
Mendapat pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban itu lantas membuat Radit terkekeh, dibukanya kemeja putih kemudian menggantung di gantungan baju yang berada di belakang pintu, dan aksi Radit semakin membuat Nada terkejut.
"Yang, plies. Ini masih siang dan aku masih ada pertemuan di bawah." Nada memprotes suaminya dengan mata yang tampak panik.
Radit tersenyum dan mendekat ke arah Nada yang justru malah beringsut mundur. Radit berdiri dan menghela napas panjang.
"Okey, aku akan meminta bantuan pada Zifana atau Sifa untuk mengganti perban di lenganku," ketus Radit sambil meraih kemejanya lagi
Nada membelalakan matanya, astaga kenapa dia lupa jika harus membersihkan luka di lengan suaminya? Kenapa malah menduga hal yang tidak tidak? Apa tadi? Meminta bantuan Sifa atau Zifana? Jadi suaminya berencana membuatnya cemburu?
Nada berdiri kemudia mendekat ke arah Radit yang hampir saja memakai kembali kemejanya.
"Aku yang akan membantumu," tangan Nadaenghentikan aktifitas tangan Radit untuk kemabali memakai kemejanya.
Radit menatap istrinya dan tersenyum, melihat Nada yang cemburu membuat seulas senyuman terbit di sudut bibirnya. Dia tau dia salah menyebut nama wanita lain. Tapi dia ingin melihat reaksi Nada saat cemburu, selama ini selali dirinya yang cemburu karna Nada diantara manusia tampan yang menyukainya.
"Good girls," sahut Radit kemudian meletakan kembali kemejanya di gantungan baju.
"Duduklah dulu, aku ambil kotak P3K nya Yang," ucap Nada. Radit berjalan ke arah sofa dan mendudukan bokongnya di sana. Di tatapnya Nada yang sedikit berisi. Kenapa baru menyadari? Bahkan tubuh istrinya itu semakin menggiurkan.
__ADS_1
Nada membawa kotak P3K dan duduk di samping Radit, membuka perban dan membersihkan luka tembak yang lumayan membaik itu. Nada diam, dipastikan dia marah karna ucapan Radit tadi.
"Dear," panggil Radit. Nada terdiam dan terus menggerakan tangannya dengan telaten membersihkan luka kemudian menutupnya lagi.
"Dear," pqnggil Radit lagi. Nada terdiam.
"Aduh duh... Aduh..." Radit tampak kesakitan dan membuat Nada terkejut dan panik menatap ke arah suaminya.
"Kenapa Yang? Apa aku terlalu kasar? Kenapa?" Nada meggenggam tangan Radit dan menatap ke arah Radit dengan penuh kehawatiran.
"Aduh, sakit Dear, sakit hatiku kamu cuekin," ucapnya sambil terkekeh. Nada membolakan matanya, disentaknya tangan Radit ke sofa. Dia pikir Radit kesakitan karna luka tembaknya. Nada menatap Radit dengan sorog mata yang tajam.
Radit membelalalakkan matanya. Nada marah? Dengan tergesa Radit menyusul Nada meraih pinggang Nada agar wanita cantik itu tak pergi darinya.
tangan Radit melingkar sempurna di pinggang Nada, dagunya berada di pundak Nada. Nada yang geram mencoba melepaskan diri daj tangan Radit. Akan tetapi manusi itu enggan untuk melakukannya.
"Semakin kamu mencoba melepasnya, semakin aku mengeratkannya, hei Nyonya Marvel kenapa kamu ngambekan? Biasanya kamu akan menyambut candaku," ucap Radit sambil menumgusap pelan perut datar Nada.
Nada memejamkan matanya, merasakan geleyar aneh yang membuatnya terbuai.
__ADS_1
"Apa si kecil yang mengendalikanmu?" tanyanya lagi. Nada terdiam, memang biasanya dia tak semarah ini, namun kenapa dia seakan emosi? Radit memutar langkahnya dan kini berada di depan Nada, memegang kedua pipi Nada dan menatapnya dengan tenang.
"I am sorry Dear, aku hanya ingin melihatmu sedikit marah dan cemburu untuk memastikan kamu mencintaiku. Aku ingin tau, wajahmu ketika cemburu. Dan aku sudah mengetahuinya tadi," ucap Radit sambil menatap Nada dengan kekehan kecil.
Nada membelalakan matanya, memangnya harus begitu? Lalu bagaimana memang bentuk wajahnya? Bukan lega justru Nada semakin emosi.
"Oh, jadi begitu? Sudah tau aku cemburu? Sudah tau aku marah? Okey, aku marah sampai batas waktu yang belum bisa di tentukan," ucap Nada kemudian melangkah ke arah pintu keluar.
Radit mengikuti langkah Nada yang membuka pintu, dilihatnya Micel berada di depan pintu dan hampir saja mengetuk pintu.
"Micel," ucap Nada sambil tersenyum.
"Kak, aku boleh ketemu sama Kak Marvel?" tanya Micel. Nada mengangguk dan teesenyum.
"Dear, jangan...." ucapan Radit yang baru sampai di depan pintu terhenti saat melihat Micel yang berdiri di sana. Micel menatap kakaknya yang hanya menggunakan singlet itu. Memandang Radit dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Apa aku mengganggu?" tanya Micel sambil nyengir kuda.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀🎀