sampai sekarang dirinya belum menemukan wanita yang dia anggap cocok untuk tuan mudanya. Dani mengambil ponsel yang berada di saku celananya.


"Tuan Marvel? Kenapa menelponku tadi?"


Dani yang berada di luar kota melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 22.30. Segera Dani menuju ke mobil dan mengambil arah menuju ke apartemen Radit, karena sore tadi Radit meminta dirinya membawa wanita untuk menjadi istri kontraknya.


🎀🎀🎀


Nada dan Arfan berbincang hangat di balkon apartemen, keduanya melepas rindu setelah lama tak bertemu. Hingga dua jam berlalu pun rasanya masih betah untuk saling bercerita.


"Jadi apa yang membuatmu meminjam uang kemaren? Kenapa juga tidak jadi dan di kembalikan?" tanya Arfan.


Nada yang semula tersenyum kini menatap kakaknya dengan diam.


"Kenapa? Katamu mau bercerita," ucap Arfan lagi. Nada mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkan dengan pelan.


"Aku mengkhawatirkan keadaan Amara yang saat itu ribut dengan suaminya, Amara menghabiskan waktu di bar. Aku menjemput Amara di tempat itu, Kak," ucap Nada.


"Lalu?" Arfan memandang lekat wajah cantik yang mempunyai mata yang sangat menawan itu.


"Aku masuk kesana dan diganggu orang, mereka menawarku seperti wanita bayaran. Hingga seseorang datang dan memberikan penawaran lebih dari manusia jahat tadi, dia menolongku dan pergi begitu saja," ucap Nada panjang lebar.


Arfan mengerutkan keningnya dan memandang adik cantik yang mempunyai wajah begitu mirip dengannya itu.


"Kau mengenalnya?" tanya Arfan. Nada menggelengkan kepalanya.


"Lantas? Bagaimana bisa kamu ditolong? Di tempat seperti itu, aku pikir jarang sekali ada orang yang menolong tanpa imbalan," ucap Arfan.


"Maka dari itu, aku tidak enak. Sebetulnya memang kami sudah pernah bertemu sebelumnya, Kak," ucap Nada. Arfan tersenyum dan menatap Nada dengan tenang.


"Apa senyum-senyum? Bahkan aku dan dia selalu ribut saat bertemu," sewot Nada saat Arfan mulai menggodanya.

__ADS_1


"Hemm, sudah kuduga. Pasti kalian ada sesuatu," ucap Arfan.


"Apaan sih Kak, enggak juga. Kami tidak mengenal," ucap Nada lagi. Arfan tekekeh geli.


"Lalu, bagaimana bisa kau mencari dia di kantor kalau tidak mengenalnya?" tanya Arfan lagi.


"Itu karna dia memberikan kartu nama, sehingga aku bisa mengetahui kantornya," ucap Nada lagi.


"Lebih tepatnya tau nama dan nomer ponselnya juga," goda Rafa. Nada berdiri dan memyedekapkan tangannya di depan dada, menatap indah langit malam yang tampak cerah.


Arfan mengikuti Nada menatap langit cerah dan melirik ke arah adiknya memandang.


"Sudah lama sekali kakak tidak melihatmu malu-malu begini, cinta dalam diam pada Rafa telah menutup hatimu. Tapi, sekarang kakak bisa melihat kau tampak bahagia," Arfan mengusap pundak Nada.


Nada meletakkan kepalanya di pundak Arfan dan menatap langit malam. Rafa? Nama itu masih menyisakan cinta di hatinya meskipun kini dia mencoba untuk melupakan.


"Aku benar-benar tak ada apa-apa dengannya. Malah aku ingin segera melunasi uangnya, sehingga aku tidak berhutang padanya."


Nada mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Arfan.


"Serius?" tanya Arfan dan diangguki oleh Nada.


"Ayah bilang ada acara di kantor atasanya, acara ulang tahun perusahaan," ucap Nada lagi.


Arfan tampak melihat koran bisnis yang memang mengatakan Pradikta Groub akan mengadakan pesta meriah di salah satu gedung megah di pusat kota, yang benar saja, Pradikta Group adalah tempat dimana ayahnya bekerja sebagai seorang staf kepercayaan.


"Alkhamdulilah, kakak bahagia sekali kalau ayah benar-benar datang, nanti kakak akan menjemput ayah," ucap Arfan sambil tersenyum.


"Kau sudah shalat Nad? " tanya Arfan saat melihat jam yang menunjukkan 23.00.


"Udah, sedari sore Kak," ucapnya.

__ADS_1


"Kalau begitu kakak shalat terlebih dulu," Arfan melipat lengan kemeja panjangnya.


"Aku boleh ke bawah Kak?" tanya Nada sambil membenahi kerudungnya yang sedikit berantakan. Arfan melihat ke bawah yang masih menampakkan keramaian meskipun sudah malam.


"Mau apa?" tanya Arfan penuh selidik.


"Aku lapar sekali, Kak. Di lemari es juga tak ada apa-apa," ucap Nada pada kakaknya. Arfan tersenyum. Dia memang belum belanja bulanan, sehingga kebutuhannya belum terpenuhi.


"Ya sudah, turunlah. Hati-hati, kakak shalat dulu," ucap Arfan sambil mengusap pelan puncak kepala adiknya kemudian melangkah pergi.


Nada mengambil dompetnya yang berada di meja kemudian keluar dari apartemen kakaknya menyusuri lorong, menuju ke arah lift.


❤❤❤


Radit yang tampak sempoyongan melangkah, kini merayap sambil memegang dinding untuk berjalan. Lif yang dia tumpangi telah berhenti dan terbuka. Dia keluar dengan tubuhnya yang sempoyongan. Betapa terkejut saat langkahnya tersendat dan hampir jatuh. Akan tetapi, tubuh linglungnya jatuh di pundak seseorang yang kini berdiri tepat di depan lif yang dia tumpangi.


"Sory, aku tidak sengaja," ucapnya pada seorang gadis yang memandangnya dengan intens, aroma alkohol menyeruak di hidung gadis cantik itu.


Radit segera berdiri, bahkan dia tak sadar keberadaan Nada. Radit berjalan melewati Nada setelah bisa kembali berdiri, dia berjalan dengan sempoyongan ke arah sana. Nada melihat punggung Radit dengan seksama.


"Radit?" lirih Nada.


Radit membelokan langkahnya ke arah pintu masuk sebuah unit apartemen. Namun, dengan susah payah dia membuka pintu dengan akses card miliknya.


Klek,


Bahkan acses card itu jatuh ke lantai, Nada menghela napas panjang. Mengurungkan niatnya untuk melangkah ke dalam lift. Nada memutar langkahnya dan mendekat ke arah Radit.


❤❤❤❤❤


Engg ing eng.... apa yang akan terjadi 🤣🤣🤣

__ADS_1


Like, komen, vote dan hadiah jangan kendor yokkk.


Semangati Author Ramahh... wkwkwkkw


__ADS_2