Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Pernikahan


__ADS_3

Nada dan Radit segera turun untuk menyaksikan pernikahan yang akan berlangsung. Mereka menapaki satu persatu anak tangga, tangan mereka bertautan dan saling menguatkan. Semoga keputusan untuk menyetujui pernikahan Micel dan Vino adalah keputusan yang benar.


Nada melihat Micel yang kini telah mempersiapkan dirinya dengan dibantu oleh beberapa WO. Micel menampakan wajah sebabnya karna menangis. Nada dan Radit saling berpandangan. Kenapa Micel menangis? Nada mendekat ke arah adiknya, menghapus air mata yang mengalir deras dia pipi Micel.


"Hei, jangan menangis. Kenapa menangis? Bukankah kamu bahagia Micel sayang? Bukankah kamu mencintai Vino?" Nada menatap wajah Micel dengan sedikit panik.


Micel terdiam, akan tetapi pada akhirnya dia mengangguk. Apa benar begitu? Apa dia memang mencintai Vino? Micel hanya bisa pasrah. Saat ini tak ada pilihan lain kecuali menjalani pernikahan yang sudah di depan mata. Tak mungkin dirinya mengecewakan orang orang yang disayanginya.


Mama Mira dan Nenek Amy mendekat ke arah Micel, menatap Micel dengan penuh cinta. Yang mereka tau dari Radit, Vino sangat mencintai Micel. Makanya mereka menyetujui pernikahan ini.


"Sayang, jangan bersedih. Ini hari bahagiamu, tersenyumlah Sayang," ucap Mira. Micel menatap ibunya dan tersenyum.


"Terimakasih Ma, Micel bahagia kok Ma," ucapnya sambil tersenyum.


Mama Mira dan nenek beserta Nada menatap Micel dengan senyuman indahnya.


💕💕💕💕

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, persiapan acara pernikahan sederhana telah di depan mata. Micel ditemani Nada sudah berada di ruangan akad bersama dengan beberapa saksi beserta penghulu.


Tak lama dari itu, Vino beserta Tuan Pradikta dan Nyonya Pradikta datang bersama. Micel melirik Vino yang tampak tampan dengan setelan jas yang melekat di tubuh kekarnya. Jantungnya berdetak hebat. Micel mencoba menguasai hatinya.


Vino duduk dan meletakan maharnya di meja depannya. Micel melirik ke arah kakaknya yang tampak bahagia, kakaknya yang akan menjadi wali nikahnya. Disaat yang bersamaan, Vino juga menatap ke arah Micel, tatapan mereka bertemu. Mereka sama-sama canggung berada dalam situasi yang tidak nyaman ini.


Sebuah rasa menyelinap masuk ke dalam hati keduanya. Netra mereka enggan berpaling akan tetapi Micel segera mengalihkan pandangannya ketika Vino bergeser dan duduk tepat di sampingnya. Sejenak mereka sailing menatap tajam. Hingga pada Akhirnya pak penghulu mengucapkan ijab Qobul pernikahan.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan Micel adelia Dika dengan Rezidan Alvino Pradikta dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar Tunai,"


"Saya terima Nikah dan kawinnya Micel adelia dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,"


"Sah," ucap Para saksi bersamaan meskipun ini adalah ke tiga kalinya Vino mengulang ijab Qobulnya.


Pak penghulu membacakan doa keselamatan untuk memepelai berdua. Micel meneteskan air matanya. Rasa haru menyerbu hatinya. Kini dia telah sah menjadi istri dari Vino.


Micel mengusap wajahnya ketika pak penghulu telah selesai membacakan doa. Micel dan Vino saling menatap, entah apa yang dirasakan keduanya. Keduanya hanya diam tanpa kata.

__ADS_1


Pak penghulu memberikan sepasang cincin pada mempelai. Micel dan Vino memasangkan cincin di jari mereka secara bergantian. Setelah itu Micel mencium tangan Vino, dan Vino mencium puncak kepala Micel.


Keduanya larut dalam acara sakral pernikahan. Rasa aneh menjalar di hati keduanya. Micel memejamkan matanya, entah apa yang akan terjadi nanti iapun tidak tau.


Vino melepaskan ciumannya kemudian menatap ke arah Mama mertunya dan Radit. Vino dan Micel sungkem pada Mama dan nenek. Setelah itu mereka berjalan ke arah Radit, Radit yang semula diam meraih Vino dan menepuk pundaknya.


"Jika membuat adikku menangis, aku akan menghabisimu," ucapnya sedikit ketus tetapi diiringi senyum. Vino hanya diam tak menanggapi.


Vino berjalan kearah mama dan papanya yang menepuk pundaknya dan merangkulnya erat.


"Bahagia selalu bersama istrimu," ucap papanya dengan bahagia.


Vino tersenyum dan melirik Micel yang menangis di pelukan kakaknya. Vino mengalihkan pandangannya kemudian melangkah pergi setelah pak penghulu dan pak hakim pamit pergi.


Mama dan papa Vino menatap kepergian anaknya dengan penuh tanya.


"Semoga tak ada alasan lain selain cinta di dalam pernikahan Vino dan Micel," ucap Mama Elina sambil menatap Papa Pradikta.

__ADS_1


"Aku juga berharap hal yang sama," jawabnya.


❤❤❤


__ADS_2