Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 86


__ADS_3

"Pelukan dilanjut Nanti, kau tau aku sangat lapar. Sebaiknya kita makan, lalu kita akan menghabiskan malam panjang," bisik Radit di telinga Nada.


Nada memejamkan matanya, tampaknya wajahnya merah merona. Nada mencubit pinggang Radit dan membuat Radit membelalakkan matanya.


"Kenapa mencubitku? Sakit, Dear," keluh Radit sambil mengusap pinggangnya dengan tangan kananya.


"Habis nyebelin," Nada berjalan ke dalam diikuti oleh Radit di belakangnya.


"Kamu marah?" tanya Radit, Nada sedikit menggeser langkahnya hingga ia berada tepat di depan Radit.


Radit menatap kearah Nada dengan cinta, menggenggam tangan Nada kemudian meletakan di pinggangnya sesaat kemudian Radit mengalungkan tangan Nada di lehernya. Tanganya menyentuh sebuah remot hingga terdengar lantunan musik. Mereka berdansa, menikmati alunan lagu yang indah.


Nada menatap wajah datar yang kini menunduk membalas tatapan matanya. Debaran jantungnya tak karuan, rasanya menyesal mengambil posisi yang seperti ini tadi. Mau tidak mau dia harus mengikuti permainan Radit untuk berdansa. Ya, berdansa untuk yang pertama kalinya.


"Jangan mengabaikan aku. Apa aku keterlaluan, Nona Nada?" tanya Radit, ia menunduk, tubuh Radit yang lebih tinggi mengharuskan Nada mendongakkan kepalanya.


Radit terdiam, jauh dilubuk hatinya ada rasa yang menggelora, sentuhan hangat dari istrinya membuatnya kelabakan bahkan nyawa anaconda di bawah sana seakan meronta, beberapa minggu sudah si Belut Raksasa tak mendapatkan kehangatan. Namun saat ini Radit mencoba untuk melihat sejauh mana si cantik di depannya mendiamkannya.


"Dear," Radit mengusap pelan pundak pipi mulus istrinya. Nada masih saja berdiam, sebenarnya bukan marah, hanya saja dia masih syok. Benarkah ini Radit? Manusia dingin seperti bonkahan es balok? Apa iya dia seromantis ini? Merasa sudah tidak berdaya merayu istrinya, Radit sedikit merapatkan tubuhnya dan mendaratkan ciuman dadakan untuk Nada.


"Jangan ngambek lagi dong," ucap Radit. Nada menenggelamkan wajahnya di dada Radit, membuat seulas senyuman di bibir Radit.


Radit menyeringai tipis saat istinya berlari dan menuju ke dalam restauran. Radit segera mengikuti langkah permaisuri hatinya itu dengan hati yang bahagia.


"Yang, makan, kapan makannya?" Nada tersenyum, dan menatap ke arah Radit yang melepas pelukannya.


"Okey, kita makan. Lalu segera ke apartemen. Malam ini tidak usah pulang ke rumah, aku sudah mengirim pesan pada nenek dan kakek," ucap Radit sambil menarik satu kursi untuk Nada. Nada duduk dan meraih makanan untuk Radit, kemudian meraih makanan untuk dirinya sendiri. Keduanya menikmati makan malam dengan tenang dan khidmad. Hanya dentingan sendok yang terdengar.


Beberapa saat kemudian, mereka segera menuju apartemen Nada yang memang dekat dengan restauran itu. Nada dan Radit berjalan beriringan, bahkan tak sungkan Radit menggandeng tangan Nada untuk berjalan di sampingnya.


Nada mengamati Tangannya di genggaman Radit, jantungnya berdetak tak beraturan hingga keduanya sampai di depan apartemen. Nada bergidik. Apa yang akan terjadi di dalam nanti? Untuk pertama kalinya di apartemennya kedatangan tamu lelaki.

__ADS_1


"Mana acsesnya?" tanya Radit. Nada yang semula bengong mendadak mengambil acses card dan menyerahkan kepada Radit. Setelah pintu terbuka, Radit dan Nada segera masuk. Radit menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Nada menyiapkan baju ganti untuk suaminya, baju baru Arfan yang belum sempat di bawa ke apartemennya.


Beberapa saat kemudian, Radit keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk sebatas pinggang. Nada yang baru saja dari toilet bawah terkejut mendapati Radit yang telanjang dada.


"Itu baju ganti untukmu yang," ucap Nada sambil tersenyum. Radit mengamati Nada yang telah berganti menggunakan baju tidur bergambar doraemon dan membuat dirinya semakin imut.


Radit mengambil lipatan kaos oblong dan celana pendek itu kemudian memakainya. Nada membelalakkan matanya. Apa-apaan ini, tidak adakah perasaan malu? Tidak bisakah ganti di kamar mandi?😀


Nada kini membaringkan tubuhnya dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Radit mendapati Nada menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut segera melepaskan sendalnya kemudian berbaring dan melingkarkan tangannya di pinggang Nada yang bersembunyi di bawah selimut.


Radit menekan tangannya dengan erat, membuat Nada sesak nafas dan membuka selimut sampai lehernya.


"Kamu mau membunuhku, Yang?" keluh Nada, Nada membalikan badannya sehingga mereka berhadapan.


"Sekalian aja kasih racun tikus," ucap Nada kesal.


"Mana ada seperti itu, aku hanya ingin kamu membuka selimutmu itu," ucap Radit sambil tersenyum.


"Mau apa? sebaiknya kita tidur, sudah malam." ucap Nada masih dengan mode sebalnya.


"Kamu tau Nona, kamu sudah membangunkan seekor Belut raksasa. Kamu harus bertanggung jawab untuk itu."ucap Andika. Nada membelabakkan matanya.


"Mana ada, aku tidak melakukan apapun," ucap Nada


"Aku tidak perduli, kamu harus betanggung jawab, Nona Marvel," ucap Radit sambil mendekatkan tubuhnya kearah Nada.


Radit mendongakkan wajah Nada, memberikan ciuman hangat yang lembut disana, gigitan kecil membuat Nada membuka mulutnya, menyambut permainan lid*h Radit yang begitu membuai dirinya. Perlahan Radit mulai bergerilya dan menjelajah ke bukit tinggi yang indah meski masih terbungkus Rapi.

__ADS_1


Nada merasakan tubuhnya menghangat dan menuntut lebih, Radit mengarahkan tanganya ke kancing baju Nada. Nada yang kehabisan oksigen segera mendorong Radit dan menatap ke arah Radit yang menatapnya dengan kabut gairah yang sudah tak bisa di tahan.


"Dear, plise biarkan aku memilikimu malam ini," ucap Radit. Nada memejamkan matanya dan tampak berpikir keras.


Radit menggenggam tangan Nada, dia tau pasti Nada tak akan begitu saja menyerahkan dirinya. Tapi, Radit sudah menyatakan perasaannya. Apa lagi? Harus bagaimana lagi?


"Dear, aku sangat mencintaimu," ucap Radit. Nada berhambur ke pelukan Radit dan merasa bahagia.


"Aku juga sangat mencintaimu, tapi maaf Yang aku tidak bisa," ucap Nada dengan penuh penyesalan.


Radit memejamkan matanya dan melepaskan pelukannya. Radit yang tampak kecewa memegang pundak Nada dan menatap ke arah istrinya itu.


"Apa kau meragukanku?" tanya Radit prustasi. Nada terdiam.


"Jawab Dear," ucapnya sambil mendongakan dagu Nada. Nada tampak berkaca. Dia juga menginginkannya.


"Apa kamu meragukanku?" tanya Radit lagi dengan sorot mata yang sudah berkabut dan menahan sesuatu yang semakin mengeras di bawah sana.


Nada mengusap pelan dada Radit dan memejamkan matanya. Sentuhan itu semakin membuat Radit tersiksa.


"Maaf, Yang. Tapi tamuku belum pulang," ucap Nada sambil nyengir. Membuat Radit membelalakkan matanya.


"Tamu?" tanyanya dengan terkejut. Nada mengangguk. Radit tampak mengusap kasar wajahnya. Pantas saja beberapa hari dirinya tak melihat istrinya menjalankan ibadah shalat.


Radit bangkit dan menuju ke kamar mandi. Nada memejamkan matanya.


"Maafkan aku," lirih Nada yang merasa bersalah tetapi juga merasa selamat karna dirinya juga butuh mempersiapkan diri.


😂😂😂😂


Sabar ya dit.. sabar..

__ADS_1


__ADS_2