
Masih di depan danau yang indah, Vino dan Micel menikmati malam ini. Jarang sekali mereka berdua, bahkan belum pernah sama sekali.
Micel kini berdiri tegak memandang wajah tampan di depannya. Hembusan angin malam menerpa wajahnya, membuat rambut Micel beterbangan menampakkan wajah cantik yang begitu menghipnotis mata Vino. Vino memegang dagu Micel mengamati bibir cantik milik istrinya. Sudah hampir sebulan menikah, baru sekali saja merasakan bibir itu. Vino mencondongkan wajahnya, mendekatkan kepalanya ke arab Micela.
"Kamu itu mau apa Kak? Ini di luar, apa tidak malu dilihat banyak orang nanti?" ucap Micel sambil mendorong pelan dada Vino.Micel melangkah pergi, senyumannya mengembang. Sedangkan Vino menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya Tuhan, kenapa baru kali ini aku menyadari indahnya punya istri, andai saja aku bisa bersyukur. Andai saja aku tidak egois, mungkin kali ini aku sudah mempunyai kabar bahagia untuk mama, sekarang? Jangankan bermain bola. Menciumnya saja baru sekali," gerutu Vino dalam hati.
Vino mempercepat langkahnya mengikuti Micel yang terus berjalan menuju ke pinggir danau yang sangat begitu sepi. Micel menarik napas panjang, merentangkan tangannya. sambil menikmati terpaan demi terpaan angin malam yang begitu membuai dirinya, Micela memejamkan matanya. Merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mempunyai Mama yang menyayanginya, kakak yang menyanyanginya, Kakek, Nenek, kakak ipar, Mama mertua, papa mertua, semuanya menyayanginya.
"Alhamdulillah, terimakasih atas segala nikmat yang kau berikan ini Ya Allah, Semoga kedepannya engkau memberiku nikmat yang lebih indah lagi, Amin, " ucap Micela sambil tersenyum memandang ke arah bintang malam yang bertaburan di langit.
"Amin," sahut orang yang kini ada di belakang tubuhnya.
Sebuah pelukan hangat mendarat dipinggangnya. Vino yang memang lebih tinggi dari Micel menempatkan dagunya diatas kepala Micel, tangannya melingkar sempurna dipinggang istrinya.
Hati Micela terasa hangat, ketenangan tercipta di dalam dirinya. Micel dan Vino menikmati kebersamaan ini. Mereka mencoba berdamai dengan keadaan.
"Apa kamu tidak takut jatuh cinta padaku Tuan Vino?" tanya Micela sambil tersenyum. Vino mengeratkan pelukannya, merasakan kehangatan yang menyelimuti hatinya.
"Bahkan jika harus berkali-kali jatuh cinta padamu aku tidak keberatan. Mungkin sebenarnya aku sudah lama jatuh cinta padamu, tapi aku tak bisa mengartikannya," ucap Vino. Micel terdiam, menghela nafas panjang. Senyumannya mengembang, Micel menggenggam erat tangan Vino yang berada dipinggangnya, tatapanya masih saja mengarah pada danau yang nampak indah di depannya.
"Sebenarnya aku tau itu, aku cantik. Bahkan aku sangat imut, jika kakak tidak jatuh cinta padaku itu adalah hal yang mustahil," ucap Micel sambil terkekeh pelan. Vino terkekeh juga, Vino memutar tubuh Micel sehingga mereka saling menatap.
"Kenapa kau narsis sekali Nona Micel?" tanya Vino sambil menyelipkan rambut Micel di telinga. Micel tersenyum dan memejamkan matanya, wajahnya merona merah. Sebulan menikah, belum sekali pun mereka liburan. Hari ini benar benar hari yang membahagiakan untuk pasangan yang berselisih umur sembilan tahun itu.
"Aku akan berproses untuk mencintaimu, Nona Micela," ucap Vino. Micel tersenyum manis.
"Biarkan mengalir seperti air, lagi pula tidak sulit untuk jatuh cinta pada manusia cantik sepertiku, kak," ucap Micel. Vino yang gemas memberikan cubitan kecil di pinggang Micel sehingga gadis itu tertawa karna merasa geli.
"Kenapa mencubitku Kak?" tanya Micel sedikit kesal.
"Kenapa kau itu narsis sekali?" sanggah Vino.
__ADS_1
"Aku bicara jujur apa adanya, Kak," ucap Micela. Vino tersenyum singkat kemudian mengangkat tubuh ramping Micela. Gadis cantik itu terkejut dan memejamkan kedua bola matanya dan merangkulkan tangannya di leher Vino. Vino membawanya berjalan ke arah mobilnya.
"Aku ingin hubungan kita semakin membaik. Semakin dekat, sehingga kita bisa melakukan hal yang indah di dalam kamar," ucap Vino.
Micel membelabakan matanya, menutup mulut Vino dengan telapak tangannya. Wajahnya merona merah menahan malu. Vino tersenyum jahil sambil menatap ke arah istrinya yang menahan malu dengan wajah merah merona itu.
"Kenapa malu? Sudah sewajarnya kan suami istri melakukan hal indah di dalam kamar? Sepertinya para readers sudah terlalu bosan melihat pertengkaran kita yang hampir setiap hari. Mereka juga jengkel dengan sifatku yang tidak tegas, sekali kali lah, aku berusaha menyenangkan mereka juga," ucap Vino sambil menatap ke arah Micela.
Kini Micela mencubit pinggang Vino. Vino tertawa, Micel membuka pintu mobil. Vino mendudukan Micel dan menutup pintu, kemudian berlari ke arah kemudi.
"Micel,." sapa Vino, Micela menoleh.
"Ya.."
"Aku berharap kamu satu satunya orang yang mendampingi ku untuk selamanya," ucap Vino.
Vino menghadap ke arah Micela, mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya. Vino meraih tangan Micel dan memasangkan cincin berlian yang indah dijari manis Micel. Micel terkejut, air matanya mengalir deras. Netranya memandang jari kanannya. Tangan kirinya mengusap air mata yang berlinang tanpa diminta. Mulutnya bungkam tanpa berkata.
"Maaf, bahkan baru sekarang aku mencoba membahagiakanmu, maaf jika sebelum sebelumnya aku terlalu abai padamu," ucap Vino.
"Kak Vino, boleh aku memelukmu?" tanya Micela. Vino menatap teduh ke arah Micel, senyumnya mengembang. Vino mengangguk pelan.
Vino merentangkan dua tangannya. Micela menenggelamkan wajahnya di dada bidang Vino, mereka saling menguatkan, saling mendukung, saling mendoakan, jantung mereka terasa berdetak lebih cepat.
"Terimakasih Kak," ucap Micel.
"Hem, bahkan bila ingin memelukku terus juga tidak apa apa," ucap Vino. Lagi lagi ucapan Vino mampu menerbitkan senyum indah Micel.
"Sebaiknya kita pulang Kak, Aku merindukan Mama. Sudah dua hari aku tidak bertemu dengannya," ucap Micela dengan tenang.
"Hem, pasti mama sangat merindukanmu juga," ucap Vino. Micel menghela napas panjang sambil mengusap dada bidang suaminya dengan telapak tangannya.
Vino merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik saat mendapatkan sentuhan dari tangan Micel. Tubuh bagian bawahnya meronta. Vino hanya diam, mencoba untuk berdamai dengan keadaan.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Angin malam sangat tidak baik untuk kesehatan. Vino segera melajukan mobilnya menuju ke Manshion Pradikta. Mereka menikmati musik yang mengalun lembut. Kebahagiaan terpancar dihati keduanya.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di pelataran Manshion Pradikta. Micel dan Vino segera turun dari mobil dan menapaki anak tangga menuju ke atas.
Mama Elina dan Papa Pradikta tampak panik karena mendapatkan kabar yang kurang enak dari Willy tentang Vino dan Micel. Mereka tampak duduk di sofa.
Micel memejamkan mata indahnya, merasakan detakan jantung yang tak beraturan karna pemandangan ini.
"Asalamualaikum Mama," ucap Micel memberi salam. Micel dan Vino tersenyum sambil berjalan ke arah mama dan papanya. Mama Elina menatap kedatangan orang yang sangat dirindukannya.
Mama Elina berdiri dan segera menghampiri Micel dan Vino, begitu juga dengan papa Pradikta.
"Sayang, kalian baik baik saja kan?" tanya Mama Elina sambil mengamati Micel dan Vino dari unjung rambut sampai ujung kaki.
Micel mengangguk pelan, Micel memeluk erat Mama mertua yang sejak kemarin menghawatirkan dirinya.
"Alhamdulillah kalau begitu Sayang, lain waktu jika Vino bandel jangan sungkan menelpon mama. Mama sangat menghawatirkanmu, sampai mama merahasiakan kabar buruk ini, dari keluargamu," ucap Mama Elina. Micel tersenyum, tindakan mama Elina sudah benar. Karena kalau sampai keluarganya tau, semuanya akan hawatir padanya.
"Terimakasih Ma," ucap Micel dan diangguki oleh Mama Elina.
Papa Pradikta menghela napas lega melihat putranya dan menantunya baik baik saja.
"Oh iya Vino, Micel. Mama ada kabar bahagia untuk kalian," ucap papanya dengan binar kebahagiaan. Vino menatap ke arah papanya yang berdiri di depannya.
"Kabar apa Pa?" tanya Vino. Micel tampak antusias mendengar apa yang akan disampaikan oleh papa mertuanya itu.
"Vina, kembaranmu telah ditemukan," ucap Papa Pradikta sambil tersenyum bahagia. Vino tampak membelalakan mata elangnya. Apa benar semua itu? Vina? Kembarannya masih hidup? Dimana dia sekarang?
๐น๐น๐นโคโค
Prang Prang
Di sebuah manshion mewah, seorang wanita tampak mengamuk sambil ******* ***** kertas di tangannya.
__ADS_1
"Kalian bodoh, menghabisi satu wanita saja tak sanggup? Mencengangkan! Pergi saja kalian semua, aku tidak butuh kalian," ucap Asila tampak emosi. Asila menghela napas panjang dan mengusap kasar wajahnya. Tampaknya dia kembali merencanakan sesuatu.
โคโคโค๐น๐น๐น