
Beberapa jam berlalu, waktu menunjukkan pukul 21.00. Radit telah sampai di bandara.
"Selamat malam, Tuan Marvel," ucap salah satu orangnya sambil membungkukkan badannya.
"Malam, mana kunci mobil? Aku akan pergi sendiri, pergilah!." ucap Radit setelah menerima kunci di tangannya.
Kedua orangnya membungkuk kemudian melangkah pergi. Segera Radit menuju dimana mobilnya berada.
Masih teringat dengan jelas, Nada mengatakan sebuah alamat tempat keberadaan dirinya dengan Rafa dari sambungan telepon.
Radit menancap gas mobilnya menuju ke alamat dimana Nada saat ini berada. Mobil Radio melesat dengan cepat melewati padatnya kendaraan yang berlalu lalang.
Di depan sana, dijalanan yang sepi, tampak beberapa preman berada ditengah jalan.
"Shitttt." umpat Radit yang tampak emosi. Radit sejenak berhenti, kemudian menancap gas mobilnya dan menambah kecepatannya. Mau tidak mau para preman itu menyingkir ke kanan dan ke kiri. Radit mempercepat mobilnya saat mengetahui bahaya mengintai.
Tidak menyerah begitu saja, para preman itu tampak mengejar Radit dengan motornya. Seketika mereka menghentikan motor di depan Radit. Membuat Radit terpaksa keluar. Aish, bagaimana bisa dia mencegah pertemuan antara Nada dan Rafa kalau seperti ini?
Radit keluar dari mobil dan menatap ke arah beberapa preman yang kini menatapnya dengan sorot mata menyebalkan. Radit tak tinggal diam, dia memberi pukulan dan tendangan pada ketiganya secara bergantian. Lawan Radit cukup lincah, sehingga radit sempat menerima bogem mentah di pipinya membuat luka lebam di sana.
Radit menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Emosi menguasai hatinya, dengan membabi buta dia menyerang suhingga ketiga preman itu lari ketakutan.
Radit segera kembali ke dalam mobilnya kemudian pergi meninggalkan tempat itu menuju dimana pujaan hatinya berada. Pujaan hati? Mau sampai kapan dia membohongi diri? Tak sanggup lagi dia menahan, hatinya sudah di penuhi dengan bayangan istri tercinta.
😍😍😍😍😍
Nada mengarahkan pandangannya kearah luar. Nada merasakan sesak yang kini menyelinap di hatinya. Netranya menatap ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 22.00.
Nada merasakan deguban jantung yang begitu cepat, merasakan debaran rasa yang mengusik hatinya.
__ADS_1
"Apa aku memang harus kecewa? Apa aku memanga harus menyerah?" Nada memejamkan matanya, menahan segala perasaan yang membuncah. Beberapa kali dirinya harus terluka karna pria. Lalu, apa kali ini dia harus terluka lagi?
Nada mengambil tasnya, sepertinya memang tiada harapan untuknya. Jika mau datang, sudah dipastikan saat ini Radit sudah ada di depan matanya. Jarak negara M dengan Negara I hanya memakan waktu kurang lebih antara satu sampai dua jam. Lalu, apa iya sampai saat ini belum sampai?
Nada memutuskan untuk pergi, menunggu Radit tampaknya tidak ada kepastiannya. Nada melirik ponselnya yang menunjukkan beberapa panggilan dari Micel. Sudah pasti gadis cantik itu mengkhawatirkan dirinya. Rasa sesak bergelayut, mengambil keputusan untuk pergi tak semudah itu. Air mata nada mengalir tanpa diminta.
Hanya sampai disinikah perjuangannya? Aish, yang di butuhkan Radit hanya status pernikahan untuk kelancaran bisnisnya. Bukan keberadaan dirinya disisinya. Jadi, tidak salahkan dirinya memilih untuk pergi? Pernikahan biarlah menjadi status yang diperlukan Radit.
Amara,
Deg, jantung Nada berdetak hebat. Nama itu menyelinap masuk dalam reluk hatinya. Apa hubungan Radit dengan sahabatnya? Lalu, apa karma Amara kini Radit tak juga mencintai dirinya? Bersaing dengan bayangan Amara? Aish, Amara tak pernah mencintai Micho. Apa Artinya Amara mencintai Radit? Nada menghapus air matanya. Tak sanggup dia menerjemahkan semua kenyataan yang ada.
Tak ada lagi keraguan, Nada melangkah untuk keluar. Namun, netranya kembali menatap ke arah ruangan yang di desain romantis itu dengan hati yang sesak. Tanpa berpikir lagi Nada keluar.
Brak,
Keduanya tampak terkejut, Nada menatap ke arah lelaki tampan itu kemudian mengatupkan kedua tangannya.
"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Nada dengan panik.
"Kau," ucap lelaki itu. Nada mendongak, bahkan dia tidak mengenal sosok itu.
"Maaf, anda siapa?" tanya Nada sambil mengusap air matanya.
"Saya Delon, teman Vino kekasihmu," jawabnya.
Deg, Jantung Nada kini tak berhenti berdetak. Apa-apan ini?
"Apa yang terjadi? Dimana Vino? Apa kalian bertengkar?" tanya Delon lagi. Nada tampaknya tak bisa beepikir. Hanya Radit yang ada di otaknya.
__ADS_1
"Maaf, saya harus pergi," ucap Nada. Delon seakan tak mau melepas Nada begitu saja. Dia pikir harus menenangkan Nada. Vino, beberapa jam yang lalu pergi ke pulau B. Jadi apa itu penyebabnya? Pikir Delon.
Delon menarik tangan Nada.
"Berhentilah sejenak, nampaknya kau tidak baik-baik saja," ucap Delon.
Dari arah yang berlawanan, Radit melihat punggung seorang pria yang yang memegang tangan istrinya. Nada tampak menangis dari kejauhan, apa yang terjadi? Radit melangkahkan kakinya.
Dengan langkah seribu Radit mendekat, dipegangnya pundak lelaki itu sehingga lelaki itu melepaskan cekalan tangannya pada Nada. Dengan emosi yang menggebu dia memutar arah dan memberikan satu bogem mentah.
Nada berteriak karma terkejut, Jantungnya berdebar tak karuan saat menyadari Radit berada di depannya. Air matanya kembali mengalir.
"Apa yang kau lakukan pada wanitaku," ucapnya bersamaan dengan bogem mentah itu. Lelaki itu membalas.
"Hentikan," teriak Nada dan tak ditanggapi keduanya.
Tak tinggal Diam, Delon yang emosi membalas kembali. Namun, netra mereka bertemu dan menambah keterkejutan keduanya.
"Marvel,"
"Delon," ucap keduanya bersamaan.
Delon menatap ke arah Nada dan Radit bersamaan.
"Wanitaku?" lirih Delon.
😍😍😍😘
😍
__ADS_1