Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Nasehat Ibu Nada


__ADS_3

Dimalam yang sama di tempat yang berbeda. Nada memejamkan mata indahnya. Dia merasakan sakit di hatinya. Baru saja dia meminta Radit pergi dari hadapannya. Tetapi hatinya tak sanggup bila berjauhan. Bagaimana ini?


Nada menyeret langkahnya ke pinggir jendela, berharap bisa menatap wajah Radit, manusia yang sangat dia cintai. Akan tetapi, pintu kamar terbuka dan menampilkan wajah ibu dan ayahnya datang menemuinya.


"Ayah, ibu," gumamnya kemudian mendekat ke arah kedua orang tuanya. Orang tua yang selalu menyayanginya. Orang tua yang selalu mengajarkan kebaikan. Orang tua yang selalu menegur bila dirinya melakukan kesalahan.


"Nada," ucap ibunya kemudian mendekat ke arah Nada.


"Ayah, ibu,?" sambut Nada sambil mencium ibu dan ayahnya. Nada tau, kedua orang tuanya merindukan dia. Kepergian Radit pasti juga membuat orang tuanya banyak pikiran.


"Ayo kita makan, suku sayang. Pasti kamu lelah dan lapar. Kasian babynya lo," ucap ibunya.


Nada memejamkan matanya, pasti karna kepergian Radit ayah dan ibunya kesini, batin Nada. Nada menghela napas dan mengangguk.


Sebenarnya dia tak mau membebani pikiran ayahnya dan ibunya. Akan tetapi, dia juga tak mau larut dalam masalah. Mungkin saja Nantinya akan mendapatkan solusi jika saling berpikir jernih.


Mereka bertiga menuju ke ruang makan. Duduk dengan rapi di meja makan.


"Ibu tadi meminta Bibi masak makanan kesukaanmu.Makan yang banyak biar kuat," ucap ibunya sambil tersenyum. Nada mengangguk pelan kemudian kemudian mengambil beberapa makanan. Ayah dan ibunya melakukan hal yang sama.


Beberapa menit berlalu, Nada dan ayah ibunya sudah menyelesaikan makan malam dengan kidmad.


Nada dan ibunya juga bi Nah membereskan makanan sambil bercerita ria. Mereka menghabiskan waktu dengan bahagia.


Setelah itu Nada menghabiskan waktunya di taman belakang rumah. Hatinya yang merasakan sesak sedikit terobati berada di taman itu, melihat bunga bunga Nan indah sambil mengusap pelan perutnya yang tampak membuncit. Bayangan Radit berada di pelupuk matanya. Pertengkaran tadi membuatnya tak bisa lupa pada Radit, sosok yang selalu membuatnya bahagia.


"Nada," sapa ibunya pada Putri cantiknya. Nada yang tengah memikirkan Radit sedikit terkejut. Ia menatap ke arah ayahnya yang kini duduk di kursi taman.


"Ibu," Nada mendekat ke arah ibunya dan duduk di sampingnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya ibunya. Nada terdiam.

__ADS_1


"Memikirkan Marvel Raditya Dika?" tanya ibunya lagi. Nada masih terdiam.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya ibu Nada. Nada menghela napas panjang, mencoba tersenyum pada sosok paruh baya yang kini menatapnya penuh cinta.


"Apa kalian bertengkar?" tanya ibunya sambil mengusap pelan puncak kepala Nada. Nada tersenyum menatap ke arah ayahnya.


"Sini duduk dengan ibu," Bu Elisa menepuk pelan kursi sebelahnya, bemberikan titah pada putrinya untuk mendekat. Nada menggeser bokongnya mendekat duduk di samping ayahnya. Pak Hasan menatap Nada dengan tenang.


"Apa kalian bertengkar?" ulang Bu Elisa. Nada terdiam, masih enggan untuk menjawab.


"Bertengkar dalam rumah tangga itu wajar, salah paham juga wajar. Yang pasti kita tidak boleh larut dalam masalah, selesaikan dan cari solusinya bersama," ucap ibunya. Nada sedikit tertarik dengan pembahasan ibunya. Kini ia memandang ayahnya dengan tenang.


"Bu, apa ibu mencintai ayah?" tanya Nada. Pak Hasan sedikit tersentak atas pertanyaan anaknya itu, tapi beliau tersenyum. Sudah pasti anaknya itu sedang meratapi kesedihan.


"Tentu," jawab ibunya.


"Apa kekuatan cinta bisa membantu kita lepas dari masalah?" tanya Nada lagi.


"Apa kamu meragukan cinta Radit?" tanya Ibu Elisa. Nada menghela nafas panjang.


Nada memejamkan matanya, menahan buliran air mata yang meminta untuk keluar dari matanya. Ibunya mengusap pelan pundak Nada dan menarik kepala Nada untuk bersandar di bahunya.


"Ibu rasa kamu bukan meragukan cinta suamimu, tapi kamu terlalu larut dalam omongan orang lain, m" ucap ibunya. Nada membuka matanya dan menatap kearah ibunya penuh tanya.


"Nada, cobalah untuk legowo. Bukankah kamu tau Masalalu Radit? Semua memang tidak mudah, akan tetapi semua sudah terlanjur. Yang penting saat ini, hadapi. Ibu yakin kamu mampu. Jika kamu seperti ini, kasihan Radit, kasihan kamu dan juga babymu" ucap ibunya lagi.


Nada meneteskan air matanya.memandang wajah wanita paruh baya yang tersenyum memandang kearahnya.


"Nada, semua sudah berlalu. Cobalah untuk menerima, cobalah membahagiakan dirimu dan percaya pada suamimu. Semuanya sudah berlalu, bahkan kamu mampu merubah Radit untuk menjadi yang lebih baik. Kamu hebat Sayang," ucap Ibunya sambil mengusap air mata yang keluar di sudut mata Nada. Nada menghela napas panjang, tak mampu berkata apapun lagi.


"Radit lelaki yang baik, bahkan dia sangat mencintaimu," ucap Ibunya lagi.

__ADS_1


"Kamu boleh meminta waktu sendiri, tapi ibu harap kamu bisa berfikir jernih. Ibu harap kamu tidak akan pernah menyesal nantinya," ucap ibunya lagi.


Nada sedikit terisyak, mencoba mencerna semua ucapan ibunya. Benar sekali, Radit butuh suport. Radit butuh dukungan, tidak seharusnya dia membiarkan Radit memecahkan masalah sendiri.


Nada menghela napas panjang, pikiranya melayang jauh, ingatanya berpetualang saat Radit mengatakan jatuh cinta padanya.


Pikirannya melayang pada kejadian-kejadian yang indah yang ia lalui bersama Radit. Nada menghapus air matanya.Tidak bisa dipungkiri, Nada memang begitu mencintai suaminya itu. Entah bagaimana egonya begitu besar hingga menyakiti dirinya sendiri.


"Bu, tapi aku menyakiti wanita lain bila mempertahankan pernikahan ini," ucap Nada ketika Selena menyelinap di fikirannya.


"Tapi ketika kamu menghancurkan pernikahanmu seperti ini, bukan wanita itu saja yang menderita. Bahkan lebih banyak lagi hati yang tersakiti. Hatimu, wanita itu, dan juga hati Radit. Padahal permasalahan belum jelas juga Nak," ucap ibunya.


"Lalu aku harus bagaimana, Bu?" tanya Nada. Ibunya menghela nafas panjang.


"Tanyakan pada hatimu, kamu lebih tau isi hatimu dari pada ibu. Tanyakan pada dirimu sendiri. Ibu rasa kamu jauh lebih pandai untuk menjawab pertanyaanmu sendiri," ucap ibunya. Nada memeluk erat ibunya, mencari kenyamanan di pelukan jbunya.


Ibu Elisa merasa lega. Dia mengacungkan jempolnya pada orang yang berada di belakang pintu. Ayah disana tersenyum bahagia memandang kearah putriny dan istrinya.


"Ya sudah, sudah malam istirahatlah. Ibu masih ada sedikit pekerjaan bersama ayah. Ibu harus menyelesaikan dulu," ucap ibunya.


Nada tersenyum, mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar.


❤❤❤❤🌹🌹🌹


Radit yang sedang melajukan mobilnya menerima satu pesan vidio dari Delon. Juga satu berkas yang membuat dirinya tercengang.


Vidio kejahatan keluarga Sinatra pada Selena dan ibunya. Radit memejamkan mata indahnya. Melihat Selena yang hamil besar seperti itu membuat dia menggelengkan Kepala.


"Jadi Selena bener benar di ancam? Lalu siapa suaminya? Dimana keberadaannya saat Selena membutuhkan perlindungan?"


Radit mengepalkan tangannya, Gino dan Tuan Sinatra begitu kelewatan. Bagaimana bisa dia memanfaatkan segala situasi untuk menghancurkannya? Radit menghela napas panjang. Yang harus dia lakukan saat ini adalah segera kembali ke rumah Nada. Membuktikan pada Nada bila memang dia tidak bersalah. Tentang Selena dan ibunya, pasti Nada yang baik akan mengupayakan yang terbaik. Radit memutar balik mobilnya dan kembali ke rumah Nada.

__ADS_1


Radit memejamkan matanya, beberapa kali mengetuk pintu tak dibuka, pak satpam sepertinya tengah keluar. Radit memanjat ke pagar rumah, yang menghubungkan dengan kamar Nada.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2