Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 109


__ADS_3

"Syukurlah jika begitu, aku harap kau masih panjang umur," ketus Radit. Dani membelalakkan matanya. Nada tertawa pelan.


"Apa kau pikir aku akan tewas hanya karna tersedak? Aku justru malah mengkhawatirkan keselamatanmu jika aku mati, aku rasa kau tidak mampu hidup tanpa aku," gerutu Dani sehingga membuat kekehan pada Nada.


Dani dan Radit adalah sepasang bos dan asisten yang begitu unik. Sama-sama dingin, ketus dan menyebalkan. Akan tetapi ternyata jika mengenal lebih dekat, sebenarnya mereka sangat menyenangkan. Mungkin karena tuntutan pekerjaan yang membuat mereka harus jadi raja tega.


"Mati, mati saja! Sudah ada istriku di sampingku," celetuk Radit.


Dani menghela napas panjang dan melirik Nada dari kaca spion. Kebetulan Nada juga melirik ke arahnya. Aish, sepertinya posisinya di hati Radit sudah tergantikan dengan Nada- Istri cantik dari bosnya itu, dan tak ada sisa ruang untuknya. Radit yang mengetahui pandangan mata Dani mengarah pada Nada, segera bereaksi.


"Apa lihat-lihat? Tundukan pandanganmu," ketus Radit.


"Aku hanya ingin tau sesuatu tentang asistennya, apa tidak boleh?" tanya Dani. Nada menatap Radit dan menggelengkan kepalanya. Rasanya perutnya sakit mendengar perdebatan bos dan asisten itu.


"Nona, kenalkan aku pada asisten cantikmu itu," celetuk Dani.


Nada tersenyum kecil. Asisten? Sifa? Aish, Sifa berhasil menarik perhatian Dani dan juga Arfan, kakaknya? Nada tampak menggelengkan kepalanya. Hem, satu hati dua cinta? Aish, kenapa dirinya memikirkan hal yang tidak-tidak?


"Sepertinya kau harus berjuang melawan Kakakku jika menginginkannya. She is a great woman," ucap Nada.


Dani menghela napas kasar, belum-belum sudah ada saingan. Kakak Nada? Arfan? Dokter itu? Aish, jika Nada saja istimewa. Lalu, apa dia mampu bersaing dengan kakak Nada? Dani mengusap kasar kepalanya. Waktunya tersita untuk bekerja, diusianya yang menginjak 27 tahun itu belum sekalipun terlibat hubungan serius dengan seorang wanita.


"Jangan khawatir, kau itu tampan, mapan, kurang apa lagi? Tak ada yang bisa menolakmu, kau itu sama sepertiku," Radit seakan menyemangati, membuat seulas senyuman di bibir Dani dan Nada.


"Bersaing secara sehat tidak dilarang, biarkan Tuhan juga bermain di takdir kalian. Ikhtiar itu perlu. Tapi hasil akhir tetap urusan yang diatas," ucap Nada menyahut.


"Apa kau tidak bisa merekomendasikan aku, Nona?" tanya Dani. Nada terkekeh pelan.


"Aku tidak bisa memihak, lanjutkan perjuanganmu sendiri. Bahkan aku tidak bisa merekomendasikan kakakku, semua ada di tangan Sifa." Nada berbicara panjang lebar.


Dani menghela napas panjang, hingga pada akhirnya mobil berhenti di mansion mewah milik keluarga Radit.

__ADS_1


🎀🎀🎀


di sebuah toko buku yang besar Micel memilih beberapa buku. Sebuah buku limitit edition tentang bisnis, sukses membuat matanya membelabak sempurna.


"Mbak, aku mau yang itu," Micel mengarahkan telunjuknya pada satu buku yang tebal.


"Yang ini mbak?" tunjuk pegawai toko itu.


"Iya," jawabnya dengan mata yang berbinar.


"Maaf Mbak, tapi ini sudah dipesan orang," ucapnya sambil tersenyum. Micel yang semula berbahagia kini tampak kecewa.


"Kalau sudah dipesan kenapa masih dipajang?" keluhnya.


"Itu bisa di pesan, dan akan datang beberapa hari ke depan Nona," jawab pegawai itu.


"Tapi aku mau sekarang, boleh aku bayar dua kali lipat?" tanya Micel lagi.


"Maaf nona, kami tidak bisa, anda bisa memilih yang lain," jawabnya.


Bruk


Micel menabrak sesorang, hidungnya terbentur dada bidang orang itu dan sangat sakit. Micel memegang hidungnya dan mendongak.


"Kau," ucap mereka serempak. Yang tadinya hampir marah tak jadi marah karena melihat Vino yang menabraknya.


"Kakak, Kak Vino disini? Kakak mengikutiku?" tanyanya dengan binar mata yang bersinar.


Vino tampak terkejut. Keduanya saling menatap, desiran aneh merayap di hatinya. Harus bertemu dengan gadis ini lagi? Aish, sangat menyebalkan. Vino mengabaikan Micel dan berjalan. Micel seakan tak mau membiarkan kesempatan untuk dekat dengan Vino. Dia mengikuti langkah Vino.


"Jangan GR, Aku kesini mau mengambil pesanan," ucap Vino saat Micel ada di sampingnya.

__ADS_1


"Mbak, pesanan saya," pinta Vino sambil mengeluarkan card dan menyerahkan pada kasir itu.


"O, jadi pemilik buku itu Kakak? Tau gitu aku akan membayarnya dua kali lipat dan membawanya pergi," ucap Micel pada Vino yang sangat dingin padanya.


Vino hanya diam dengan wajah datarnya, kemudian menerima bungkusan dari pegawai toko buku itu.


"Terimakasih Mbak," ucapnya dan melangkah pergi. Micel terdiam, dia harus benar-benar kehilangan kesempatan memiliki buku itu. Micel memyandarkan tubuhnya di rak buku sambil mengamati punggung Vino yang menjauh darinya.


"Apa aku hanya berhayal bisa bersanding dengannya?" lirihnya sambil memejamkan matanya.


"Ini untuk mu." Suara itu membuat Micel membuka matanya, dilihatnya Vino memberikan bungkusan itu kepada Micel kemudian berlalu, Micel mengeryitkan dahinya, kemudian berlari mengejar Vino.


"Haai kak, aku bukan tipe orang yang suka dengan barang gratisan. Kalau boleh aku akan membayarnya," ucap Micel sambil mengarahkan paper bag pada Vino.


"Aku iklas memberi mu, aku pikir tadi kau ngotot mau mengambilnya dariku dan memaksa untuk memilikinya. Ternyata kau cukup tau sopan santun, ku pikir orang tuamu tak pernah mengajarkan hal itu padamu," ucap Vino kemudian melangkahkan kakinya.


Micel memejamkan matanya, disinggung tentang orang tua atau keluarga membuat dia sensitif sekali. Mengingat dirinya seperti anak yang tak pernah mendapatkan kasih sayang.


Lelehan air mata jatuh tanpa diminta. Dia memang bar-bar, dia memang manja dan dia memang sangat cerewet di depan orang lain. Tapi semua itu adalah ekspresinya menghibur diri. Dia bukan perampok yang akan mengambil secara paksa. Lalu, Salahkan caranya mengekspresikan diri?


Micel mengejar langkah Vino dan berhenti tepat di depan Vino. Vino menatap gadis cantik yang menampakkan wajah sembabnya itu.


"Aku memang bukan wanita baik, tapi asal Kakak tau, aku juga diajari sopan santun dan tata krama. Aku juga bukan perampok yang akan mengambil paksa barang milikmu! Terimakasih, aku tidak butuh ini lagi," ucap Micel sambil meletakkan buku itu di tangan Vino kemudian melangkah pergi.


Vino terdiam ada rasa bersalah yang bersarang di hatinya. Dengab gerakan cepat Vino menarik tangan Micel dan menghentikan langkahnya.


"Apa kau marah padaku? Aku minta maaf," ucap Vino sambil menghela napas panjang.


"Kakak tidak salah, kakak benar," ucapnya sinis.


"Micel aku minta maaf," rayunya. Namun Micel berdiam dan menepis tangan Vino dari lengannya. Micel melangkah pergi tanpa menjawab sepatah katapun.

__ADS_1


Vino mengusap kasar wajahnya. Kenapa dia gelisah ketika membuat Micel bersedih?


🎀🎀🎀🎀


__ADS_2