Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 55


__ADS_3

"Apa yang membuatmu menangis?" suara itu membuat Nada terkejut. Siapa yang berada di kamarnya?


Nada mendongak, dilihatnya Radit berada di sofa sambil membaca koran harian yang belum sempat di bacanya. Nada berdiri dan mengusap air matanya. Bagaimana bisa dia masuk kasini? Sedangkan Radit berjalan ke arahnya dan berdiri di depan Nada. Mengamati wajah cantik yang tampak sembab karena menangis.


Radit mengulurkan tangannya dan mengusap air mata Nada. Nada terpaku sejenak, dirinya seakan membeku karna perlakuan suaminya. Keduanya saling menatap. Entah alasan apa dia merasa lega melihat Radit ada di hadapannya.


Nada memejamkan matanya, merasakan debaran jantung yang tak beraturan.


"Asalamualaikum, selamat malam Yang," sapa Nada sambil memegang tangan Radit yang kini berada di pipinya. Radit tampak membeku, sentuhan Nada membuat geleyar aneh membangkitkan sesuatu yang tengah tertidur.


Oh, ****. Radit terdiam dan berlalu begitu saja, dia melepaskan sepatunya dan duduk di sofa. Nada mengikuti langkah Radit dan membantu melepas dasi suaminya. Tampaknya Radit juga baru saja datang sehingga dia juga belum membersihkan diri.


"Kamu mau mandi? aku akan menyiapkan air hangat," Nada bangkit berdiri. Radit menarik tangan Nada hingga Nada kini berada di pangkuannya. Reflek Nada mengalungkan tangannya di leher Radit. Keduanya tampak saling menatap, merasakan debaran yang begitu sesak.


"Aku bisa sendiri, buatkan aku kopi Nona Nada," ucap Radit sambil berbisik pelan di telinga Nada.


Nada hampir saja berdiri dan turun dari pangkuan Radit. Namun, dengan gerakan cepat Radit mengangkat tubuh Nada dan membawa Nada ke dapur. Nada memejamkan matanya, perlakuan Radit begitu manis dan mampu membuat hatinya bergetar hebat.


Radit mendudukan Nada di meja dapur, dia berdiri dan tersenyum memandang wajah ayu istrinya. Nada mendongak dan menatap wajah tampan yang masih memakai jas itu.


Netranya seperti tersihir dengan kecantikan istrinya, segera Radit mengalihkan perhatiaannya dan melangkahkan kakinya kekamar mandi.


Nada tersenyum tipis, sepertinya pesona seorang Radit benar-benar telah meracuni otaknya. Dia pun segera membuatkan kopi untuk suaminya.


Lima belas menit kemudian, Radit telah selesai mandi, dia menggunakan kaos oblong dan celana pendek selutut yang disiapkan oleh Nada.


Dilihatnya Nada masih duduk di sofa, Nada sudah berganti pakaian tidur berwarna biru laut bergambar kartun doraemon. Radit tersenyum melihat wajah yang menggemaskan itu. Radit berjalan mendekat ke arah Nada.


Oh ****, nyawa kedua Radit tampaknya sedang meronta di kedinginan malam ini. Dua hari ini memang kesibukannya membuat dia lupa untuk menghangatkan tubuhnya.


"Yang, kopimu ada di balkon," Nada berdiri dan menatap Radit dengan senyuman indahnya.


Radit mengernyitkan dahinya, apa wanita ini tak mau dirinya di sini? Kenapa menaruh minumannya di balkon? rutuknya.

__ADS_1


"Apa kau tidak suka aku di sini? Kenapa menaruhnya di sana?" tanya Radit.


"Aku suka sekali minum teh disana sambil menatap langit luas, jadi aku ingin kamu menemaniku Yang, apa kamu keberatan?" tanya Nada. Radit tampak terkejut, dia pikir Nada sengaja menjauh. Tapi nyatanya tidak seperti yang dia pikirkan. Radit terdiam.


"Tapi kalau kamu keberatan aku akan mengambil kopimu ke sini," Nada melangkah. Radit menarik tangan Nada hingga keduanya kini saling berhadapan. Radit terus maju hingga keduanya kini ada di pinggiran pintu.


"Kau itu mau apa? ini di luar, apa tidak malu dipandang banyak orang nanti?" ucap Nada gugup sambil mendorong pelan dada Radit.


"Bukankah kau milikku? Kenapa malu?" tanya Radit. Nada membeku, bahkan bersama Rafa tak pernah dia merasakan deguban jantung seperti ini.


Nada kembali mendorong dada Radit dan


melangkah pergi. Sedangkan Radit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengusap wajahnya kasar. Kenapa Nada seakan mempunyai magnet sehingga dirinya selalu ingin mendekat?


"Ya Tuhan," rutuk Radit.


Radit mempercepat langkahnya mengikuti Nada yang terus berjalan menuju ke pinggir balkon. Nada menarik napas panjang, merentangkan tangannya, menikmati tamparan demi tamparan angin yang begitu membuai dirinya, Nada memejamkan matanya. Malam ini dia sangat bahagia.


Sebuah pelukan hangat mendarat di pinggangnya. Radit yang memang lebih tinggi dari Nada menempatkan dagunya diatas kepala Nada, tangannya melingkar sempurna di pinggang istrinya.


"Aku pastikan kau akan jatuh cinta padaku Tuan Sombong," ucap Nada.


Deg, jantung Radit terpacu lebih cepat. Bahkan perkataan Nada mampu mengoyak hatinya lagi.


Radit terdiam, menghela napas panjang. Nada menggenggam erat tangan Radit yang berada di pinggangnya, tatapanya masih saja mengarah pada langit yang nampak indah di atas sana.


"Seberapa yakin dirimu bahwa aku akan jatuh cinta kepadamu?" tanya Radit santai. Nada tersenyum, dia pikir Radit akan marah dengan leluconnya. Tapi kali ini Tuan sombong itu ternyata meladeni bualannya.


"Seyakin sebutir telur, yang akan menetas setelah 21 hari," ucap Nada.


Radit tertawa, dia memutar tubuh Nada sehingga keduanya saling berhadapan. Radit menggenggam tangan Nada dan melingkarkan tangan Nada kearah lehernya.


Nada memejamkan matanya, benar-benar takjup. Radit memperlakukan dirinya begitu sangat manis. Dia pikir malam ini dia akan menderita. Namun nyatanya tidak seperti apa yang di pikirkannya.

__ADS_1


"Sebutir telur?" Radit mengulang, Nada tersenyum.


"Iya.." ucap Nada. Radit tersenyum dan memandang wajah cantik berbalut hijab itu.


"Kau pikir aku akan berproses untuk mencintaimu dalam 21 hari?" tanya Radit sambil menatap lekat wajah Nada.


"Tidak juga," jawab Nada sambil membalas tatapan mata Radit yang begitu membius.


"Lalu?" Radit mendongakkan dagu Nada dan memandang bibir ranum merah muda itu. Om, ****. Rasanya Radit ingin memakan bibir semerah buah stroberi itu.


"Biarkan mengalir seperti air, lagi pula tidak sulit untuk jatuh cinta pada manusia cantik sepertiku," ucap Nada dengan segala kenarsisannya.


Radit lagi-lagi mengulum senyuman. Wanita ini benar-benar membuatnya kelabakan. Lama dirinya tidak tertawa, tapi bersama Nada membuatnya berbeda.


"Kenapa kau itu narsis sekali?" tanya Radit sambil mendekatkan wajahnya hingga keduanya semakin dekat.


"Aku bicara jujur apa adanya." Nada menjawab dan semakin mendekatkan bibirnya. jantung kedua semakin terpacu lebih cepat.


Radit tersenyum singkat kemudian mengangkat tubuh ramping Nada. Nada terkejut dan memejamkan kedua bola matanya.


"Okey, Aku ingin tau bagaimana cara mu menaklukanku. Kau tau, yang aku maksud bukan? Jika kau mampu memuaskanku, aku akan memberimu kesempatan Nona," ucap Radit. Sepertinya Radit yang memang pemain wanita itu tidak akan menyiakan malam ini.


Nada membelabakan matanya, menutup mulut Radit dengan kedua tangannya. Nada bahkan hanya omong kosong belaka, kenapa malah seperti terjebak dalam permainannya sendiri? Tidak mau kalah telak, kini Nada menatap ke arah Radit.


"Okey, aku tidak akan menolak. Tapi ada satu hal yang harus kau lakukan," ucap Nada.


"Apa?" tanya Radit.


"Jangan melakukannya dengan orang lain, lagi" ucap Nada.


Radit terpaku, apa sanggup? Sepertinya Radit belum bisa meyakinkan dirinya. Tadi menurunkan Nada. Rahangnya mengeras. Tatapan matanya berubah 180 derajat.


"Kau pikir kau siapa? Kau bukan siapa-siapa, jangan melonjak Nona, kau harus tau posisimu," Radit melenggang pergi ke dalam. Nada menghela napas panjang.

__ADS_1


😝😝😝😝😝😝


Like, mencapai 125 aku up lagi. wkwkwk. Kalian kenapa suka sekali aku palak. pembaca ribuan likenya ngenes 😭😭😭😭 kan aku sedih.


__ADS_2