
Dor
Suara tembakan itu berasal dari seseorang yang baru saja datang dan tepat mengenai lengan Enzi. Enzi menajamkan pandangannya menatap sosok berbaju hitam yang menggunakan penutup kepala dan menggunakan lambang Aster di lengan kananya itu. Di liriknya lengan tangan yang kini berlumuran darah.
Tak Terima dengan penembakan yang terjadi, anak buah Enzi menyerang ke arah gerombolan geng Aster yang baru saja datang. Mereka juga menyerang ke arah Vino dan juga Micela.
Mereka bergulat dan saling memukul, menendang dan saling mencoba untuk menjatuhkan satu sama lain. Suasana tampak kacau.
Micel merasakan kepalanya terasa berat. Micel yang merasakan pusing mendapatkan hantaman tepat di dadanya dan membuat wanita itu terduduk di lantai. Senyum sinis terukir di benak Enzi. Ya, Enzi yang melakukan itu.
Micel merasakan kesakitan di kepalanya, pertempuran ini membuat isi kepalanya memaksa mengingat sesuatu. Vino yang tengah menyerang menatap istrinya yang didekati oleh Enzi. Enzi semakin mendekat, semakin mendekat dan Vino semakin hawatir. Akan tetapi, lawanya terus saja menyerang hingga tak ada celah untuk menolong Micela.
Enzi berjongkok berupaya untuk menyentuh Micela.
Dor
Seseorang yang baru saja datang melayangkan tembakan pada Enzi. Enzi meringis kesakitan dan berdiri dua tembakan telah mengenai lengan dan bahunya, akan tetapi dia seperti kebal dan mempunyai banyak nyawa. Enzi melepaskan peluru dan terjadi adu tembakan yang membuat Micela semakin sakit. Vino yang saat ini tidak membawa senjata memiliki celah untuk mendekat ke arah Micel.
Willy dan Rendi yang baru datang mengambil alih lawan yang kini menyerang Vino. Vino berlari mendekat ke arah Micel.
__ADS_1
Diraihnya tubuh lemah wanita yang kini memegang kepalanya itu. Micel tampak panik dan mendongak.
"Micel, Micel ini aku," lirih Vino sambil mengangkat tubuh Micel. Membawa Micel untuk menjauh dari arena pertempuran yang saat ini sangat tidak baik untuk kepala Micel.
Vino membawa Micel di bawah pohon besar yang agak jauh dari pertempuran. Mereka memang berada di pegunungan yang jauh dari pemukiman. Hanya jejeran pohon yang menjulang tinggi yang ada di sekitar mereka.
"Micel, kamu tidak apa apa?" tanya Vino sambil menyandarkan tubuh lemas Micel di pohon. Vino melepaskan jaket miliknya untuk menutupi tubuh Micel yang tampak kedinginan.
Micel hanya diam, hatinya hangat melihat perlakuan Vino saat ini. Akan tetapi dia takut untuk menyambut. Micel takut sakit hati kembali, hingga pada akhirnya Micel hanya memilih diam.
Merasa diabaikan, Vino menghela napas panjang dan menatap ke arah Micel yang kini sudah mulai menampakan wajah tenang. Vino duduk di sebelah Micel, netranya mengawasi beberapa sudut tempat itu. Berharap tak ada satu orangpun yang menemukan keberadaan dirinya.
Vino memutuskan untuk mengalah dan mendekati Micela. Matanya terbelalak saat melihat seseorang yang siap menembak Micela dengan mengarahkan anak peluru ke arah Micel.
"Micel, awas!" teriak Vino.
Micel hanya diam mematung, netranya mengamati Vino yang berlari ke arahnya.
Dor
__ADS_1
Vino Menabrak tubuh Micel dan bergulung ke samping memeluk tubuh Micel, menghindari tembakan sehingga mereka bisa terhindar dari tembakan.
Suara tembakan itu begitu nyaring sehingga membuat telinga mereka berdenging. Micel membelalakan matanya saat kini dia sadar tubuhnya berada di atas tubuh Vino. Keduanya saling menatap, keduanya larut dalam perasaan yang entah bagaimana.
Para gerombolan Geng Aster mendekat dan membalas tembakan yang diberikan oleh beberapa orang yang berasal dari geng Cobra. Micel dan Vino juga melihat Willy dan Rendi masih bergelut dengan beberapa lawan.
Salah satu dari mereka tumbang, pistol yang dibawa mereka jatuh tepat di samping Vino. Vino meraih pistol itu.
"Kak," ucap Micel.
"Berdirilah," pinta Vino. Micel segera berdiri. Sedangkan Vino segera mengambil pistol itu dan mengarahkan pada orang orang yang siap menyerang. Micel yang tak membawa senjata hanya diam, berlindung di belakang suaminya. Baku tembak sudah merajai hutan itu. Entah lawan, entah kawan sudah tidak lagi bisa dibedakan.
Micel hanya mengamati Vino yang dengan cekatan melindungi dirinya. Perasaan takut menghadiri diri Micel. Takut? Takut akan terjadi sesuatu pada orang yang berstatus sebagai suaminya itu. Vino yang melihat Micel tampak tegang, menggenggam tangan Micel dan mengisyaratkan pada istrinya bila dia baik baik saja.
Sedikit Aman, Vino menarik tangan Micel untuk menjauh dari arena baku tembak itu.
"Kak, Kita mau kemana?" tanya Micel ditengah kepanikannya.
"Jangan banyak bertanya, kita harus mencari tempat yang aman untuk bersembunyi," jawab Vino sambil terus menarik dan menggenggam tangan istrinya sejauh mungkin.
__ADS_1
❤❤❤❤