
"Tuhan, mampukah aku untuk tetap berada di sampingnya?" lirih Nada di tengah isak tangisnya.
"Marvel!" teriak nenek dan kakek yang baru datang. Berita dikurungnya Nada di dalam kamar sehingga pingsan sampai di telinga kakek dan neneknya dengan cepat.
Nada melepas pelukannya, memandang lekat wajah tampan Radit kemudian menggenggam erat tangan Radit. Radit berdiri menyambut kedatangan kakek dan neneknya dengan tenang.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa menjaga cucu mantu nenek saja tidak becus? Kenapa menganiayanya?" bentak nenek sambil memegang telinga radit dengan kencang, membuat sang pemilik telinga merintih kesakitan.
"Iya maaf Nek aku salah, tapi lepaskanlah, sakit Nek,"
Nenek melepaskam tangan nya, dia dan Micel kemudian melangkah menuju ke arah Nada yang terlihat masih sangat pucat.
"Sayang. Kamu tidak Apa-apakan?" tanya Nenek Amy dengan tenang. Nada memejamkan matanya, dia disambut hangat sekali oleh nenek Amy, padahal kesan pertama bertemu sangatlah tidak mengenakkan.
"Kakak ipar tidak Apa-apakan?" tanya Micel juga. Nada mengarahkan pandangannya pada Micel yang duduk di sampingnya. Nada mencoba mengingat wajah cantik gadis itu dan tersenyum.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nada.
"Aku Micel, kak, adik iparmu. Bukankah kakak karyawan di Sheyna bontique kemarin?" tanya Micel dan diangguki oleh Nada.
Dunia sangat sempit, saat mempertemukan kakak adik ipar tanpa sengaja itu.
"Makanlah, nenek membawakanmu bubur. Kau punya sakit mag?" tanya nenek sambil mengusap pelan pundak Nada. Nada tersenyum singkat.
"Aku sudah tidak apa-apa nek, Micel." sahut Nada.
"Awas saja anak bandel itu, aku akan menghukumnya!" ucap Nenek dengan tegas sambil melirik ke arah Radit yang hanya diam di sofa.
"Iya nek hukum saja anak bandel itu, enak saja membiarkan kakak ku terluka," ucap Micel bersungut-sungut. Nada tertawa melihat tingkah konyol Adik iparnya itu.
Namun, Nada melihat Radit tak merespon kelucuan Micel. Bahkan dia tampak begitu dingin pada adiknya itu.
"Sini aku suapin, Kak." Micel mengambil piring dan menyuapi Nada.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri Micel," ucap Nada.
"Sebagai tanda perkenalan, aku menyuapi kakak," ucap Micel. Nada tersenyum, dia melirik ke arah Radit yang juga melirik ke arahnya. Segera keduanya mengalihkan pandangannya.
"Waktu menunjukkan pukul 04.30. Azan subuh sudah berkumandang. Micel dan nenek segera pergi dari kamar Nada dan Radit. Kini, tinggal dua manusia yang saling berdiam itu yang berada di ruangan itu.
"Maafkan aku, Nada," ucapnya lirih.
Nada memejamkan matanya. Radit, manusia sombong itu meminta maaf? Ini apakah mimpi? Nada menghapus air matanya dan mendorong tubuh Radit.
Keduanya saling menatap lekat, Nada menghela napas panjang dan melirik ke arah tangannya yang masih menancap selang infus, entah siapa yang merawatnya diapun tak tau. Ya, Nada mempunyai sakit mag yang akan kambuh jika terlambat makan.
"Coba ulangi," ucap Nada. Radit tampak mengepalkan tangannya dan memandang Nada dengan sorot mata tajam.
"Maafkan aku," ucapnya lagi tapi mengarahkan pandangannya ke arah lain. Nada mengulum senyuman tipis.
"Beri aku satu alasan supaya aku bisa memaafkanmu, sepertinya kita impas Tuan Radit. Katamu waktu itu aku mencoba melakukan percobaan pembunuhan kepadamu, dan saat ini sepertinya kau melakukan hal yang serupa. Jadi menurutku tak ada alasan aku masih berada di sampingmu," ucap Nada dengan tenang.
Radit menghela napas panjang dipanggil Tuan oleh Nada seperti hal aneh. Kata sapaan Yang yang biasa dilontarkan Nada sudah seperti virus yang meracuni otaknya. Sepertinya dia memang berhadapan dengan orang yang tak mudah di takhlukkan. Apa tadi? Tidak ada alasan untuk disampingnya? Apa artinya Nada akan pergi? Oh, no!
"Tidak semudah itu, aku sakit hati padamu!" ketus Nada. Radit berdiri dan naik ke arah Ranjang. Dia duduk di sebelah Nada dan merangkulkan tangan kanannya di pundak Nada.
"Kau tidak berhak marah, Nona Nada," ucap Radit.
"Tapi aku berhak pergi kan?" tanya Nada.
Radit menghela napas panjang dan menatap Nada dengan tenang, menyentuh kedua pipi Nada yang cantik memukau itu.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maaf darimu agar kau tetap berdiri di sampingku?" tanya Radit dengan tenang. Nada tersenyum tipis.
Dia mengusap pelan dada bidang Radit, kemudian menatap pria tampan yang sebenarnya selalu mengisi hatinya itu.
"Kita bekerja sama, Tuan Radit. Apa kau mau?" tanya Nada. Radit mengernyitkan dahinya dan mengangkat tubuh Nada dalam pangkuannya. Membuat Nada terkejut, Radit menatap Nada dengan tenang.
__ADS_1
"Kerjasama macam apa yang kau mau? Kerjasama untuk menyembuhkan luka hatimu begitu?" tanya Radit. Nada menghela napas panjang dan menatap Radit dengan tenang juga.
"Sepertinnya kau memang tercipta sangat jenius Tuan Radit. Bahkan kau tau apa yang aku mau," ucap Nada.
"Aku orang yang pernah terluka karena cinta, lalu aku juga tau kau pasti juga sama. Bisakah kau mencoba membuka hati untuk merebut hatiku? Lalu aku akan melakukan hal yang sama," ucap Nada dengan tenang.
Deg, radit merasakan detak jantung tak beraturan. Nada tau dia mencintai wanita lain?
"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Hem,?" tanya Radit sambil mengusap pipi Nada. Nada tersenyum dan menatap Radit dengan tenang, bisa juga lelaki ini tersenyum.
"Jika kau mampu merebut hatiku dan juga sebaliknya maka aku akan tetap berada di posisiku, tapi jika kau gagal maka aku akan pergi," ucap Nada.
"Apa artinya aku juga harus pandai menggodamu seperti yang kau lakukan beberapa hari ini?" tanya Radit. Nada tersenyum dan memandang Radit dengan wajah yang merah merona.
"Bukankan aku sudah pernah mengatakan padamu jika aku menikah untuk beribadah? Bukankah menggodamu tidak berdosa? Itu adalah pahala bagiku," ucap Nada.
"Lalu, apa kau juga ingin aku mendapatkan pahala yang sama?" tanya Radit. Nada terkekeh pelan.
"Aku bahagia jika kamu mau melakukan itu, Yang," ucap Nada. Radit tersenyum saat Nada kembali memanggilnya seperti itu. Radit mengangkat tubuh Nada.
"Kau mau membawaku kemana yang?" tanya Nada.
"Aku akan mengantarmu berwudhu," ucap Radit.
"Mengantarkan saja? Kenapa tidak ikut berwudu sekalian?" tanya Nada saat Radit membuka pintu kamar mandi dengan lututnya.
"Beri aku waktu Nyonya Marvel," ucap Radit. Nada bersorak dalam hati.
"Alkhamdulilah," setidaknya Radit punya niat untuk itu.
"Jadi apa kau setuju dengan kerjasama ini?" tanya Nada lagi.
"Diamlah, itu tidak penting bagiku. Tugasmu berada di dekatku sampai akhir nanti," ucap Radit lagi.
__ADS_1
😍😍😍😍😍😍
Lik komen tiap bab ojok kendor yakk 😍😍😍😍