Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 126


__ADS_3

Radit mendudukan Nada di mobil dengan hati-hati. Entah kenapa, dia rasa Nada sangat lemah. Wanita yang biasanya kuat dan tahan dengan rintangan itu seakan tak sanggup untuk berdiri.


Radit mencium kening Nada beberapa kali, mengusap pipi yang kini berhiaskan air mata. Nada diam tak berkata apapun. Hanya sorot matanya menyiratkan sebuah kesedihan.


"Yakinkan aku jika Micel tak akan kenapa-kenapa. Yakinkan dirimu juga kalau Micel akan baik-baik saja. Dear, Micel gadis kuat, gadis hebat," ucap Radit. Hatinya hancur, sangat hancur. Apalagi melihat keadaan Nada yang seperti ini.


Nada tak menjawab, hanya memejamkan mata. Membiarkan lelehan air mata jatuh di pipinya. Micel, gadis cantik itu adalah sumber kekuatan dirinya bertahan di mansion saat Radit dan mama mertuanya belum bisa menerima keberadaannya. Tanpa Micel, mungkin dirinya telah terdampar tak bernyawa di dalam ruang kamar yang waktu itu di kunci oleh Radit.


"Dear, jika kamu sayang pada Micel, doakan dia. Jangan seperti ini," Radit menggenggam erat tangan Nada. Memberikan kekuatan pada istri cantiknya itu untuk bisa pasrah dengan apapun yang terjadi nantinya.


Nada mendongak, menatap Radit dan mengusap wajah tampan Radit yang kini bersedih juga. Radit benar, berdoa untuk Micel adalah hal yang paling penting saat ini.


"Kita kesana sekarang," ucap Nada antusias.


"Hapus air matamu, kita kesana jika kamu tidak menangis," pinta Radit. Nada menghela napas dalam-dalam, mencoba menekan perasaannya agar kuat dan tak menangis.


"Aku tidak menangis," ucap Nada sambil mengusap air matanya.


"Good girl," ucap Radit sambil mengusap pelan puncak kepala Nada-Wanita cantik yang berjarak umur 5 tahun darinya itu. Wanita cantik yang kini berstatus sebagai istrinya itu, wanita cantik yang mampu memikat hatinya, wanita cantik yang biasanya menggemaskan dan sangat tegas. Tapi beberapa hari ini malah seperti adik kecil yang sangat manja.


"Kita berangkat sekarang," ucap Radit.


Radit menutup pintu mobilnya, berlari kecil ke arah kemudi dan masuk ke dalam mobil.


"Maaf Tuan Marvel, apa hubungan anda dengan Nona itu?" tanya salah satu wartawan yang tiba-tiba berada di samping pintu mobil, kebetulan sekali kaca mobil masih terbuka. Mereka tak tau Nama Nada dan menyebutnya dengan nona itu.


Nada memejamkan matanya, apa lagi ini? Nada mengambil masker dan menutup wajahnya sebelum banyak orang yang mengenalinya.


"Siapa wanita cantik itu Tuan Marvel, bisa di kenalkan?" tanya wartawan lagi.


"Maaf, kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk saya menjawab pertanyaan," ucap Radit sopan kemudian menutup kaca mobil dan segera menancap gas mobilnya. Sifa mengikuti laju mobil Radit dan berjalan di belakang mobil Radit.


Di arena proyek itu, semua mata menatap pemandangan itu. Masih menjadi sebuah misteri, kedekatan antara Nada dan Radit. Bahkan para wartawan berasumsi dengan sendirinya. Entah, kabar apa yang akan muncul di berita bisnis dan entertine besok pagi.

__ADS_1


Setelah kepergian Radit, mata wartawan menelisik ke arah Mira yang kini bersama dengan beberapa sahabatnya. Para wartawan itu menatap ke arah Mira dan berjalan mendekat ke arah dimana wanita itu berada.


"Maaf Nyonya, minta waktunya sebentar. Ada hubungan apa putra anda dengan wanita cantik itu?" tanya seorang wartawan tampan. Sambil mengarahkan mikrofon pada Mira.


Mira tampak termenung, menatap ke arah sahabat-sahabatnya yang sangat menyukai Nada itu.


"Jadi apa hubungan Nona cantik itu dengan putra Nyonya Mira?" tanya salah satu dari mereka.


Mira memejamkan matanya. Di dalam pikirannya, sangat membenci Nada. Tapi, di lubuk hati yang paling dalam, dia sangat kagum dengan wanita cantik yang berstatus sebagai menantu di rumahnya itu.


Menantu yang tidak bisa di pungkiri, bisa mempersatukan putra dan putrinya. Menantu yang mampu menciptakan surga di antara neraka yang pernah dia ciptakan. Menantu yang mampu membuat suasana rumah begitu hangat. Menantu yang begitu sabar merawat ibunya, menantu yang rajin memasak dengan masakan khas yang sangat memanjakan lidah keluarganya.


Pikiran Mira menerawang jauh, di otaknya ingin membeberkan kejalekan Nada menurut asumsinya, akan tetapi di hatinya menolak itu semua. Hatinya bahkan telah luluh pada pesona seorang Nada Aira, meskipun keegoisanya dan ke gengsiannya mengalahkan tingginya langit sab tujuh.


"Bagaimana Nyonya Mira?" tanya wartawan itu lagi.


"Gadis cantik tadi sakit dan hampir pingsan, makanyaTuan Marvel menolongnya dan akan membawanya ke rumah sakit," sahut orang yang baru saja dari dalam.


"Apa? Nona Nada sakit?" tanya Nyonya Dina, Nyonya Ina dan Nyonya Ira serempak.


"Iya, wajahnya pucat sekali," ucap wanita itu lagi.


"Oh, begitu. Terimakasih atas informasinya Nyonya," ucap wartawan itu. Nyonya Dina, Nyonya Ira dan Nyonya ina memandang ke arah Nyonya Mira.


"Sepertinya aku harus pulang, aku ada perlu," ucapnya kemudian melangkah pergi.


🎀🎀🎀🎀


Beberapa saat kemudian, Nada dan Radit telah sampai di rumah sakit. Nada yang mendengar adiknya kritis tak kuat menahan deraian air mata. Bahkan sekedar untuk berpura pura kuat dan menahan air mata nyatanya dia tak sanggup.


Dengan langkah terburu Nada menuju kekamar rawat dimana Micel terbaring lemah.


"Kak, bagaimana Micel?" tanya Nada saat bertemu dengan Arfan, dokter yang menangani Micel. Dokter Arfan hanya menggelengkan kepalanya sambil menghapus air mata Nada, membuat hati Nada semakin Khawatir. Radit hanya bisa berdiri sambil menatap ke arah Nada dan Kakak Iparnya itu.

__ADS_1


"Coba ajak dia berbicara, berinteraksi, semoga saja alam bawah sadarnya merespon suaramu,," ucap Arfan. Nada mengangguk.


Dengan langkah seribu Nada segera menghampiri Micel yang terbaring lemah. Sedangkan Radit menemui kakek dan neneknya yang masih menangis dan tampak syok di ruang tunggu.


Nada membuka pintu dengan lebar, dengan langkah gontai dan linangan air mata, Nada mengamati gadis dua puluh tahun yang memejamkan matanya tersebut. Gadis yang selalu menyayanginya, selalu merindukannya dan mempunyai berjuta kasih sayang untuknya.


Air mata Nada berjatuhan, tak sanggup jika dia harus kehilangan sosok cantik dan baik seperti Micel. Sosok pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Sosok cantik yang selalu riang dan cerewet di depannya, tetapi selalu menjadi gadis patuh dan dingin di depan kakaknya.


Nada mengamati wajah pucat Micel, mengamati perban di dahi Micel yang membalut luka. Air mata Nada terus saja mengalir.


Nada meraih tangan Micel, menggenggam dan mencium dahi Micel. Tetesan air mata membasahi dahi Micel.


"Micel bangun. Ini kakak. Seperti janji kakak, kakak akan membantumu baikan dengan Kak Marvel. Kakak kesini dengan Kak Marvel, Bukankah kamu mamerindukan pelukan Kakakmu? Micel, kamu memdengar kakak kan? Mau sampai kapan kamu diam seperti ini? Mau sampai kapan kamu membiarkan kakakmu bersedih? Micel, bangun! Kakak janji akan menghukum kakakmu kalau mengabaikanmu lagi," ucap Nada ditengah isak tangisnya.


Namun ucapannya tak tersambut. Micel masih enggan untuk membuka matanya. Hanya saja, di sudut matanya, ada sedikit air mata dan mampu membuat Nada tersenyum disela isak tanginya.


"Micel, Micel dengar Kakakan? Kamu bilang kamu rindu kak Marvel. Kamu bilang mau memeluk Kak Marvel. Lihat, Kakakmu ada di sini. Bangun Micel," ucap Nada lagi. Tangisnya pecah, tak sanggup dia menahan gejolak di dadanya.


Suasana Haru. Nenek, kakek dan Radit yang melihat pemandangan ini begitu tersentuh. Rqdit tak kuat melihat Nada menangis. Dia yang saat ini berada di depan pintu merangkul nenek segera mendekati Nada. Hatinya juga teriris sakit melihat keadaan adiknya begitu memprihatinkam.


Radit mendekat kearah Nada, sontak membawa Nada dalam peluk hangatnya.


"Dear, jangan seperti ini," bujuk Radit.


Nada hanya menangis, suaranya tercekat di tenggorokan. Nada tak sanggup untuk berkata lagi.


"Micel bangun. Lihat ada Kak Marvel, ada nenek, ada kakek. Apa kamu begitu benci sama sama kami sehingga kamu tega tidak mau bangu? Apa kamu tidak sayang pada kami sehingga melakukan semua ini? Kami sangat menyayangimu, bangunlah Micel!" Lirih Nada. Hatinya terasa perih, sakit, sesak semua bertumpah ruah dalam benaknya.


Radit tak sanggup melihat pemandangan di depannya. Radit memutuskan keluar. Dan saat itu, dia berpapasan dengan Mira.


Mereka saling memandang. Sorot mata tajam tampak dari sorot mata Radit. Radit mengeratkan tangannya. Rasanya ingin melayangkan bogem mentah di pipi wanita yang berada di depan matanya. Namun, Mira tampak sedih sekali, sama seperti dirinya.


😭😭😭🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2