Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 96


__ADS_3

Pandangan mereka bertemu dan saling mengunci. Nada tampak terkejut menatap makhluk tampan itu. Raditkah? Kenapa saat Radit berbusana seperti itu malah dirinya seperti wanita penggoda? Keduanya saling berpandangan entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing.


"Apa aku salah masuk kamar?" Radit melepas pecinya dan meletakkan di meja.


Nada tampak kikuk dan memeluk dirinya sendiri, aish dia sangat malu. Kenapa Radit kesini? Aish, bukankah dia juga mengharap kedatangan makhluk tampan itu?


"Sejak kapan disitu Yang?" tanya Nada sambil menarik gamis yang ada di kursi rias. Debaran jantungnya seakan maraton menatap wajah Radit yang terlihat segar dan tampan.


"Baru saja," jawabnya santai sambil melangkah ke arah Nada dan menarik baju gamis itu dan meletakkannya kembali.


Radit berjalan mendekat kemudian menatap hangat wajah cantik yang selalu membuat hatinya berdebar.


Di pandangnya ujung kaki, hingga ujung rambut dengan pandangan yang ber-g@irah. Pandangan Radit membuat Nada terdiam dan mengamati sosok tampan yang kini hanya berjarak dua langkah darinya. Darahnya seakan berhenti beroprasi, jantungnya berdetak hebat, tubuhnya merasakan pan*s dingin tak karuan.


Radit mengusap pelan pipi mulus Nada, Nada merasakan hawa panas yang menjalar di tubuhnya, seperti sengatan listrik yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Aku salah kostum, Yang," ucap Nada kemudian mencoba melangkahkan kakinya.


Dengan gerakan cepat Radit menarik tangan Nada sehingga membuat langkah Nada tertahan di tempatnya. Nada berhenti dan menoleh ke arah Radit.


"Mau kemana hem?" tanya Radit.


Nada terdiam, rasa sesak menyeruak di dadanya. Radit perlahan mendekat, menatap lekat wajah cantik Nada dan mengusap pelan puncak kepala istrinya.


"Aku salah kostum yang, kamu mau jadi imamkan? Aku ambil mekena dulu," ucap Nada hampir saja melangkah.


Ucapan Nada bagai angin segar yang berhembus di telinga Radit. Jadi Tamu Nada sudah pergi? Radit mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum tipis.


Radit mengangkat dagu Nada. Keduanya saling menatap dalam, melihat bibir merah muda membuat gejolak rasa yang menyeruak dihati Radit.


Radit mulai mendekatkan bi birnya, tubuh Nada mulai me negang dan me manas. Desakan rasa aneh membuat keduanya tak ingin menjauh. Pada akhirnya kedua bibir mereka bertautan. Tubuh mereka sedikit bergetar merasakan se nsasi panas dingin yang melebur menjadi satu.


Ciuman itu semakin memanas, dengan lembut Radit m-e-l-umat bibir Nada. Mereka terhanyut dalam ci-uman yang semakin lembut, hangat dan manis.


Namun, Nada segera melepaskan ci-uman panas itu, ia menatap kearah Radit. Wajahnya terlihat memerah. Radit membalas tatapan lembut istrinya. Wajah keduanya tampak bersemu merah.

__ADS_1


"Aku ganti baju dulu, Yang." ucap Nada dengan gugup.


Lagi-lagi Radit menarik tangan Nada. Kini dia pun mengangkat tubuh istrinya di dalam gendongannya. Nada terkejut dan melingkarkan tangannya di leher Radit.


"Yang aku ganti baju dulu," protesnya.


"Kenapa harus ganti jika pada akhirnya tidak pakai juga," bisik Radit sontak membuat wajah Nada semakin memerah.


"Apaan sih," protes Nada. Radit berjalan dan membawa tubuh Nada ke ranjang.


Nada menarik selimut untuk menutup dirinya, namun Radit segera menarik selimut itu dan melempar ke sembarang arah. Nada bangun dan beringsut mundur.


"Yang, apa yang mau kamu lakukan?" lirih Nada.


Dirinya semakin takut saat melihat Radit merangkak ke tempat tidur. Sarung Radit entah kemana, yang jelas saat ini Radit hanya memakai boxer dan baju panjang.


Radit menarik tali Kecil di atas pundak Nada, sejenak ia takjub melihat mulus pundak Nada. kesempurnaan tanpa cela yang dimiliki istrinya. Nada memejamkan matanya, tangannya mencengkeram tali yang terlepas dari tubuhnya. Radit tersenyum, melihat Nada yang seperti ini karena membuat dirinya semakin gemas pada istrinya itu.


"Apa kau sudah siap?" tanya Radit.


Nada menatap Radit dan menghela napas panjang. Dia hanya diam.


Radit tampak sempurna, Nada tak bisa melewatkan pemandangan itu. Radit mendekatkan wajahnya ke arah Nada, napasnya seakan terdengar di telinga Nada dan membuat Nada semakin gugup. Kini bibir Radit berada di belakang telinga Nada, berbisik dengan halus membuat tubuh Nada bergetar hebat.


"Malam ini aku ingin memilikimu seutuhnya," ucap Radit.


Nada mencoba mendorong namun Radit tampak tak bergeming sedikitpun. Bibir Radit beralih ke leher jenjang Nada, sentuhan yang lembut memabukkan membuat tubuh Nada merasakan panas dingin seketika.


Nada tak kuasa lagi untuk menolak atau memberontak. Bahkan dirinya merasakan hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya saat tangan jahil Radit bermain di dua bukit himalaya miliknya. Bibir Radit masih sibuk membuat gigitan kecil memberikan jejak kepemilikan di leher mulus istrinya.


"Emm," lirih Nada dan berhasil membuat Radit menyunggingkan senyum di bibirnya. Radit terus bermain dan menjelajahi ladang bercocok tanam hingga Nada kehilangan kendali. Nada merintih kembali saat Radit kembali memberikan sensasi yang berbeda.


Rintihan Nada terdengar menggoda di telinga Radit, membuat diri Radit semakin menggila. Senjata ampuh Radit merespon sempurna hingga mene gang dan menyesakkan ce lananya. Radit perlahan melepas sing let dan melempar ke sembarang arah.


Kini Nada dapat melihat dengan jelas betapa suaminya itu sangat tampan dan mempesona. Radit menarik dan melempar pakaian Nada. Keduanya tampak malu-malu, mereka terhanyut dalam ci uman panas yang membius.

__ADS_1


Nada benar-benar tidak bisa menghindar dari jeratan perasaan membuncah di dadanya. Dia mencoba untuk menolak kembali namun tubuhnya seakan berkhianat.


Radit mulai bergerak ke bawah dan menemukan hutan belantara yang yang menyimpan lubang ke nik ma tan. Memainkannya dengan satu jari dan bergerak maju mundur sehingga membuat pemilik hutan itu semakin terbang melayang ke angkasa, bibir mereka masih saja bertautan.


****, Sang pemilik belut raksasa merasakan miliknya menegang sempurna saat serangan pemilik bukit menekan titik sensitifnya. Keduaanya sama-sama menegang. Keduanya tampak gugup dan melepas ciumannya, mereka saling memandang dan mengatur pernapasan. Tatapan Radit begitu mendamba menatap ke arah Nada.


"Kamu sudah tau perasaanku, begitupun sebaliknya. Apa boleh aku memilikimu saat ini?" tanya Radit sambil menatap lekat wajah Nada.


Nada mencoba meyakinkan dirinya, Nada memejamkan matanya sebelum akhirnya mengangguk pelan. Radit tersenyum dan mencium puncak kepala Nada beberapa kali.


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati, Baby percayalah padaku." ucapnya.


Pada akhirnya memang Nada harus menyerahkan apa yang menjadi hak Radit.


"Aku akan mengajari cara menyenangkan suamimu, Dear," ucap Radit sehingga membuat Nada memejamkan matanya.


Dengan perlahan Radit bermain dan memimpin permainan dengan lihai, membuat Nada bergetar hebat. Nada menjerit saat merasakan sesuatu yang keras memaksa masuk dan merobek sesuatu di bawah sana. Radit juga merasakan miliknya yang tadi tampak kesusahan, kini merasakan kenikmatan yang tiada tara, sangat berbeda dengan apa yang dirasakan saat dirinya bermain dengan wanita bayaran.


Tangan Nada mencengkeram kuat spray mencoba menyalurkan sakit yang di deranya. Radit mengusap puncak kepala Nada dengan lembut, memberikan ciuman dengan pelan.


Radit mencoba memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Nada. Setelah dirasa Nada tengah tenang, Radit mulai bergerak lincah kembali. Membuat keduanya merasakan kenikmatan surga dunia yang tiada tara.


"I am sorry Dear, aku pastikan kamu tak akan lagi merasakan sakit. Rilex Dear," bisik Radit.


Dengan lembut Radit menancapkan belut Raksasa lebih dalam hingga terasa sampai di titik memabukkan milik Nada. Membuat keduanya mengerang panjang merasakan kenikmatan yang mencapai puncak. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya.


Nada terkulai kehabisan tenaga, dirinya terbaring dan memejamkan matanya. Tubuhnya seakan lemah tak berdaya, Radit? Keperkasaannya benar-benar tak bisa diremehkan.


Sementara Radit yang kini masih berada di atas Nada, dia tersenyum tipis sambil memandang wajah Nada yang kelelahan. Dia juga tersenyum saat melihat beberapa tanda kepemilikan di sekujur tubub putih mulus Nada.


Radit merasa puas saat dirinya mampu memberikan kenik matan pada Nada.


"Terimakasih, Dear," lirihnya sambil membaringkan tubuhnya di samping Nada. Radit menarik selimut dan menutupi tubuh Nada dan dirinya.


Radit melingkarkan tangannya di pinggang ramping Nada yang saat ini telah memejamkan matanya.

__ADS_1


🙈🙈🙈😘😘😘


entahlah,otor tak bisa memberikan lebih dari ini.. wkwkwkkw


__ADS_2