Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 89


__ADS_3

"Semoga selalu seperti ini ya Allah, amin," ucap Nada lirih. Aish, sampai lupa menjawab salam dari Radit, saking bahagia dirinya.


"Waalaikumsalam, Sayang," lirih Nada, kemudian mengambil tas yang berada di kamar. Nada menapaki anak tangga menuju ke kamarnya dan segera bergegas menuju ke arah parkiran.


Nada melajukan mobilnya, membelah jalanan yang tampak begitu sesak. Lalu lalang kendaraan kesana kemari membuat dirinya tak bisa mengendarai mobil dengan cepat.


Nada menghela napas panjang ketika melihat jam yang menunjukkan pukul 08.00. Acara akan dimulai satu jam lagi, untung saja desain baju yang akan di peragakan model sudah Standby disana, Sifa menghendel semua dengan baik sehingga Nada tak perlu mengkhawatirkan itu.


Tak beberapa lama kemudian, sampailah Nada di sebuah gedung megah yang menjulang tinggi, dengan tergesa Nada berjalan menuju ke arah anak tangga yang menghubungkan dengan lobi. Namun, langkah tergesanya membuat dirinya bertabrakan dengan seseorang.


Nada memejamkan matanya saat tas orang yang bertabrakan dengannya terjatuh. Dengan segera orang itu mengambil barang miliknya. Nada mengatupkan kedua tanganya.


"Maaf, Nona," ucapnya kemudian memandang ke arah Wanita yang kini berdiri tegak di depannya.


Wanita yang cantik, bahkan baju yang dia pakai sangat exotis. Bibirnya merah merona. Wanita itu mengambil ponsel dari tas yang tadi terjatuh kemudian melemparkan ke tempat sampah. Nada tampak memejamkan matanya. Semenjinjikankah dia? Mengapa wanita itu sampai melakukan hal itu?


"Tempat yang layak untuk barang yang tersentuh kotoran," ucap wanita itu sambil mengamati Nada yang kini menggunakan baju yang sepadan dengannya. Wanita itu tau betul, kualitas barang. Dia tau, baju itu bukan sembarangan. Namun, seakan tak mau kalah, wanita itu seakan lebih berpengaruh.


"Berapa lelaki yang membawamu pergi sehingga kau memakai baju sekelas miliarder?" ucap wanita itu dengan senyuman licik sambil memgamati wajah Nada yang begitu sangat mempesona.


"Kurasa kau bukan apa-apa, memakai pakaian yang kau gunakan adalah impian manusia rendahan. Aku tau, bagaimana seorang rendahan bisa berpakaian sepertimu," kesalnya kemudian melangkah pergi. Nada memejamkan matanya dirinya seakan tak terima.

__ADS_1


"Maaf Nona, apa maksud anda?" Nada berkata sehingga menghentikan langkah wanita uang kini sudah beberapa langkah di depannya.


"Apa kau tersinggung? Sepertinya kau tidak perlu tersinggung jika tidak melakukan hal yang saya maksud," ucapnya.


"Anda bisa berkata lebih sopan dan tenang, saya tidak bersalah begitupun dengan anda. Jika anda memghendaki ganti rugi bisa anda katakan," ucap Nada dengan tenang. Wanita itu tampak mengepalkan tangannya.


"Aku bisa membeli tanpa bantuan manusia rendahan sepertimu," ucapnya kemudian melangkah pergi. Nada memejamkan matanya, bagaimana bisa dia berhadapan dengan manusia seperti itu?


Nada segera ke atas, dilihatnya Vino dan juga Emily menyambut tamu diujung sana. Ya, Emili dan Vino tampak berbincang hangat dengan wanita yang tadi bertabrakan dengannya. Nada yang malas untuk menimbrung kini segera menuju ke ruangan dimana Sifa dan beberapa model yang memperagakan busana miliknya berada.


😍😍😍😍😍


Radit melangkah dengan elegan di korodor, Tatapan mata orang di sekitarnya tampak terbius dengan segala keindahan ketampanan makhluk yang bernama Marvel Raditia Dika.


"Delon," sapanya sambil meletakkan tas kemudian melangkah ke Arah Delon yang menatapnya dengan beribu pertanyaan.


"Kau sudah lama?" Radit mengulurkan tangannya dan di balas Delon dengan tenang dan saling merangkul sejenak.


"Aku tidak bisa tidur semalaman," ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.


"Ada masalah?" tanya Radit.

__ADS_1


"Jiwa kekepoanku meronta, kau hutang penjelasan padaku Marvel," ucapnya sambil menatap Radit dengan sorot mata yang sangat mengintimidasi. Radit tampak membelalakkan matanya.


"Apa yang harus aku jelaskan?"


"Siapa Nada? Ada hubungan apa kau dengan dia?" tanya Delon dengan tenang. Radit tersenyum dan terkekeh pelan.


"Apa urusanmu menanyakan padaku?" tanya Radit.


"Nada wanita baik-baik, jangan kau pemainkan dia. Lagi pula Vino juga menginginkannya," Ucap Delon dengan tenang. Radit mengepalkan tangannya.


"Dia milikku," ucapnya dengan tegas. Delon tampak membelalakkan matanya. Aish, mendengar ucapan Radit membuat Delon terkekeh geli.


"Kau serius?" tanya Delon.


"Ya, dia istriku," ucap Radit dengan tegas. Delon menatap sahabatnya dengan penuh keterkejutan.


"Istrimu?" tanya Delon sambil membayangkan ciuman Nada dan Radit semalam.


"Yes, seh is my lovely wife,"tegasnya kemudian tersenyum tipis. Delon menatap ke arah Radit dengan tatapan tak percaya. Dia memandang Radit dengan tersenyum.


"Are you really?" Delon mencoba memastikan.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2