Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 6


__ADS_3

Nada dan ayahnya tengah sampai di rumah berlantai dua. Rumah sederhana yang dia tinggali sejak kecil, kerinduan yang mendalam luruhlah sudah. Hanya dengan melihat rumah ini mengobati kerinduan yang selama ini dia rasakan, tak sabar dirinya memeluk wanita paruh baya yang sekarang berada di depan pintu untuk menyambut kehadirannya.


"Sampai," ayah memarkirkan mobilnya di parkiran. Segera Nada keluar dan membawa serta koper miliknya. Dengan langkah seribu dia berjalan menuju ke arah wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu sambil merentangkan tangannya menyambut kedatangan Nada.


"Asalamualaikum ibu," sapa Nada. Nada meletakan kopernya dan berlari ke arah ibunya. Dengan deraian tangis bahagia dia memeluk wanita yang masih tetap cantik meskipun usianya sudah matang tersebut.


"Walaikumsalam Nada Sayang, ibu sangat merindukan putri ibu yang cantik ini," ucap wanita paruh baya itu. Nada mengeratkan pelukanya, sedang ibunya menepuk pundak Nada. Keduanya melepas kerinduan setelag empat tahun berpisah.


"Sebaiknya kita masuk, pasti Nada sangat capek Bu," ucap ayahnya. Ibu mengangguk pelan dan melepas pelukannya.


"Bi inah, tolong bawa koper neng Nada ke kamarnya," titah ibu pada Bi Inah asisten rumah tangga di rumahnya.


Bu Lisa membawa putri kesayangannya untuk duduk di meja makan, makan siang sudah terhidang dengan rapi di atas meja.


"Banyak sekali Bu," Mata Nada berbinar melihat makanan kesukaannya tersedia di atas meja. Dengan semangat dia mengambil makanan dan menyantapnya dengan lahab. Ibu Lisa dan Pak Hasan tampak bahagia menatap ke arah putrinya itu.


Setelah makan siang selesai, deringan ponsel Nada terdengar jelas. Segera wanita cantik itu mengambil ponselnnya. Nama Amara tertera disana.


"Halo Ra,"

__ADS_1


"Nada, bisa temani aku sekarang juga?" Suara isakan Amara terdengar jelas di telinga Nada.


"Ada apa?Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Nada. Ayah dan ibu juga tampak antusias, mereka berdiam sambil mengamati wajah Nada yang tampak serius.


"Apa? Okey, aku kesana sekarang juga," Nada bangkit dari duduknya dan menyalami kedua orang tuanya. Wanita cantik berhijab itu tampak menyambar tas tangannya dan mencium pipi kedua orang tuanya.


"Ada apa Nak?" tanya ibu antusias.


"Amara mau menikah Bu, Ayah. Aku harus menemani prosesnya," ucap Nada. Kedua orang tuanya tampak terkejut dan mengangguki ucapan Nada.


Segera wanita cantik itu menancap gas mobilnya menuju ke arah rumahsakit dimana ibu Amara di rawat.


🎀🎀🎀


Nada mengamati wajah Amara yang duduk tepat di samping Micho. Netranya juga memandang ke arah Rafa yang menemani Amara. Lelaki itu sedari tadi seperti tak melihatnya sehingga membuat hatinya semakin sakit. Bodoh memang, ketika dia harus sakit hati pada manusia yang jelas-jelas tak tau apapun tentang perasaannya.


"Sah," ucap para saksi bersamaan terdengar di telinga Nada.


Pak penghulu membacakan doa keselamatan untuk mempelai berdua. Nada menghela napas panjang, rasa lega menghinggapi hatinya melihat ijab qobul berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Setelah prosesi pernikahan Amara yang begitu dadakan itu terjadi, mereka masuk ke dalam ruang rawat Mama Hana.


Nada hanya terdiam sambil menunggu keluarga besar itu di luar ruang rawat, memberikan privasi pada keluarga Amara.


Dia melirik jam yang menunjukan pukul 19.00. Nada memutuskan untuk pulang. Seketika Nada berdiri, bermaksud membuka pintu ruangan, tapi pada waktu yang bersamaan dari dalam juga ada yang mendorong pintu untuk keluar. Keduanya saling berhadapan, Nada tampak mematung menyadari Rafa ada di depannya. Jantungnya terasa berdetak tak beraturan.


"Nada, kamu melamun?" tanya Rafa. Nada hanya tersenyum.


"Hati-hati jangan melamun, bisa jatuh," ucap Rafa kemudian melenggang pergi. Nada memejamkan matanya.


"Kak, ada waktu?" Nada melontarkan kalimat yang tak terpikirkan sebelumnya. Ada rasa sesal ketika dia bertanya seperti itu.


"Apa kamu perlu bantuan? Jika iya kakak akan meluangkan waktu untukmu," ucap Rafa.


"Aku hanya ingin diner bersama, apa kakak keberatan?" tanya Nada. Rafa yersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Okey, sekarang lebih baik. Kakak tidak mau kamu pingsan karna kelaparan," ucap Rafa sambil tersenyum kemudian melangkah pergi.


Nada tersenyum dan berjalan mengikuti langkah kaki Rafa membawanya.

__ADS_1


🎀🎀🎀🎀


Hayooo... jangan lupa like, komen dan hadiahnya...😍😍😍😍


__ADS_2