
Dor
Sebuah tembakan dari atas gedung melesat di pundak sebelah kanan milik Radit. Sejenak Radit berhenti, diliriknya pundaknya yang berdarah kemudian menatap ke arah atas. Disana ada Gino yang membawa senjata api.
"****," umpat Radit dan terdengar di telinga Nada dengan jelas. Sakit? Pasti, akan tetapi rasa sakit itu bisa mereda apabila peluru segera diambil. Radit menekan luka tembak dan menalinya dengan alat P3K di mobilnya.
Radit melirik Gino dengan tajam, dipastikan saat ini orang licik itu tampak geram.
Nada yang tadinya menangis kini menoleh ke arah Radit. Hanya isak tangis Nada yang terdengar di antara heningnya suasana, Nada menatap suaminya dengan panik. Binar mata indah yang selalu dia tampakkan hilang entah kemana. Wajah yang biasanya berseri hilang tertutup duka. Ada rasa sakit yang menyayat hatinya ketika melihat pemandangan ini.
"Yang, turunkan aku. Lihatlah pundakmu terluka," ucap Nada yang berderai air mata sambil mengusap wajah Radit yang terlihat tampak biasa saja.
"Tidak, kau akan tetap berada dalam rengkuhanku," ucapnya tegas.
Nada menangis sesenggukan. Radit mencium sekilas puncak kepala Nada. Nada menyembunyikan wajahnya. Bahkan preman tadi masih tampak terdiam karna mendengar suara senjata api tadi.
"Menangislah, bila membuatmu merasa lega Dear," ucap Radit.
Nada menangis dalam pelukan Radit. Meluapkan segala kegundahan dan ketakutan di dada bidang Radit. Radit memejamkan matanya, ada rasa sakit yang tengah dia rasakan. Sesal seakan menghantui otaknya. Kenapa harus meninggalkan Nada?
__ADS_1
Radit kembali berjalan setelah menghubungi Delon untuk membantu Vino mengurus beberapa preman.
Tak lama dari itu, Delon keluar. Bahkan beberapa orang bodyguard Delon menyerang beberapa orang penjahat. Radit berlari dari kejaran preman, seketika Delon menghadang preman itu sehingga Radit bisa lolos dengan membawa Nada pergi.
Radit mendudukan Nada dalam mobil yang agak jauh dari gedung tua itu, kondisi Nada yang tampak syok membuatnya khawatir. Radit harus melakukan sesuatu, dia harus membuat Nada bisa tenang dan merasa aman.
Dengan gerakan lembut tak terkendali, bibir Radit menyergap bibir Nada yang saat ini ada di depannya. Radit mencoba memberi kenyamanan, pada Nada. Nada bereaksi, membalas ciuman Radit. Membuat Radit menyunggingkan senyum setelah sebelumnya terpaku dan tampak panik itu.
Ada rasa bahagia dan bangga pada Nada yang selalu bisa membuatnya bahagia.
Radit mengepalkan tangannya. Gino dan Zifana, nama itu seakan membuat darahnya mendidih.
Dengan gerakan liar Radit kembali menyergap bibir ranum merah muda milik Nada. Menggigit bibir Nada sehingga Nada membuka mulutnya. Bibir Radit menjelajah masuk, Nada menatap wajah Radit yang sangat tampan baginya dengan perasaan yang tenang.
Gairah Radit semakin besar saat merasakan bibir Nada begitu manis. Dia semakin terpancing dan semakin menggila. Ada perasaan bahagia dan lega saat menyesap menjilat dan m-e-l-u-m-a-t bibir yang semanis madu itu.
Nada mendorong Radit saat dirinya mulai kualahan dan kehabisan napas. Radit melepas ciuman panas itu. Mereka saling menatap. Hening, tak ada kata yang mampu keluar dari mulut keduanya.
Hanya deruan napas yang memburu yang terdengar. Nada memejamkan matanya, mengingat ini semua begitu membahagiakan. Akan tetapi, Delon, Vino? Bukankah mereka berjuang melawan penjahat? Lengan Radit bukankah sedang sakit akibat tembakan? Tetesan air mata Nada membasahi pipinya. Radit mengusap pipi Nada.
__ADS_1
"Kita ke apartemen sekarang," ucap Radit sambil mendudukan Nada kembali. Nada hanya diam, Radit maju dan menancap gas mobilnya menuju apartemen.
Nada yang masih tampak syok dengan kejadian yang dialaminya hanya diam, tak ada percakapan diantara mereka.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di apartemen, Radit keluar dari mobil kemudian hampir menggendong istrinya. Lagi-lagi Nada tampak tak mau, tapi bukan Radit jika dia tak bisa membuat Nada luluh padanya. Akan tetapi, Radit sedikit mengeluh sakit karna pundaknya yang terluka.
"****," umpat Radit sedikit meringis kesakitan. Nada membelalakan matanya.
Netranya melirik pundak Radit yang mengeluarkan darah segar. Nada mencoba menahan tangan Radit dan hampir melompat keluar.
"Tetap berada di tempatmu, Nyonya Marvel," ucap Radit dingin, yang seakan tak menghiraukan luka di tangannya.
Nada tampak panik sambil melirik ke arah pundak atas Radit yang mengeluarkan darah segar itu. Radit itu telah mengorbankan dirinya untuk melindunginya. Nada merasakan sesak.
"Yang ayo ke rumah sakit. Lihatlah pundakmu berdarah." protes Nada. Radit menatap tajam ke arah Nada.
"Apa kau tidak bisa diam? Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi dengan keadaan genting seperti ini? Bagaimana jika mereka Meluncurkan tembakan lagi?" ucap Radit tegas. Nada hanya menghela napas panjang.
Nada melirik ke arah Radit yang tampak biasa saja, tanpa mengeluh dan mengaduh meskipun pundaknya terus mengeluarkan darah segar. Nada memejamkan matanya, bertanya-tanya siapa yang melakukan penembakan ini?
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀🎀