Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 28


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, Nada telah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya untuk meniti karirnya kembali.


Dini hari ini adalah jadwal keberangkatan Nada ke pulau X. Rafa dan Nada menikmati suasana bandara.


Nada mengatakan jika dirinya akan pergi sehingga meminta waktu pada Rafa untuk bertemu. Kini mereka duduk di bawah pohon sambil menikmati lalu lalang orang yang tengah mempersiapkan penerbangan.


"Apa yang membuat dirimu pergi kembali?" tanya Rafa.


"Aku," Nada menghentikan ucapannya. Rafa mengusap pelan pundak Nada, membuat hatinya dag dig dug tak karuan, Nada mencoba untuk tetap bisa menguasai hatinya.


"Apa kau menghindari sesuatu?" tanya Rafa. Nada terdiam, ia menatap ke arah Rafa dan menggelengkan kepalanya.


"Kadang kala, apa yang kita lihat tak sejalan dengan kenyataan. Kakak mungkin merasa seperti itu, tapi aku tidak seperti itu," ucap Nada.


Rafa tersenyum dan mengusap pelan pundak Nada lagi. Nada meneteskan air mata, mencintai Rafa dalam diam membuat dirinya sakit. Mengungkapkan? bahkan hanya untuk menodai ikantan kakak beradik seperti ini dirinya tak mampu.


"Nada, kamu menangis? Ada apa?" Rafa menatap wajah Nada dan mengangkat wajah Nada. Menghapus air mata Nada yang menetes tanpa henti.


"Nad, bicara sama kakak, ada apa sejujurnya?" tanya Rafa. Nada lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


"Tidak kak, kakak tidak usah menghawatirkan aku. Kakak bisa pulang dulu, aku akan terbang sebentar lagii," ucap Nada. Rafa tampak ragu untuk meninggalkan adiknya itu. Sejujurnya dia tau betul apa yang membuat Nada meneteskan air mata.


"Bagaimana bisa kakak meninggalkanmu?"


"Sudahlah jangan menghawatirkan aku, aku bersama ayah dan ibu juga Amara di sana. Yang terpenting aku sudah melihat kakak untuk yang terakhir kalinya sebelum berangkat," ucap Nada.


Rafa menghela napas panjang dan mengangguk pelan.


"Lain waktu jika kamu butuh bantuan katakanlah, walaupun kamu jauh disana kaka akan mengusahakan untuk membantumu," ucap Rafa. Nada mengangguk pelan dan tersenyum.


"Terimakasih Kak, aku harap kakak akan selalu bahagia," ucap Nada.


"Bahagia juga dirimu Nad, aku berharap kau juga bahagia," sahut Rafa.


Jam terbang pesawat ke Pulau X telah tiba, Nada segera mempersiapkan diri. Dia diantarkan oleh kedua orang tuanya beserta Amara. Mereka saling berpelukan dan saling melepas rindu.


"Nada, kamu hati-hati," ucap Amara. Nada mengangguk pelan dan menatap Amara dengan tenang.

__ADS_1


"Jangan mengkhawatirkan aku, aku bisa menjaga diriku," ucapnya. Amara tersenyum dan mengusap pelan pundak Nada.


"Ya, aku percaya padamu," ucap Amara kemudian melepas pelukan pada Nada.


Nada menatap kedua orang tuanya bergantian, seakan meyakinkan mereka bahwa dia akan baik-baik saja.


"Ayah dan ibu jangan khawatir, ada Kak Arfan disana yang akan menjaga aku," ucap Nada dengan halus.


"Iya, ibu tau kamu akan baik-baik saja Nak," ucapnya sambil mengusap air mata.


Keduanya kembali berpelukan, hingga beberapa saat kemudian Nada segera masuk karna sebentar lagi pesawat akan segera meluncur.


🎀🎀🎀🎀


Nada mengendarai mobilnya dengan tenang, setelah menikmati istirahat di apartemen beberapa jam. akhirnya dia memutuskan untuk segera mengurus butiknya pagi ini.


SheyNa Bontique, Sheyna dan Nada. Butik yang di dirikan dengan kerja keras. Empat tahun sudah butik itu berkembang dan mempunyai beberapa cabang.


Butik ternama yang memproduksi pakaian mahal dan berkelas. Nada memilih pulau X untuk tempatnya kini mengelola bisnisnya, tiga cabang telah di serahkan pada Amara dan dia memegang tiga lainya. Sungguh prestasi yang membanggakan saat di usianya yang masih 23 tahun sudah mempunyai karir secemerlang itu.


Ciiit,


Tampaknya di depan sana terjadi kecelakaan. Nada melihat jam yang melingkar di tangannya yang menunjukan pukul 7.30 dan artinya akan memakan waktu yang lama jika dirinya harus terjebak macet. Padahal pukul 08.00 nanti ada pertemuan penting yang harus di hadiri.


Nada keluar dari mobil kemudian mendekati tukang parkir yang berada di sebelah mobilnya.


"Maaf, Pak. Boleh saya menitipkan mobil saya disini? Nanti biar orang saya yang mengambilnya," ucap perempuan berhijab itu dengab ramah. Bapak itu tersenyum dan mengangguk pelan.


"Boleh mbak," jawabnya sambil tersenyum.


"Okey, terimakasih pak. Kalau begitu ini untuk jasa parkirnya," Nada membuka dompetnya dan menyerehkan selembar uang berwarna biru pada tukang parkir itu.


"Maaf nona, kalo pagi begini bapak belum ada kembalian," lirihnya.


"Oh, ini kembalian buat bapak saja. Saya sangat berterimakasih sekali pak," ucap Nada.


Bapak tua itu tampak tersenyum dan berterimakasih. Nada tersenyum dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Terimaksih, Nona."


"Sama-sama bapak. Mungkin ini memang jalan Allah untuk memberikan rezeki untuk bapak," lirihnya.


"Sekali lagi terimakasih nona,"


"Sama-sama bapak, kalau begitu saya pamit dulu," ucap Nada dan diangguki oleh bapak itu.


Nada melangkah pergi, memperhatikan sandal jepit yang dia pakai. Dia tersenyum, bagaimana bisa dia lupa tidak ganti sepatu? Bahkan baju yang dia pakai begitu sederhana.


"Astaga, kenapa bisa lupa. Udah ah, nanti ganti di butik saja," lirih Nada.


Nada berjalan hendak keluar dari gerbang mini market.


Tinnnnnnn


Suara klakson mobil menghentikan langkahnya, Nada mengarahkan tangannya ke telinga. Jantungnya berdetak hebat. Hampir saja dia tertabrak.


Nada menurunkan tangannya dan melihat ke arah mobil mewah berwarna hitam metalik yang kini berada di depannya.


Sopir mobil itu keluar dan mendekat ke arah Nada yang kini mundur beberapa langkah dari tempatnya.


"Maaf nona, nona tidak papa?" tanyanya.


Nada tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Maaf pak, saya yang salah tidak melihat ketika menyebrang," ucap Nada.


"Ini untuk ganti rugi, nona. Barang kali ada yang lecet, ini dari nyonya kami." ucapnya sambil memberikan sebuah amplop coklat.


"Tidak pak, saya tidak papa," tolak Nada dengan halus.


Di dalam mobil, Mira dan Nenek Amy tampak melihat ke arah Nada dan pak sopir yang ditugaskannya untuk memberikan uang itu, memang mereka tadi masih mencari sesuatu sehingga belum sampai ke kantor sampai saat ini.


"Lihat Bu, dia menolak. Pasti dia mencoba menjebak kita nantinya, dasar wanita rendahan. Sudah di kasih jantung masih berharap yang lain," lirih Mira dengan sinis.


🎀🎀🎀🎀🎀

__ADS_1


Like komen yookkk


__ADS_2