
Beberapa bulan kemudian
Sinar mentari menerangi kamar yang masih saja memberikan kehangatan di tengah dinginnya pagi ini. Micel masih saja bermanja meminta peluk suami tercintanya sambil memandangi sebuah album pernikahan dimana dirinya dan Vino yang menjadi raja dan ratu disana.
Ada foto keluarga yang sangat dia sayangi berjejer rapi disana, dirinya juga Vino tampak bahagia dan sangat cocok.
"Au," keluh Micel.
"Sayang, kenapa?" tanya Vino sambil menutup album foto itu.
"Enggak papa, Mas." Micel tersenyum kemudian membuka kembali album poto yang memperlihatkan kebahagiaan saat itu, mereka adalah panitia yang turut andil dalam acara mengah yang diadakan keluarga besar Pradikta grup beberapa bulan yang lalu.
"Apa yang kamu rasakan? Apa sakit?" Vino mengusap pelan perut buncit Micel yang kini sudah menunggu waktu lahiran saja.
"Hanya sedikit kram," ucap Micel. Vino mengusap lembut perut buncit itu dan mencium perut Micel sehingga menimbulkan gerakan yang membuat perut Micel menonjol.
Micel tampak bahagia saat perutnya tiba tiba kembali seperti semula ketika diusap Vino.
"Dia jadi diam kalau kamu usap kayak gini," ucap Micel.
"Dia patuh pada papanya," jawab Vino. Micel terkekeh gely.
"Mungkin dia takut," jawabnya.
"Siapa bilang takut, dia bersahabat dekat denganku,"? jawab Vino. Vino tersenyum dan mengeratkan tangannya di pinggang Micel, menatap mesra wajah Micel yang cantik itu.
__ADS_1
"Sudah jam 06.00, aku akan segera ke kantor," Vino beranjak saat melihat jam yang berada di dinding.
Micel juga ikut beranjak, meraih dasi di almari. Memasangkan dasi Vino dengan tenang.
Setelah selesai memasang, Micel mendongak mengamati wajah Vino sambil mengusap pelan dada bidang Vino dengan lembut, membuat Vino merasakan desiran halus yang menjalar dihatinya.
"Aku ingin ikut, tapi takut mengganggumu," ucap Micel.
"Aku tidak akan terganggu, lagi pula itu malah membuat aku lega bisa selalu di sampingmu. Kamu bisa istirahat di ruangan pribadiku," ucap Vino.
"Oke, jika tidak mengganggu dan menurutmu itu lebih baik aku akan menurut padamu, aku ganti baju dulu," Micel tersenyum dan mundur beberapa langkah, memutar tubuhnya dan berjalan ke arah ruang ganti. Micel merasakan sedikit nyeri di perutnya lagi ia pun berhenti sejenak. Vino yang mengetahui segera menghampiri istrinya.
"Kenapa?" tanya Vino. Micel menggelengkan kepalanya.
"Tidak papa, Mas. Tadi sedikit nyeri, tapi ini udah nggak lagi sih," ucap Micel sambil tersenyum. Vino membungkuk sebentar mencium perut Micel dengan sayang.
"Kita harus segera turun Mas, kita sarapan dulu. Aku tadi sudah menyiapkan makanan untukmu,"ucap Micel saat keluar dari ruang ganti. Vino mengangguk dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Micel. Mereka berjalan beriringan menuju ke arah ruang makan.
Di meja makan sudah ada bibi yang tengah menyiapkan menu pagi ini. Menyiapkan makanan sehat untuk kedua majikannya.
"Selamat pagi, Bi!" ucap Vino dan Micel bersamaan.
"Pagi Non, Den. Hari ini bibi membuat menu tambahan. Sayur sop untuk nona. Bibi harap Nona suka," ucapnya. Micel melirik menu pagi ini dan tersenyum bahagia. Vino menarik kursi untuk istrinya dan membantunya untuk duduk.
"Terimakasih, Mas," ucap Micel yang kemudian diangguki oleh Vino.
__ADS_1
"Terimakasih juga Bi. Aku jadi merepotkan,"ucapnya.
"Siapa bilang merepotkan? Ini tugas bibi non," ucapnya. Micel tersenyum dan segera mengambil sop nya.
Vino dengan sigap mendekatkan sop yang sulit dijangkau oleh Micel.
"Kamu bisa meminta bantuanku Sayang," ucap Vino tampak gemas pada istrinya yang terlampau mandiri itu.
"Aku akan meminta jika benae benar kesulitan," jawabnya
"Tapi aku tidak mau sampai melihatmu kesulitan," bantah Vino tak mau kalah. Micel terdiam sambil mengamati wajah tampan di depannya, wajah berjuta pesona yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap saat.
"Aku tidak akan pernah kesulitan jika suami siagaku ada di dekatku," ucap Micel. Ucapan Micel bagai angin besar yang mengguncang hati Vino, memberikan kebahagiaan sekaligus keharuan yang mendalam. Ia ingin menua bersama dengan wanita di depannya. Wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Wanita yang bisa menjadi pelabuhan terakhir ketika hatinya pernah berlabuh pada sosok Asila dan Nada yang ternyata bukan jodohnya.
"Aku akan berusaha selalu ada di dekatmu, sampai maut memisahkan kita, Aku mencintaimu. Menyayangimu juga baby kita," lirih Vino sambil mengusap pelan puncak kepala Micel.
Micel tersenyum, lengkap sudah kebahagiaannya. Mendapatkan cinta Vino, dan sebentar lagi akan melahirkan baby mereka.
"Terimakasih Ya Allah," lirih Micel.
The end...
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Terimakasih pencinta PCSC. Kalian ter ehemm ehemm... Micel melahirkan barengan sama Emely di sebelah yak. wkwkwkkw.
__ADS_1
Ayo mampir yang belum nengokin bang Dani. wkwkw.