Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Membangkang 1


__ADS_3

Micel membuka mata indahnya, mengerjabkan-ngerjabkan matanya. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima subuh. Micel mendapati dirinya yang masih di atas ranjang


Seingatnya dia tidak berselimut, akan tetapi dia melihat dirinya tengah berselimut. Micel tersenyum sinis, apa iya ini Tuan Vino manusia aneh itu yang menyelimutinya?


Micel melirik ke sofa, tidak didapatinya suami kejamnya di sana. Kejam? Benar, sangat kejam. Suami yang tega menikahi anak gadia orang tanpa cinta, menikahi dengan alasan menjaga dan tidak memberikan kebebasan kepadanya. Suami macam apa itu?


Micel menyibak selimutnya, berdiri dan melirik ke arah mekena di atas nakas. Ya, mekena itu adalah hadiah yang kemarin diberikan oleh kakak iparnya. Micel menghela napas panjang dan melangkahkan kaki ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Mengambil air wudhu dan melaksanakan ibadah Shalat subuh dua rokaat.


Sesudah melaksanakan Shalat, Micel berdiri di depan kaca rias. Micel memandang ke arah cermin dan menatap wajahnya kemudian memoles sedikit wajahnya dengan Make up. Micel menghentikan kegiatanya ketika memorinya menangkap bayangan mimpi tadi malam.


"Mimpi itu," Micel memegang pelipisnya. Menahan denyutan hebat yang ada di kepalanya. Bayangan lelaki itu menari di otaknya, akan tetapi tidak bisa dia mengingat wajahnya.


Lelaki yang hampir saja tertembak oleh peluru yang di todong oleh beberapa orang yang mencoba membawa lari anak kecil yang mencoba mereka selamatkan.


Micel terduduk dan menahan sakit yang mendera, semakin dia mencoba mengingat semakin sakit rasa yang mendera di kepalanya.


"Nona Micel," Mbak Arin yang saat itu masuk untuk mengantarkan ponsel pada Micel segera mendekat ke arah Nona Mudanya yang tampak kesakitan.


"Nona Micel kenapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. Micel mendongak dan menatap Mbak Arin dengan tenang.


"Aku tidak papa Mbak, hanya saja sepertinya aku butuh refresing," ucap Micel sambil tersenyum. Mbak Arin membelalakan matanya, Tuan mudanya baru saja menelpon dan meminta disambungkan pada istrinya.


Tuan muda mengatakan jika tidak boleh membiarkan Nona Muda pergi dan sekarang Nona mudanya mau refresing?


"Maaf Nona, tadi Tuan Muda menelpon. Meminta Nona muda mengangkat telpon, beliau juga berpesan agar Nona muda tetap di mansion," ucap Mbak Arin. Micel menghela napas panjang. Vino menelpon? Mengirim pesan? Hais, bodo amat.


Haruskah menurut? Suami yang bagaimana dulu yang harus dituruti? Suami yang bagaimana yang harus di taati? Seperti Vino? Ah, tidak. Bahkan Vino jauh dari kata sempurna. Micel tersenyum dan memandang Mbak Arin.


"Aku akan pamit pada mama, Mbak Arin tidak usah takut. Nanti aku akan izin pada Mama saja," ucap Micel kemudian meraih tasnya dan melangkah ke luar kamar. Mbak Arin menatap kepergian Micel kemudian membereskan kamar majikannya itu.


Micel berjalan menuruni tangga dengan tenang, ini untuk pertama kalinya dia akan semeja makan dengan kedua mertuanya. Jantungnya berdetak hebat, makan bersama mertua tanpa suami, dan entah suaminya pergi ke mana. Mengenaskan sekali hidupnya.


"Selamat pagi Micel sayang," sapa Mama Elina sambil berdiri menyambut Micel dengan bahagia. Berjalan ke arah Micel dan merangkul pundak menantu cantiknya.

__ADS_1


Papa Pradikta juga menatap ke arah Micel yang kini menatapnya dengan senyuman indah.


"Pagi Pa," sapa Micel dan diangguki oleh papa mertuanya.


"Pagi Sayang, nyenyak tidurnya? Vino semalem pergi. Biasanya kalau pergi malam begitu dia ke rumah Wily. Mungkin ada hal yang dikerjakan di sana," ucap Papanya.


Micel tersenyum, Micel dan Mama Elina berjalan ke arah meja makan dan duduk di sana.


"Sudah rapi sekali mau kemana Nak?" tanya Mama Elina. Micel tersenyum dan menatap ke arah kedua mertuanya.


"Sebenernya Micel ingin jalan jalan Ma, Micel ingin mengajak Mama. Selain itu juga Micel ingin mencoba untuk belajar bekerja," ucap Micel dengan senyum indahnya.


Mama Elina tersenyum dan mengusap pundak Micela.


"Sanyang, Mama bahagia sekali jika bisa jalan jalan sama kamu, masalahnya Mama dan Papa ada acara ke luar kota pagi ini. Bagaimana kalau lain waktu?" tanya Mama Elina.


"Micel inginya pagi ini ma, atau enggak yang penting Micel izin keluar aja sama Mama dan Papa. Jadi nanti Kak Vino enggak bingung nyariin akunya. Nanti kalau enggak dapat izin dari mama dan papa sih aku juga enggak enak mau keluar," ucap Micel sambil tersenyum.


"Sayang, sebenarnya Mama ingin sekali menemanimu," ucapnya sambil mengusap pelan pipi Micel.


Micela terdiam, sepertinya keluar dengan sopir bukan solusi. Micel menggelengkan kepalanya pelan.


"Nanti aku akan menghubungi kakak ipar Ma, Pa. Jangan menghawatirkan aku," ucap Micel sambil tersenyum.


"Benarkah begitu?" tanya Mama Elina dan diangguki oleh Micela. Mama Elina menatap ke arah suaminya.


"Bagaimana Tuan Besar?" tanya Mama Elina..


"Boleh keluar, tapi tetap pakai pengawal. Papa tidak mau ambil resiko, lagi pula Vino juga pasti akan setuju kalau Micel di jaga oleh pengawal." ucap Papanya.


Micel menghela napas dalam dalam, merencanakan sesuatu yang lain. Entah kenapa dia ingin kabur dari pengawal itu, jalan jalan sendiri dan membahagiaan hatinya. Pergi sejenak untuk meluapkan kekesalanya, pergi sejenak agar bisa melegakan hatinya. Yang penting nanti dia kembali lagi, bukankah tidak masalah?


Mama Elina menatap ke arah Micel dan tersenyum.

__ADS_1


"Sekarang sarapan dulu, yang lain dipikir nanti saja. Mama Rasa untuk berpikir kita memang membutuhkan asupan," ucap Mama Elina sambil tersenyum.


Micel terkekeh pelan dan menatap ke arah Mama mertuanya.


"Terimakasih Ma, Micel sangat bahagia bisa mempunyai mama mertua sebaik Mama," ucap Micel. Mama Elina meraih Micel dalam dekapannya.


"Selamat pagi Tuan Vino yang Terhormat, mungkin aku tidak berarti di benakmu. Tapi aku berarti di depan Papa dan Mamamu, kalaupun tidak kamu izinkan aku keluar. Bagiku mendapat izin dari Mama dan Papa adalah lebih dari cukup. Maaf Tuan Vino yang terhormat, jika aku menjadi istri yang membangkang," batin Micel menggerutu. Bibirnya tersenyum tipis.


"Sama sama Sayang," ucap Mama Elina kemudian meneruskan lagi sarapannya. Micel mengambil nasi dan ikut sarapan. Hanya dentingan suara yang terdengar, mereka menikmati sarapan pagi dengan kidmad.


Tak lama kemudian, mereka telah menyelesaikan sarapan pagi. Mama Elina dan Papa segera berdiri dan bersiap. Micel juga melakukan hal yang sama.


"Micel, Pak Amar akan mengantarmu. Kamu hati hati," ucap Papanya. Mamanya tersenyum dan menatap menantunya dengan bahagia.


"Sekali lagi terimakasih Ma, Pa, telah memberi izin pada Micel," ucap Micel dengan tenang.


"Sama sama, Sayang," jawab Papanya.


"Maaf Nyonya besar, Tuan Besar. Tapi Tuan Muda tidak memberikan izin keluar untuk Nona Micel," Mbak Arin yang baru saja turun dari lantai dua kini menyela ucapan majikannya.


Mama Elina dan Papa Pradikta menoleh ke arah asistennya rumah tangganya itu.


"Sudahlah, kali ini saja kami yang mengizinkannya. Jika Tuan Mudamu marah, suruh dia protes pada kami. Kami hanya ingin dia juga tau cara menyenangkan istri," ucap Papanya sambil tersenyum kemudian melangkah pergi diikuti Mama Elina.


Micel menatap Mbak Arina sambil tersenyum.


"Embak tenang saja, aku dapat izin dari mama dan Papa," ucap Micel sambil menepuk pelan pundak Mbak Arina kemudian melangkah ke arah parkiran rumah.


"Aku menang Tuan Vino," ucapnya sambil melirik ponselnya yang beberapa kali mendapat panggilan dan pesan dari nomer baru yang dipastikan nomor ponsel suaminya.


😆😆😆


Mampir juga di karya sahabat othor ramah yang tentunya keren juga😀😀😀. Jangan lupa like komen dan vavoritkan ya...

__ADS_1



__ADS_2