Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Masih bersama Amara


__ADS_3

Radit, Nada, Micho dan juga Amara kini sedang bercengkrama di depan Manshion. Sedangkan keluarga yang lainya telah pulang. Mereka masih menunggu Bi Rini yang sedari siang setelah acara tiga bulanan pergi bersama dengan Papa Prayoga.


"Pokoknya tunggu sampai Bi Rini pulang, Bi Rini sangat merindukanmu. Kau jahat sekali tak pernah pulang ke rumah ini," ucap Micho panjang lebar.


"Apa baby Zie belum bangun?" tanya Nada pada Amara.


"Sebentar lagi baby Zie bangun. Apa mau mau menggendongnya?" tanya Amara, Nada mengangguk pelan.


"Iya, aku merindukannya." jawab Nada.


"Sebentar lagi pasti dia bangun," ucap Amara.


"Ngomong-ngomong apa yang kalian lakukan jika baby Zie tidur seperti ini? " tanya Nada.


Amara dan Micho saling berpandangan, Amara menundukkan kepalanya. Nada mengamati keduanya, Amara dan Micho malah tersenyum senyum tak jelas.


"Kenapa kalian senyum senyum? Apa kalian melakukan sesuatu di tengah kesempatan?" tanya Radit mencairkan suasana. Radit melirik ke arah Kakaknya tersebut.


"Ternyata kau semakin pintar menebak. Belajar dari mana seperti itu, hem?" ucap Micho. Radit tertawa mendengar celoteh kakaknya. Mereka menatap ke arah taman yang disuguhi beberapa camilan.


Mereka segera duduk di taman, mengambil tempat berdampingan dengan pasangan masing-masing. Mereka mengamati beberapa makanan di meja yang begitu menggugah selera.


"Sebenarnya sih tadi sudah makan, tetapi keliatannya mubadzir jika melewatkan camilan malam dengan menu yang menggugah selera seperti ini," ucap Radit.


Mereka tertawa bersama. Nada mengambil makanan untuk Radit. Sedangkan Amara memperhatikan keromantisan mereka dengan seksama. Micho mengamati gelagat Amara yang memperhatikan kemesraan dua orang di depannya.


"Nyonya Amara, apa tidak ada minat mengambilkan makanan untukku?" tanya Micho. Nada dan Radit menoleh bersama, memandang wajah merah Amara yang tampak malu, ucapan Micho bagai telak untuknya.


Seketika Amara berdiri, mengambil satu piring dan mengambil beberapa camilan di atas meja depanya. Amara kembali duduk dan menatap ke arah suaminya.


"Bukan hanya minat mengambil makanan untukmu saja, Tuan. Aku juga sangat minat menyuapimu, Kamu harus menghabiskan makanan ini." ucap Amara sambil tersenyum menang.


Micho membelabakan matanya, pasalnya Amara mengambilkan dua kali lipat porsi makan yang sanggup ditampung perutnya. Nada dan Radit yang menikmati makanan itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, melihat aksi dua orang yang memang tak pernah ada yang mau mengalah tersebut.


"A.." ucap Amara. Mau tidak mau Micho membuka mulutnya. Amara menyuapi Micho dan lagi-lagi tersenyum menang.


"Amara, kamu tidak makan?" tanya Nada. Amara tersenyum tipis.


"Kamu tau Nad, aku sudah sangat kenyang melihat suami tercinta ku makan dengan lahab. Bukannya menjadi istri yang baik itu memperlakukan suaminya dengan baik di segala kondisi?" ucap Amara sambil melirik ke arah Micho yang tampak kepedasan karna karna menelan cabe merah di suapan Amara.

__ADS_1


Nada hanya mengangguk pelan mendengarkan penjelasan kakak ipar dan juga sahabatnya itu. Micho mengulurkan tangan mengambil gelas yang berisi air putih di depannya.


"Astaga, kamu kepedasan yang?" tanya Amara. Micho tampak diam, Amara benar-benar membuat emosinya berada di ubun ubun.


"Radit. Sebaiknya cepat selesaikan makanmu. Kita menunggu Bi Rini di depan," ucap Micho pada adiknya.


Radit dan Micho berlalu, hanya Nada dan Amara yang berada di meja. Nada memandang sisa makanan di depan Amara, menatap Amara dengan senyuman yang begitu manis.


"Lain kali jangan seperti itu, itu tidak baik. Perlakuan suamimu dengan baik, maka Allah akan memberikan pahala yang begitu besar untukmu," ucap Nada.


"Siap bu ustadzah," ucap Amara yang memang selalu jahil kepada suaminya.


Nada memukul pelan pundak Amara kemudian membereskan piring yang ada di meja makan. Amara membantu Nada, keduanya asik mencuci piring hingga tangisan bayi mungil terdengar di telinga mereka.


"Baby Zie," ucap keduanya bersamaan, tanpa menunggu lama Nada dan Amara berjalan mendekat ke arah kamar Amara dan Micho.


Bayi mungil itu menangis, wajah putih bersih itu tampak merah. Amara mengangkat tubuh mungil putranya. Menyibak sedikit bajunya dan memberikan asi untuk bayinya.


"Sayang, ada aunty Nada. Lihat aunty memberikan baju baru untukmu," ucap Amara sambil meletakan paperbag ke atas meja.


Setelah dirasa tidak haus lagi, baby Zie melepas asi dari ibunya. Wajahnya yang menggemaskan menghadap ke arah Nada.


"Nad, kamu bahagiakan?" tanya Amara sambil memandang ke arah Nada. Amara melipat beberapa baju Baby Zie yang baru saja kering tadi.


"Bahagia, aku bahagia," jawab Nada.


"Syukurlah kalau begitu Nad, aku sempat membaca beberapa berita yang tidak mengenakan di koran tentang hubunganmu dengan Radit, tentang kebencian Mama Radit padamu, walaupun pada akhirnya ada juga berita yang memberitakan bahwa Radit mengumumkan pernikahan kalian, tapi rasanya aku masih meragukan itu semua, jika aku belum mendapat penjelasan darimu," ucap Amara sambil menatap ke arah Nada dan tersenyum.


Nada menatap ke arah sahabatnya dan tersenyum.


"Tadinya memang semua tidak baik baik saja, tapi sekarang semua berubah. Mama mertua sangat baik sekarang, semua itu juga karna kamu Ra. Karna sheyna bontique milik kita," ucap Nada sambil memandang Amara.


"Alhamdulillah kalau memang seperti itu Nad, aku bahagia mendengarnya. Apalagi sekarang aku melihatmu hamil seperti ini. Ini bukti jika memang kamu dan Radit telah menyatukan hati untuk saling memiliki, kalau begini adanya. Aku tidak perlu hawatir lagi, aku bahagia melihat kamu, sahabat terbaik untukku juga merasakan kebahagiaan yang sama," ucap Amara panjang lebar.


Keduanya tersenyum, menggoda baby Zie yang sedari tadi menatap ke arah Nada dan tersenyum bahagia.


❤❤❤❤


Di luar sana, Micho dan Radit bercengkrama lama, mereka saling mengagumi dan saling bercerita ria. Bahkan sesekali mereka tertawa mengingat masalalu. Tak menyangka saja jika Radit adalah orang yang hebat.

__ADS_1


Lebih hebat lagi saat Radit mempunyai segalanya dan malah memilih menjadi anak angkat dari bibi Rini. Satu hal yang sangat istimewa yang terletak pada diri adiknya.


"Aku bahagia bisa bertemu dengan Nada Kak, bahkan karna Nada sekarang keluargaku bersatu. Mama berubah, adik yang aku anggap pembawa sial ternyata mempunyai darah yang sama denganku, aku bangga Nada bisa memberikan hal positif di setiap kehidupanku," ucap Radit. Micho tersenyum bahagia.


Melihat adiknya bahagia adalah hal yang menjadi angannya.


"Nada memang wanita yang baik, dia juga istimewa sama sepertimu. Tapi kamu harus tau, jika wanita teristimewa bagiku tetaplah Sheyna Amara," ucap Micho sambil terkekeh. Radit tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Asalamualaikum," suara itu mengagetkan Radit dan Micho. Keduanya menoleh. Papa Prayoga dan Bi Rini datang bersamaan. Mereka tampak bersama sama. Yang membuat Radit tercengang adalah ketika melihat tangan Bibi Rini yang tengah bergandengan dengan Papa Prayoga.


Radit menautkan alisnya, ada apa? Sedangkan Bibi Rini mengamati wajah di depannya. Wajah yang tak asing dan sangat dirindukannya.


"Ibu," ucap Radit. Bi Rini melepaskan genggaman tangan Papa Prayoga dan memeluk Radit. Air mata bi Rini meleleh. Dia mengusap pundak Radit.


"Apa benar ini kamu Nak? Ibu merindukanmu, kenapa tidak pernah mengunjungi ibu?" tanya Bi Rini.


"Iya ini Radit, Radit pulang membawa mantu untuk ibu," ucap Radit. Bi Rini melepaskan pelukannya dan menatap Radit.


"Mantu untuk ibu?" tanya Bi Rini dan diangguki oleh Radit.


"Kalau kamu membawa mantu untuk ibu. Maka ibu mempunyai ayah untukmu," ucap Papa Prayoga pada Radit. Radit membelalakan matanya. Menatap ke arah Ibu dan Papa angkatnya. Mereka menikah?


"Apa benar begitu Kak?" tanya Radit dan diangguki oleh Micho. Radit mendekat ke arah papanya dan memeluk papanya sejenak.


Mereka tertawa dan merasa bahagia. Bi Rini sedikit malu dan menatap putranya angkatnya.


"Mana mantu ibu?" tanya Bi Rini.


"Ada di dalam, bersama dengan Amara," ucap Radit.


Nada dan Amara yang mendengar suara Bi Rini segera keluar. Mereka ikut bercengkrama di depan. Mereka melepas Rindu dan saling bercerita satu sama lain. Nada merasa bahagia mempunyai keluarga baru. Bahkan di dalam keluarga ini, dia dan Amara adalah saudara ipar.


"Sakinah, mawadah, warohmah selalu untuk keluarga kita, Ra," lirih Nada sambil mencium pipi baby Zie yang menggemaskan.


"Amin yarobal 'alamin," sahut Amara. Mereka bercengkrama dan menghabiskan waktu bersama, hingga pada akhirnya Radit dan Nada pamit untuk pulang.


Tak lupa, mereka juga mengundang keluarga ini untuk datang di acara yang akan diadakan dua minggu lagi.


❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2