Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Kesepakatan.


__ADS_3

Vino menatap ke arah gadis cantik yang kini telah berstatus sebagai istrinya.


"Biarkan aku bekerja," ucap Micel lagi. Vino masih terdiam dan masih juga menatap lekat ke arah istrinya.


"Tidak," jawabnya mantab.


Micel menghela napas dalam dalam. Apa yang akan terjadi pada hidupnya jika dia selalu dirumah dengan pernikahan yang tidak harmonis sama sekali?


"Jangan melarangku! Bukankah aku punya hak juga atas hidupku?" tanya Micel.


"Tidak, kau tidak berhak mengatur apapun." jawab Vino tegas.


Micel memejamkan mata indahnya tidak mau saja dirinya terkurung. Rasanya sangat berat membayangkannya. Yang dia mau bebas berkeliaran untuk mengekspresikan hidupnya. Entah kehidupan yang bagaimana yang dia jalani dulu, akan tetapi di dalam rumah yang dia bayangkan adalah hal yang sangat membosankan. Kecuali bila dia memang menjalani rumah tangga yang sesungguhnya.


"Aku tidak mau menandatangani surat itu jika aku hanya dirugikan, yang aku inginkan kita membuat kesepakatan yang sama sama membuat kita sama-sama nyaman. Lagi pula kita juga tidak saling mencintaikan Kak?" tanya Micel dengan tenang.


Vino terhenyak, apa yang dikatakan Micel ada benarnya. Dia hanya ingin melindungi Micel bukan? Lalu kenapa memberikan perjanjian yang mengekangnya?


"Oke, kau boleh bekerja dan melakukan sesuatu yang kamu sukai di mansion," ucap Vino santai. Micel menghela napas dalam dalam.


"Bagaimana bisa aku bekerja di mansion Kak?" tanya Micel.


"Apa yang kamu mau? Aku bisa membuatkan ruangan kerja untukmu, tidak harus keluar!" tegas Vino.


"Tapi Kak..."


"Kau tidak diperkenankan keluar dari mansion, hidupmu ada di mansion dan tidak ada waktu keluar sendiri tanpa aku, jika harus terpaksa pergi kau harus pergi di bawah pengawasan pengawal," ucap Vino menyela ucapan Micel dengan tegas, kemudian menancap gas mobilnya.


Micel hanya diam, ketegasan Vino seakan menegaskan agar dia tak membantah ucapannya. Vino mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Micel yang merasa ketakutan hanya bisa diam mengeratkan pegangan tangannya pada jok mobil yang dia duduki, mencoba menikmati hal yang sangat mencekam baginya. Tidak berkata apapun, hanya keheningan yang mereka rasakan.


Vino menatap lurus ke depan, pandangannya lurus menatap fokus pada jalanan. Vino menghela napas dalam dalam, mencengkram erat setiran mobil karena kesal. Perjanjian itu bertujuan ingin menjaga Micela dari manusia manusia yang datang dari masa lalunya. Lalu kenapa gadis di sampingnya seakan tak mau mematuhi segala hal yang berjuang melindunginnya? Kenapa membantah dan terus membantah?


Vino tampak diam menahan emosi. Menyadari hal itu membuat Micel berhenti berkata-kata. Dia juga diam seribu bahasa, tak sanggup mengeluarkan protesnya lagi pada Vino yang menampakan wajah merah karena marah. Hening, keduanya larut dalam pikiran masing masing.

__ADS_1


Dulu sekali, kehilangan sosok Kakak perempuan membuat dirinya terluka. Sosok tampan yang sangat menyayangi mamanya tak sanggup melihat mamanya bersedih karna kehilangan putri cantiknya. Putri cantik mamanya yang hanya selisih beberapa menit dengannya. Sebuah penculikan yang masih terngiang di otaknya ketika dia berusia tujuh tahun itu seperti memori yang tak mau hilang dari ingatannya. Saudara kembarnya menghilang dan tak pernah kembali. Rasa sesal selalu menghantui otaknya. Kenapa tidak bisa menjaga saudara kembarnya? Akan tetapi, kasus ini seakan usai begitu saja ketika Jasat dan bukti apapun hilang tanpa jejak.


Kehadiran Emely seperti cahaya yang menerangi kehidupan keluarga pradikta. Emely lahir dari rahim mamanya dan mengurangi kesedihannya.


Vino yang masih tidak terima dengan keputusan yang berwajib dan papanya yang menghentikan pencarian waktu dulu, pada akhirnya sepuluh tahun kemudian Vino bergabung pada salah satu gengster. Sebuah kelompok yang siap mejalani misi sesuai dengan misi yang diberikan orang yang mampu membayarnya. Vino bertujuan ingin mencari keberadaan kakaknya, sudah meninggal atau masih hidup. Mengingat jasat saudara kembarnya itu tak pernah di temukan. Akan tetapi, keputusannya sampai di telinga kedua orang tuanya dan malah membuat kemurkaan papa dan mamanya, mereka sempat cekcok beberapa waktu dan baru membaik beberapa bulan setelahnya.


"Kak, Awas!!" Micel berteriak saat seekor kucing tiba-tiba saja melintas.


Cit


Decitan suara mobil yang berhenti karna rem yang diinjak dengan tiba-tiba. Vino tampak terkejut dan menghela napas dengan kasar.


"****," umpatnya saat mobil berhenti dengan sempurna.


Micel menutup wajahnya erat. Vino melirik Micel dan mendapati wajah Micel yang pucat pasi karna terkejut. Mungkin trauma masih ada dalam benaknya karna kecelakaan yang terjadi padanya dan Emely waktu.


Vino yang hawatir pada Micel menatap Micel dengan tenang. Tangannya terulur mengambil tangan Micel yang menutupi wajahnya. Dipandangnya wajah cantik yang kini tampak ketakutan dan memejamkan mata indahnya.


"Kamu tidak papa kan?" tanya Vino. Micel terdiam, membuka matanya dan meletakkan tangannya di pangkuannya kemudian menatap Vino dengan panik.


Di samping mobil sudah ada beberapa pelayan yang berjejer rapi. Vino keluar dari mobil dan menatap ke arah beberapa pelayan wanita itu.


"Antar Nona muda ke kamarku," titahnya dan diangguki oleh pelayan.


Vino berjalan menapaki anak tangga menuju pintu utama.


Micel yang berangsur membaik menatap punggung suaminya dengan penuh rasa kecewa. Tidak bisakah menanti dirinya dulu? Apa dia lupa dan amnesia jika telah beristri? Kini pintu mobil terbuka, dibuka oleh pelayan yang tersenyum ramah ke arah Micel.


"Selamat malam Nona Muda, selamat datang di mansion keluarga Pradikta." sapa salah satu pelayan lelaki pada Micel. Micel tersenyum dan melangkah keluar, dia berdiri tegak menatap ke arah mension megah yang sama besarnya dengan mansion keluarga Handika Raditia.


Para pelayan menunduk hormat, sejenak kemudian menatap wanita cantik yang memakai kebaya putih nan yang indah. Salah satu diantara mereka berjalan dan membantu membawa ekor baju Micel yang menjuntai indah itu.


"Aku bisa sendiri Mbak," ucap Micel sopan pada pelayan yang kini berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Sudah pekerjaan kami Nona Muda," sahutnya.


"Nama saya Micela, panggil saya Micel," ucapnya sambil menatap ke arah beberapa pelayan itu.


"Baik Nona Micel," ucap mereka bersamaan. Micel tersenyum dan menghela napas panjang


"Panggil saya Micel saja, Nona Micel bagi saya terlalu berlebihan," ucap wanita cantik itu.


"Maaf Nona, rasanya kurang sopan jika hanya memanggil nama," jawab salah satunya. Micel menatap beberapa pelayan itu dan memejamkan mata indahnya sejenak.


"Oke, terserah kalian saja. Yang terpenting kalian jangan sungkan pada saya," ucapnya.


"Mari Nona muda, Nyonya besar dan Tuan Besar sudah menunggu di atas sana," ucap Pelayan lelaki sambil tersenyum.


Micel mengangguk kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menapaki anak tangga menuju ke dalam mansion. Jantung Micel berdetak hebat, dirumah mertua?Ah, kenapa dia merasa gugup?


Apa seperti ini impiannya dulu? Menikah dengan Vino? Pada akhirnya, sampailah mereka di pintu utama. Di ruang tamu yang berada di depan pintu, Mama Elina dan Papa Pradikta tersenyum pada Micel. Mama Elina mendekat dan menatap menantunya dengan cinta.


Entah bagaimana sebenarnya pernikahan putranya terjadi, yang jelas dirinya sangat menyayangi Micela. Ya, sebelum menikah, Vino pun meminta izin pada kedua orang tuanya. Sempat menanyakan alasan kenapa menikah mendadak sekali pada putranya, akan tetapi Vino tak menjelaskan alasannya.


Meski pernikahan yang terkesan dadakan ini di laksanakan dengan sangat sederhana, akan tetapi kasih sayang kedua mertuanya ini tercurah untuk Micela.


"Selamat datang menantunya mama, selamat menempuh hidup baru bersama Vino. Mama yakin, entah bagaimana kalian menikah, suatu saat nanti pasti kalian bahagia," ucap mamanya seakan sudah mengetahui isi dari pernikahan yang sebenarnya. Mama Elina meraih Micel dalam dekap hangatnya.


Micela membalas pelukan mama mertuanya, dia hanya diam, tak sanggup menjawab apapun. Papa Pradikta menepuk pundak menantunya dan tersenyum.


"Baik baik di sini, anggap rumah sendiri. Anggap kami juga orang tua sendiri, sekarang istirahatlah, biar Mbak Arina mengantarmu ke kamar Vino," ucap Papa Pradipta. Micel tersenyum dan melepas pelukan mamanya.


"Terimakasih Mama dan Papa menerima mau menerima Micel dengan baik," ucapnya.


Mama Elina dan Papa Pradikta tersenyum dan mengangguk pelan.


"Mbak, antar Nona muda ke kamar tuan Muda," ucap Papa Pradikta para mbak Arina yang kemudian mempersilahkan Nona mudanya untuk berjalan menapaki anak tangga menuju ke lantai dua.

__ADS_1


Mereka melangkah ke atas dengan tenang, Micel merasakan jantungnya berdetak dengan cepat. Kamar Vino? Apa dia sudah di sana? Pertanyaan yang mengiang di otaknya dan membuatnya semakin gugup.


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2