Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 105


__ADS_3

Kini Nada masih ada di pangkuan Radit, kedua mata indah itu saling menatap. Hingga deheman Dani membuat keduanya salah tingkah. Nada segera kembali ke posisi semula. Sedang Radit mengalikan pandangannya menuju ke arah Dani.


"Sepertinya kau punya kebiasaan baru, mengganggu!" ucapnya sinis. Dani terkekeh dan menatap Sahabatnya dari kaca spion.


"Sepertinya kau juga punya kebiasaan baru, mengambil kesempatan dalam kesempitan," timpal Dani.


"Nona, untung saja pakai penutup wajah. Kalau tidak sepertinya akan terjadi ritual seperti tadi pagi," ucap Dani sambil terkekeh.


Nada membelalakkan matanya. Dani, orang itu masih saja menyebalkan, sama seperti pertama kali bertemu.


"Oh, apa terjadi pembengkakan sehingga ditutup rapat?" goda Dani lagi menambah Nada semakin geram pada Dani, bahkan dia juga geram pada Radit.


Namun, Radit tetap diam dengan wajah datarnya kemudian meraih kembali ponselnya.


"Memang ritual apa Kak?" celetuk Micel. Pertanyaan Micel mengundang gelak tawa Dani lagi.


"Ritual 1821," ucap Dani.


Micel menutup matanya dan terkekeh sambil melirik ke arah Nada yang dipastikan wajahnya merah merona di balik candarnya.


"Dani, kau mau aku meminta bosmu memecatmu?" sentak Nada yang kemudian membuat Dani menutup Rapat mulutnya.


Radit menautkan alisnya dan melirik Nada, apa wanitanya masih marah? Kenapa suaranya tampak meninggi? Seketika Radit kembali memasukan ponselnya dan menatap Nada dengan tenang. Nada mengabaikan Radit, netranya memandang ke arah lautan. Radit menghela napas dalam-dalam.


Nada terdiam sampai pada akhirnya Dani menghentikan mobil di pinggiran pantai yang masih tampak sepi.


Nada mengajak Micel keluar, mereka menikmati terpaan angin yang berhembus kencang. Memandang indah pemandangan ombak yang berkejaran kesana-kesini.

__ADS_1


Radit memejamkan matanya. Hatinya bahagia melihat Nada dan Micel tampak menikmati momen ini. Radit berdiri tegak sambil memasukan kedua tangannya di saku celana. Hingga pada akhirnya Dani berdiri di sampingnya.


"Siapa mereka?" tanya Radit sambil menikmati angin laut yang berhembus dan membuat rambutnya bergoyang-goyang.


"Yang pasti bukan Nyonya Mira," ucapnya pelan. Radit bernapas lega. Walau membenci Nada, rupanya wanita itu tak berbuat nekat.


"Lalu?" tanya Radit lagi.


"Mr Tan dan orang yang berada di balik layar, aku belum bisa memastikan." Dani menjawab.


Radit tersenyum sinis, satu nama orang yang saat ini ada dalam benaknya. Tapi, dia tidak bisa bertindak gegabah, mungkin dengan cara halus dirinya bisa mengatasi semuanya.


Radit menatap Nada dan Micel yang berpose di tengah terpaan ombak kecil di pinggiran pantai. Hatinya bahagia melihat Micel bahagia, meski mulutnya tak sempat untuk saling menyapa. Radit mendekat dan tersenyum saat dirinya berada tepat di belakang Micel dan merangkul pundak Nada.


Mereka berpose bertiga sehingga membuat Micel benar-benar takjub. Aish kakaknya berfoto dengannya? Momen yang sangat langka.


Micel menatap ke arah Nada dan Radit yang juga memandangnya.


"Kak, aku kesana dulu," ucap Micel. Nada mengangguk pelan.


Nada melangkah maju, riak ombak perlahan membasahi kaki Nada ketika ia menginjakkan kaki di pantai dan melepas alas kakinya. Sepasang tangannya terbuka menangkap air laut. Debur dan buih ombak nampak berkejaran menuju pantai. Pandangan matanya lepas memandang cakrawala nan jauh di depan. Sementara burung camar terbang sambil sesekali meneriakkan suaranya yang khas.


Radit mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Nada sambil mengamati hamparan lautan yang luas.


"Lepaskan aku!" pinta Nada.


"Jangan memberontak, diam lah!" tegas Radit. Radit lebih mengeratkan dekapannya. Angin pantai kesana kemari menerpa keduanya. Radit merasakan desiran lembut yang menguasai hatinya.

__ADS_1


"Jangan seperti ini. Aku mohon!" sentak Nada tanpa embel-embel kata panggilan yang selalu membuatnya terbuai.


"Aku bilang diam," sentak Radit.


Nada tersentak kaget dan mematung, Nada memejamkan matanya dan mengumpulkan kekuatan. Rasa sebal, dongkol semua menjadi satu di hatinya. Dia juga tak kuat lagi merasakan gejolak jiwanya yang cemburu karna Radit berhubungan dengan wanita lain. Nada mendorong tubuh Radit.


Radit beringsut mundur, mereka saling berhadapan. Radit dapat melihat dengan jelas air mata yang membasahi wajah cantik istrinya.


"Apa yang membuatmu marah? Aku tidak melakukan apapun. Ini adalah momen bahagia, kenapa mengabaikanku?" tanya Radit panjang lebar.


"Masih bertanya apa yang membuatku marah? Kau sangat menyebalkan," ucap Nada.


Radit menatap ke arah Nada, dia tau kesalahan apa saja yang dia perbuat sehingga Nada mendiamkannya. Radit mengangkat dagu Nada dan menatap dua bola mata indah itu dengan tenang.


"Sepertinya benar kata Dani, andai tidak ada kain cadar ini, mungkin aku sudah melakukan ritual," ucap Radit sehingga dirinya terkekeh pelan.


Nada memejamkan matanya, dirinya sebal karena harus memakai cadar dan diledek Dani. Lalu sebal juga karena Radit mengabaikan dirinya, sekarang masih juga di ledek? Nada menepis tangan Radit. Namun, Radit menahannya dan meraih Nada dalam dekapannya lagi.


"Marahlah, kamu semakin imut kalau marah. Dan aku semakin bergai@ah untuk memakanmu nanti malam," lirihnya. Nada membelalakkan matanya, di dalam dekapan Radit. Bahagia, sebal, semua campur aduk di hatinya.


Radit mencium puncak kepala Nada dan mengusap dengan lembut.


"Kau tau, aku sangat mencintaimu. Jangan berpikir yang tidak baik, asal kau tau sayang, aku mencoba melindungimu dari musuh dengan memintamu bersembunyi di balik cadar ini," lirih Radit.


Nada memejamkan matanya, bahkan satu ungkapan Radit menjawab sudah segala pertanyaan yang merasuk dalam benaknya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2