
Pagi hari yang indah, Nada dan Radit sedang melipat seperangkat alat sholat yang baru saja selesai digunakan untuk shalat subuh.
Usia kandungan Nada yang semakin hari semakin bertambah membuat ibu hamil itu semakin malas untuk beraktifitas. Nada menatap Radit dengan tenang, sambil mengusap perutnya yang sudah memasuki usia 6 bulan.
"Dear, nanti aku akan kerumah. Aku ingin bertemu Kak Micho dan Ibu, aku mau kamu juga ikut," ucap Radit. Bukan menjawab, Nada malah tersenyum menatap Radit, senyumannya mengembang mengingat celana bolong Radit kemarin.
"Kenapa senyum?" tanya Radit.
"Enggak, jadi kamu kemarin belum jadi kerumah Kak Micho?" tanya Nada. Radit menggelengkan kepalanya.
"Kamu terlalu penting sehingga aku menunda datang kesana, mungkin memang Allah SWT menghendaki bila aku kesana bersamamu, memperkenalkan kamu adalah istriku. Istriku yang sangat cantik dan sangat baik," ucap Radit.
Nada tersenyum dan mengangguk, bertemu Micho? Itu artinya dia juga akan bertemu dengan Amara. Sahabat terbaik yang kini sudah memiliki satu baby cantik. Juga salah satu wanita yang pernah mengisi hati suaminya.
"Ada apa? Sepertinya kamu memikirkan sesuatu Dear." Radit menatap Nada dengan tenang. Nada menggelengkan kepalanya.
"Aku bahagia bila bertemu Amara," ucap Nada.
Radit terhenyak, pernah beberapa kali dirinya membahas Amara waktu itu Nada pun tau jika sahabatnya pernah mengisi hati Radit. Radit mengarahkan pandangan matanya pada Nada dan tersenyum menatap ke arah suaminya.
"Kau takut aku bertemu dengan Amara?" tanya Radit. Nada memejamkan mata. Sebenarnya iya, tapi dia yakin cinta Amara pada Micho sangat besar, seperti cinta Radit untuknya.
Radit terkekeh dan menangkup pipi istrinya.
"Kamu cemburu?" tanya lelaki tampan itu. Nada hanya diam. Radit menghela napas panjang.
"Hei, cantik. Aku bahagia kamu cemburu, artinya kamu benar-benar mencintai aku. Saat ini, kamu dan aku telah menjadi suami istri. Bahkan, Kak Micho dan juga Amara telah memiliki putri, lalu apa yang membuatmu ragu? Percayalah Dear, yang ada di dalam hatiku saat ini hanyalah kamu," ucap Radit sambil tersenyum menatap ke arah Nada. Nada memeluk erat Radit dan tersenyum.
"Okey, aku akan menyiapkan beberapa bingkisan untuk Amara." ucap Nada. Nada hampir saja berdiri. Akan tetapi dia mengingat sesuatu.
Nada menatap suaminya dengan intens. Ditatap Nada seperti itu membuat Radit meneutkan alisnya. Radit malah mendekatkan bibirnya, menyambar bibir Nada yang sangat menggemaskan.
Nada membelalakan mata indahnya, dia terkejut. Akan tetapi dia juga membalas permainan lidah Radit yang selalu membuai.
Setelah lama berciuman, Nada menghentikan aktivitas Radit. Kalau dibiarkan lelaki itu tetap saja mau lagi dan lagi kemudian meminta hal yang lain.
"Dear, waktunya periksa ke dokter hari ini, aku mau mengantarkanmu," ucap Radit. Nada tersenyum, Radit suami siaga. Bahkan jadwal periksa saja malah Radit yang selalu mengingatkannya.
"Hem, terimakasih telah mengingatkan aku Yang," ucap Nada.
Keduanya saling mengobrol, dan saling bercengkrama. Kebahagiaan di sini dinikmati. Karna jika nanti di pulau X. Pasti hanya ada waktu yang sedikit karena padatnya pekerjaan.
Tak lama dari itu, suara ketukan pintu terdengar segera Nada membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Bi?" tanya Nada dengan senyumannya. Bi Ani tersenyum dan menatap ke arah nona mudanya.
"Sarapan sudah siap Non, ibu meminta Non Nada dan mas Radit turun," ucap Bi Ani. Nada mengangguk pelan.
__ADS_1
"Okey, kami segera turun Bi," ucap Nada. Bi Ani mengangguk kemudian melangkah pergi.
Radit yang berada di sofa segera berdiri, dia merangkul pundak istrinya. Keduanya berjalan ke arah ruang makan.
🌹🌹🌹🌹
Nada dan Radit berjalan ke arah ruang makan, mereka duduk dan saling berdampingan. Ayah dan ibu bahagia melihat kebahagiaan putra putrinya. Tidak seperti kemarin yang bertengkar.
"Pagi Yah, pagi Bu," ucap Nada dan Radit sambil tersenyum.
"Pagi Nak, ayah bangga melihat kalian seperti ini. Ayah juga berharap Kak Arfan segera menyusul kalian dan bahagia bersama dengan istri dan anaknya," ucap Ayah sambil tersenyum.
"Amin," sahut Nada dan Radit serempak.
"Lama sekali aku tidak bertemu kakak, pasti dia sibuk sekali," ucap Nada. Ayahnya mengangguk, memang Arfan beberapa Kali ke luar negri untuk menangani beberapa pasien.
"Ya sudah, mari kita sarapan dulu," ucap ibunya. Mereka sarapan bersama, Radit menghabiskan sarapan paginya. Kedua orang tuanya tersenyum melihat ke arah pasangan suami istri di depannya.
Tak berapa lama kemudian mereka telah usai sarapan. Radit menatap ke arah ibu dan ayahnya sambil mengusap mulutnya dengan tisue.
"Bu, Yah, nanti aku sama Nada akan ke rumah sakit untuk periksa rutinan. Nanti setelah itu aku akan mengajak Nada mampir ke rumah Kak Micho," ucap Radit. Ayah dan ibu saling berpandangan. Mereka juga baru tau jika Radit adalah adik angkat Micho dari Nada beberapa waktu lalu, pada akhirnya mereka mengangguk pelan.
"Iya, sekalian kalian temu kangen. Sudah lama juga tidak bertemu dengan Rara. Rara juga sudah lama tidak berkunjung ke sini. Pastinya mereka juga mempunyai banyak kesibukan menjaga baby Zie yang sudah mulai aktif." ucap Ibu Lisa.
"Hem, aku ingin melihat baby Zie secara langsung. Amara suka bercerita tentang baby Zie yang sangat menggemaskan," ucap Nada. Ibu tersenyum bahagia.
Nada menatap ibunya dengan antusias dan tersenyum dengan bahagia. Radit tampak bahagia juga.
"Amin, Nada nurut saja Yah, Bu, apa baiknya." jawabnya. Ayah dan ibu tersenyum dan mengangguk.
"Kalau begitu kami akan segera berangkat Yah, Bu," ucap Nada dan diangguki oleh ayah dan ibunya.
Radit segera berdiri. Radit dan Nada segera berjalan ke arah parkiran. Menancap gas mobilnya menuju ke rumah sakit ibu dan anak.
🌹🌹🌹🌹🌹
Radit memarkirkan mobilnya di pelataran rumah sakit, mereka segera turun dan mengambil nomer antriannya. Setengah jam kemudian, mereka di panggil ke dalam.
Di sebuah ruangan rumah sakit , Nada dan Radit sudah duduk berdampingan. Seorang Dokter wanita sekitar tiga puluh lima tahun duduk di depan mereka. Dokter itu memperkenalkan dirinya bernama Dea.
"Jadi usia kandungan Bu Nada memasuki dia puluh empat minggu. Itu artinya sudah masuk kepada trimester kedua. Pada trimester kedua, janin banyak mengalami pertumbuhan dan panjangnya antara 3 sampai 5 inci," ucap Bu Dea.
Nada dan Radit tersenyum, kemudian Dokter Dea meminta Nada berbaring diatas kasur. Dokter Dea menyibak baju gamis Nada dan memberikan jel di perut Nada. Ketiganya mengamati layar yang menampakkan makhluk kecil di sana. Radit tersenyum tipis dia benar-benar takjub melihat buah hatinya di dalam sana.
"Pada masa kehamilan trimester kedua, ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang kaya akan aneka nutrisi, seperti zat besi, folat, protein, kalsium, magnesium, dan vitamin D. Supaya ibu dan bayi sehat," ucap Dokter Dea kemudian menutup kembali perut Nada dan mempersilahkan lagi Nada untuk kembali ke tempat duduk.
"Alhamdulilah, kondisi janin begitu baik, detak jantung dan posisi juga sangat baik. Jika Bu Nada Mengalami gejala mual dan sebagainya di trimester pertama. Maka di trimester kedua pastinya sudah berkurang dan Bu Nada akan merasa lebih sehat." ucap Dokter Dea sambil memberikan beberapa vitamin pada Nada.
__ADS_1
Nada tersenyum dan memandang Dokter Dea.
"Ada yang ditanyakan?" tanya Dokter Dea.
Nada menggeleng, berbeda dengan Radit yang tampak menyimpan sejuta pertanyaan di benaknya.
"Maaf Dok, dari pada saya penasaran saya mau bertanya saja," Radit melirik Nada dan tersenyum kaku, kemudian Radit memandang ke arah Dokter Dea.
"Iya, apa yang ditanyakan. Pak? "
"Apa masih boleh kami melakukan?" tanya Radit. Nada menghela napas panjang. Selalu seperti itu, iya selalu seperti itu pertanyaan Radit di setiap bulannya. Selalu membuat Nada merasa malu di hadapa Dokter, Nada tampak mengernyitkan dahinya.
"Melakukan?" tanya Dokter Dea dan diangguki oleh Radit. Dokter Dea tersenyum, dia tau pasti Radit juga ingin tau, karna setiap bulannya pasti ada perubahan. Barang kali saja ada hal lain yang mengganggu. Maka bagi Radit pertanyaan itu pertanyaan wajib baginya.
"Melakukan Bu," Ujar Radit lagi sambil nyengir kuda. Nada membelabakkan matanya. merasa malu di depan Dokter Dea. Mendengar ucapan Radit , Dokter Dea tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Boleh saja melakukan, asalkan dengan batas wajar. Kehamilan bukan sebuah penghalang bagi ibu hamil untuk berhubungan intim dengan pasangan. Hubungan intim aman dilakukan selama kondisi kandungan ibu sehat dan kuat," ucap Dokter Dea sambil memberikan buku KIA pada Nada. Radit mengangguk. Nada melirik suaminya.
"Masih ada yang ditanyakan lagi? "tanya Dokter Dea.
"Kira-kira berapa hari dalam seminggu ya Dok?"tany Radit. Nada memelototinya dan menghela napas panjang. Dokter Dea hanya tersenyum tipis.
"Pada kehamilan yang normal, tidak ada alasan untuk menghentikan aktivitas seksual, selama Anda nyaman melakukannya silahkan saja itu tergantung dari ibu Nada. Karna kan semakin lama perut pun semakin membuncit, dan terkadang itu membuat sang ibu sedikit merasa malas, pintar-pintanya Anda merebut hati ibu hamil," celetuk Dokter Dea sambil memandang ke arah Radit. Radit tersenyum tak jelas dan menganggukkan kepalanya. Nada hanya menghela napas, pasti suaminya merencanakan sesuatu.
"Kalo begitu kami pamit dulu Dok, trimakasih atas pelayanan nya," pamit Nada dan Radit bergantian.
"Sama-sama, Nona, Tuan. Semoga lancar selalu sampai nanti melahirkan."
"Amin...," jawab Nada dan Radit serempak. Nada dan Radit beranjak dari duduknya. kemudian berjalan beriringan menuju mobilnya. Radit tampak tersenyum-senyum memandang Nada kemudian membuka pintu mobil untuk istrinya.
"Kenapa tersenyum?"tanya Nada.
"Aku sangat bahagia, apa tidak boleh aku tersenyum?" tanya Radit kemudian berjalan ke arah kemudinya dan duduk disana kemudian melajukan mobilnya.
"Kenapa bertanya seperti tadi terus Yang? Kan jawabannya sama setiap bulanya, intinya boleh yang penting tidak kasar begitu kan?" tanya Nada Sewot. Radit terkekeh.
"Aku hanya ingin tau saja, tadinya aku pikir aku tidak boleh melakukannya jika sudah trimenste ke dua. tapi sekarang aku sudah faham," tutur Radit sambil tersenyum.
"Alasan," celetuk Nada dan membuat Radit terkekeh.
"Maaf, aku janji bulan depan tidak lagi," ucap Radit.
"Okey aku ingat," ucap Nada. Radit menggangguk.
Nada tersenyum bahagia, mereka saling berpandangan kemudian Radit melajukan mobil menuju ke arah Manshion keluarga Micho.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1