Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 60


__ADS_3

"Segera jemput dia, atau kau mau aku yang menjemput?" goda Dani kemudian melenggang pergi.


Radit segera melangkah menuju ke parkiran, Dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, entah kenapa dia ingin sampai di butik secepat mungkin. Dia juga mengingat permintaan nenek yang mengusik hatinya.


Nada, wanita itu sudah seperti jailangkung di hati dan pikirannya. Datang dan pergi tanpa kata. Tapi, perasaan apakah? Entahlah. Lalu lalang mobil di jalanan membuat Radit tak sabar, bahkan lalu lintas merahpun dia terjang. Kenapa si Radit? 😃


😍😍😍😍😍


Nada dan Vino antusias membahas tentang kerja sama yang akan mereka lakukan. Selain membahas tentang fashion mode, Vino juga menawarkan kerja sama dalam bidang properti pada Nada. Sesekali Vino melirik ke arah Nada yang menjelaskan beberapa desain dan keinginannya untuk mengembangkan bisnis.


Vino sangat tertarik dengan persentasi yang Nada berikan, entah tertarik karna suka pada orangnya atau bagaimana. Yang jelas apapun yang keluar dari bibir Nada seakan membius Vino dan mampu membuat Vino seakan tersihir.


Vino, lelaki itu sesekali mencuri pandang pada wajah cantik yang begitu membuatnya penasaran. Nada mendongak, sesekali tatapan mereka bertemu menciptakan kecanggungan diantara keduanya.


Tiga puluh menit berlalu. Keduanya menghela Napas panjang. Nada membaca beberapa notuline yang menjadi kesepakatan.


"Jadi bagaimana untuk penawaran terakhir? Aku sanggup untuk menghendel 100 persen modal, tapi anda hanya memberikan kesempatan 80 persen saja. Lantas apa tidak nanggung?" tanya Vino. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum tipis disana.


Nada tampak menimbang, dia juga tidak mau terjebak dalam situasi yang nantinya akan mencelakakan dirinya sendiri. Hati-hati boleh kan? Nada menatap Vino yang kini menatapnya dengan tenang.


"Terimakasih atas penawarannya, Tuan Vino. 80 persen saya rasa sudah lebih dari cukup. Saya masih harus menyesuaikan diri untuk berbisnis yang baru, tapi saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan," ucap Nada. Vino mengangguk dan tersenyum .


"Okey, kalau begitu kita harus menandatangani beberapa berkas. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Vino. Nada mengangguk sambil menandatangani berkas persetujuan.


"Nona, ada waktu senggang?" Vino membereskan segala perlengkapan dan menatap Nada dengan tatapan yang penuh kekaguman. Nada mendongak dan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 16.00.


"Saya ada waktu senggang, tiga puluh menit. Tuan Vino, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nada. Vino berbinar dan menatap Nada.


"Alangkah baiknya jangan terlalu formal, panggil aku Vino saja," pinta Vino. Nada tersenyum seakan mempertanyakan pantaskah?

__ADS_1


"Tapi saya tidak enak," ucap Nada.


"Anggap saja saya temanmu," ucap Vino lagi.


Nada mengangguk dan mengiyakan. Ah, entahlah. Menolak ataupun menerima rasanya seperti hal yang sulit untuk di pilih.


"Oh iya, kamu harus tau, selain ingin membahas pekerjaan, aku kesini juga ingin mengucapkan terimakasih padamu." Vino mengambil paperbag kecil di tas kerjanya dan meletakkan di atas meja. Nada mengamati paperbag itu penuh selidik.


"Apa itu Vin?" tanya Nada.


"Hadiah karna kamu telah mengisi acara kemarin malam. Kau tampil sangat memukau dan berhasil membuat acara yang kami selenggarakan mendapat tanggapan yang positif," ucap Vino.


Nada tertawa lirih dan menatap ke arah Vino. Nada menggelengkan kepalanya.


"Itu hanya iseng, hanya hobby saja. Aku rasa masih banyak orang yang lebih dari apa yang saya bisa, jadi anda tidak perlu repot begini. Terus terang saya jadi tidak enak," ucap Nada sambil tersenyum memandang ke arah Vino.


Deg, hati Nada seakan menangkap perkataan yang lain. Apa maksud Vino? Atau dia tengah terjebak dalam rencana perjodohan yang dibicarakan di pesta malam itu? Ya Tuhan, nanti dia harus berbicara pada ayahnya.


Nada tersenyum dan menatap Vino dengan tenang.


"Terimakasih, Vino. Sepertinya menolak pun juga percuma," ucap Nada sambil meraih paper back dan diletakkan di meja. Dia tidak mau untuk berdebat dengan orang yang baru dikenalnya.


"Aku juga ingin mengajakmu makan, apa kamu setuju?" tanya Vino. Nada menghela napas panjang.


"Maaf, bukan aku menolak. Tapi aku tidak ada waktu, Vino," ucap Nada dengan halus. Vino tersenyum dan mengangguk.


"Sepertinya harus merencanakan jauh-jauh hari, katakan jika ada waktu senggang Nada," ucap Vino sambil tersenyum. Nada menganggukkan kepala. Nada merasa canggung, apa yang kemarin malam yang di bicarakan ayah, bos serta anak bos ayahnya? Kenapa Vino dirasa mencoba mengakrabkan diri?


"Kalau begitu saya harus pamit, Nada. Selamat bergabung dengan Pradikta Groub." Vino mengulurkan tangan dan disambut dengan Nada mengatubkan kedua tangannya. Keduanya berjalan menuju ke arah pintu keluar.

__ADS_1


Sedangkan, dipelataran Sheyna bontique. Seseorang tengah memarkirkan mobilnya di dengan binar mata yang begitu menyilaukan. Seluas senyuman terbit dari bibir indahnya. Segera Radit turun dari mobilnya. Dengan elegan dia mengibaskan jasnya. Dipandangnya butik kekinian yang begitu megah itu. Butik belantai lima dengan arsitek yang menawan dan bertuliskan Sheyna bontique.


Entah mengapa, dia bahagia bisa akan bertemu dengan istrinya. Bahagia? Aish, sepertinya ada yang salah dengan hatinya. Dengan tenang Radit menapaki anak tangga yang menghubungkan dengan lobi.


Seketika langkahnya terhenti saat dirinya berpapasan dengan dua manusia yang tampak berbincang dengan hangat yang kini baru saja keluar dari dari lobi.


Deg,


ketiganya saling berpandangan. Nada membelalakkan matanya, terkejut dengan kedatangan manusia tampan yang selalu bisa membuatnya bahagia dengan segala kunikannya.


Sedangkan Radit memandang Nada dan Vino dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan. Ada perasaan sakit yang merayap di hatinya sehingga merasakan sesak yang mendera. Aish, perasaan macam apa ini? Radit menatap Nada dengan sorot mata yang tidak terbaca. Tangannya terkenal kuat. Radit mengalihkan pandangannya pada Vino yang kini menatapnya dengan penuh pertanyaan.


😃😃😃😃😃


"🎀


#🎀


#🎀


Hati hayo mana ritualnya. Ayo ayoo siapa yang bahagia Radit merasakan sesak? 🤣


Radit : Thor, sepertinya kau bahagia sekali membuat aku kecewa!


Author : Jadi orang makanya jangan sombong, kenapa sih egois banget lu dit? Bilang suka aja n gengsi,"


Radit: Aish, pasti gegara para readers juga yang suka ngomporin kau. Makanya kau membuat takdirku seperti ini! "


Author : Marah aja sono, aku tak perduli dit! 😃😝😝😝

__ADS_1


__ADS_2