
Delon mengotak atik beberapa rekaman CCTV dengan seorang petugas keamanan rumahsakit beserta Radit. Mereka hanya melihat sekilas Nada di bawa seorang lelaki tinggi tegab.
Tak ada informasi yang bermakna, bahkan mereka pergi kemana juga tidak terlihat karna tiba-tiba saja CCTV sekitar sana seakan tak berfungsi. Mereka tampakmya sangat handal untuk sekedar menghilangkan jejak.
"Terimakasi Pak," ucap Delon dan diangguki oleh petugas keamanan itu. Radit dan Delon tampak berpandangan, sedang petugas keamanan tampak pergi meninggalkan ruangan itu.
"Apa kau tidak menaruh curiga pada seseorang?" tanya Delon.
Radit mengerutkan keningnya, ia pun berpikir sesuatu kemudian melenggang pergi. Delon yang semula tenang kini mengikuti langkah Radit.
"Marvel, mau kemana?" tanya Delon dengan panik.
"Aku tidak bisa menunggu lama informasi dari Om Hendra, aku harus segera bertindak Delon," ucap Radit.
"Apa kau tidak bisa melacak dimana ponsel Nada berada?" tanya Delon.
Radit menghela napas panjang, kenapa bisa dia lupa bahkan tidak bisa berpikir? Radit mengambil ponselnya yang mencoba mencari lokasi dimana ponsel yang di bawa Nada berada.
"Aku tau dimana Nada sekarang," ucap Radit sambil menatap ke arah Delon. Ada binar bahagia disana.
"Dimana? Kau harus mengatakan juga padaku," sentak Delon.
"Ponsel, Nada berada di daerah yang sedikit jauh, sepertinya aku harus segera ke sana," ucap Radit. Radit segera berlari dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Delon, menghubungi beberapa bodyguartnya untuk mengikutin Radit. Sedangkan dirinya hampir saja berlari ke arah mobil, akan tetapi Vino mencegahnya.
"Kau mau kemana?" tanya Vino. Vino yang mendengar Radit kebingungan mencari Nada segera untuk keluar dari ruangan Micel.
"Mau kemana?" tanya Vino lagi.
__ADS_1
"Aku harus mengejar Marvel Vino," ucap Delon sambil menatap ke arah Radit.
"Aku ikut," sahut Vino dengan tenang. Delon mengangguk pelan kemudian mereka berdua berjalan ke arah dimana mobil Delon berada.
Delon yang kualahan mengejar laju mobil Radit berhenti di depan lampu merah, netranya memandang mobil Radit yang melesat cepat. Delon menghela napas panjang. Cinta benar-benar mengubah segalanya. Radit yang biasanya tenang, menampakkan sisi lain dari biasanya.
Radit meraih ponselnya, menghubungi salah satu kontak di ponselnya.
"Lihat semua CCTV di sepanjang jalan dari rumah sakit, menuju titik lokasi yang aku kirimkan. Segera laporkan hasilnya padaku, siapa dalang di balik semua yang terjadi," titah Radit.
Radit kembali meletakkan ponselnya, iapun menancap gas mobilnya mengikuti arah dimana letak ponsel Nada berada.
Akan tetapi disana, di tengah jalan yang sepi Radit mendapati preman yang tiba-tiba muncul dalam waktu singkat. Radit memejamkan matanya, kenapa ada saja pengganggu? Radit menghentikan mobilnya diam. Sepertinya sudah lama dirinya tak bermain main.
"Serahkan Mobilmu, Tuan. Jika kau masih sayang dengan nyawamu," ucap salah satu diantara dua preman masih berdiri di samping kanan dan kirinya.
"Jangan sombong kau Tuan," bentak preman itu.
Kedua preman itu maju bersamaan, menyerang dan terus memberikan tendangan. Satu tendangan berhasil mengenai dada Radit, membuat dirinya mundur beberapa langkah sambil memegangi dadanya.
Sedangkan Delon dan Vino yang baru saja sampai segera melempar tendangan pada dua manusia yang tadi terkapar. Salah satu diantara mereka membawa balok kayu yang hampir saja mendarat di leher Radit tadinya.
Radit terkejut saat preman-itu tersungkur di depannya. Lagi-lagi mereka kembali bangkit, mengitari Radit. Delon Dan Vino saling memunggungi, sorot mata tajam seakan mengintimidasi lawan mereka dan mengambil alih mereka.
"Kau Tidak apa-apa, Marvel? Sebaiknya kau pergi, biar aku dan Vino yang mengjadapi mereka," ucap Delon dengan tenang.
"Kita pemanasan,Tuan Delon. Aku tidak apa-apa. Rasanya sudah lama aku tidak berolahraga. Aku akan sedikit bermain dwngan mereka," ucap Radit yang memasang kuda-kuda siap untuk menyerang.
Vino mengerutkan keningnya. Masih sempatnya dia berfikir bermain-main di saat seperti ini
__ADS_1
Mereka membagi pukulan dan tendangan kearah beberapa preman di samping kanan dan kiri masing-masing. Preman itu terhuyung dan memegangi beberapa bagian tubuh mereka. Ini seakan sangat menyenangkan bagi Radit.
"Aku peringatkan, menyingkirlah jika kalian masih ingin menghirup udara segar." bentak Vino sambil mengibaskan pakaiannya yang sedikit tersingkap dengan gerakan elegannya.
"Kau pikir kami akan menyerah begitu saja? Jangan Harap,Tuan." ucap kepala preman itu itu dan mampu membuat seulas senyum di bibir Delon.
"Maju, serang mereka!" ucap preman itu lagi.
Beberapa preman itu maju, mulai menyerang dengan brutal dan tak beraturan. Yang ada diotak mereka hanya ambisi semata, sehingga memudahkan tiga pria tampan itu mengecoh mereka yang telah kehilangan kendali.
Tiga pria tampan itu bergerak lincah, memberikan pukulan dan tendangan yang tepat sasaran dan gerakan menghindar dengan tenang.
Sang pimpinan Preman seakan terkesima dengan lawan mereka, ia mengangkat kedua tangannya tanda memyerah. Beberapa preman serempak menghentikan aksinya.
"Kali ini kalian lolos, Tuan. Lihat saja nanti. Aku akan mendatangimu dan akan melumpuhkanmu." ucap kepala preman itu.
Ke tiga pria tampan itu saling berpandangan, menyeringai tipis dan menatap tajam kearah beberapa preman itu.
"Menyingkirlah, aku tidak ada waktu untuk meladeni kalian lebih lama," sinis Radit, Preman itu mundur perlahan-lahan.
Radit m kembali ke mobil dan menancapkan gas mobilnya diikuti oleh oleh Vino dan Delon.
Di sana, seseorang menyeringai tipis mengetahui kejadian ini. Dia mendatangi beberapa preman itu dan tampaknya mengajak mereka untuk bekerja sama.
"Kalian ikuti mobil itu, habisi mereka di saat yang tepat," ucapnya kemudian tersenyum tipis.
"Zifana, jangan menyakiti wanitaku. Kau cukup mebawanya sampai aku datang. Kau harus menyerahkan wanita itu pada kakak,"
😊😊😊😊
__ADS_1