Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 127


__ADS_3

Pandangan mata Mira yang begitu teduh membuat Radit melonggarkan kepalan tangannya. Mira menatap putranya itu dengan deraian air mata. Rasanya sakit mendengar Keadaan Micel yang memburuk, dia tau kabar itu dari Vino. Vino yang tak sengaja berpapasan dengannya, karena terburu-buru untuk segera menemui Emeli yang berada di tangan manusia yang kata Emely sangat menakutkan.


"Izinkan mama menemuinya, maafkan mama yang selama ini menyembunyikan status persaudaraan kalian. Maafkan mama yang egois dengan memikirkan diri mama sendiri Marvel," ucap Mira sambil mengusap air matanya.


Air mata macam apa? Entah, tapi saat ini Radit merasakan bahasa ketulusan dari bahasa tubuh yang ditunjukan oleh gerak-gerik ibunya. Radit terdiam, Mira maju mendekat dengan deraian air mata.


"Mama mohon, untuk kali ini saja. Kamu boleh menghukum lagi mama setelah ini." Mira terisak. Radit masih terdiam, bahkan bayangan papanya yang telah tiada membuat kebencian pada Mira kembali membuncah.


"Maafkan mama Marvel, maafkan mama yang tidak bisa menjadi mama yang baik untuk kalian. Mama tau, mama sadar bahwa mama bukan manusia yang sempurna untuk menjadi ibu kalian. Bahkan mama bukan wanita yang berhak mempunyai surga di kakinya karna mama begitu bergelimah dosa," ucap Mira sambil menghapus air matanya.


Deg,


Radit terdiam, 18 tahun dia pergi dan baru kali ini melihat ketulusan dari seorang Mira kembali. Mendengar kata maaf yang terlontar dari mulut ibunya, sebenarnya Ingin sekali saat ini memeluk wanita itu dalam dekapannya, tapi hatinya masih merasakan sesak. Ingin sekali mencium kedua telapak kakinya, tapi dia masih merasakan dongkol.


Air mata Radit terbendung, matanya memerah. Satu kedipan mata saja dipastikan dapat meluruhkan air mata dari pelupuk matanya. Namun, tak ada pergerakan yang berarti. Radit tetap pada posisinya seakan tak mau membuka pintu untuk Mira.


"Marvel, mama mohon Nak," lirik Mira yang kali ini luruh di bawah sana. Memohon pada Radit untuk bisa masuk. Memohon pada putranya agar bisa menemui Micel. Mira menyentuh kaki Radit. Radit tampak syok melihat ini, air matanya benar-benar mengalir deras. Bahkan sekedar untuk bergerak meminta Mira untuk berdiri rasanya tidak mampu.


Bayangan Mira yang begitu baik dan penyayang tampak jelas di pelupuk matanya 18 tahun silam. Bayangan Mira yang sangat hangat terbayang di pelupuk matanya. Walau bagaimanapun seorang ibu, tidak akan mungkin bisa melukai anaknya sendiri. Ada alasan yang pastinya melatar belakangi setiap perbuatan keliru yang ditunjukan seorang ibu.


Mendengar ribut di luar, Nada, nenek dan kakek segera keluar. Nenek membuka pintu, alangkah terkejut melihat Mira yang ada di lantai dan memegang ke dua kaki Radit.


Nenek membulatkan matanya melihat pemandangan ini. Kakek terdiam dan hanya bisa tersentuh.


Nada seakan sok, mungkin memang Mira salah. Namun tidak seharusnya memperlakukan ibunya seperti itu. Nada melangkah maju kemudian berdiri di samping Mira, dia menyentuh pundak Mira dan mengajaknya untuk berdiri.


Mira mendongak, tatapan matanya bertemu dengan tatapan teduh milik Nada yang begitu menentramkan. Alangkah bodohnya dia tidak melihat ini sebelumnya, Nada begitu mempesona dan sangat teduh.


"Mama, berdirilah, jangan seperti ini." ucap Nada. Mira menggelengkan kepalanya.


"Mama ingin meminta izin pada Marvel untuk bertemu Micel," ucapnya.


Deg


Jantung Nada bergetar hebat. Ibu, ibu mana yang sanggup menampakan sedihnya di depan anak?


Ibu mana yang sanggup melihat anaknya menderita? Ibu mana yang mampu melihat anaknya hancur? Tidak ada, meski bagaimanapun kesalahan seorang ibu, ibu akan selalu mendoakan kebaikan untuk anaknya.


Walau bagaimanapun, ibu mempunyai kasih sayang meskipun terkadang tersirat dari sebuah kesalahan.


Nada berdiri kemudian menatap ke arah Radit.

__ADS_1


"Yang, lihatlah mama. Mama ingin menemui Micel, mama juga ingin kesembuhan Micel, tolong jangan egois," ucap Nada sambil mengusap air matanya.


Radit menghapus air matanya, ucapan Nada bagaikan sihir yang mampu mengembalikan kekuatan Radit yang hilang sejak tadi. Radit menatap Mira yang berada di lantai kemudian memegang pundak Mira dan mengajaknya berdiri.


Mira menurut, kini keduanya saling memandang. Keduanya sama-sama sedih, keduanya sama-sama terlepas dari ego karna memikirkan Micel.


Radit menatap ibunya, memandang wanita paruh baya yang sebenarnya sangat dirindukan pelukanya itu.


"Marvel, maafkan mama," ucap Mira lagi dan mampu memporak-porandakan hati Radit. Radit meraih mamanya dalam dekapannya. Tak sanggup lagi dia menahan rasa rindu yang membuncah di hatinya.


Tak sanggup lagi menahan segala rasa yang berkecamuk di hatinya, bahkan sesungguhnya tempat ternyaman adalah di rengkuhan seorang ibu. Ibu yang memeliki surga di telapak kakinya.


Air mata Radit tumpah, Air mata Mira juga sama. Bahkan sampai membasahi kemeja putranya itu. Nada dan nenek saling merangkul saling menguatkan. Kakek? Tak bisa juga dia menahan segala rasa yang membuncah ini.


Kakek Rey mendekat dan menatap Mira juga Radit bergantian. Ini adalah hal yang diinginkan sejak dulu. Dan baru kali ini bisa terwujut.


"Aku bahagia melihat pemandangan ini," ucapnya. Radit dan Mira saling melepas rangkulan, kini Mira menatap ke arah papanya dan memeluknya.


"Maafkan Mira pa, atas keegoisan Mira sehingga membuat anak-anak menderita," ucapnya dan diangguki oleh Kakek Rey.


"Sebaiknya kamu masuk, mungkin Micel juga mengharapkan kehadiranmu." Kakek Rey meminta. Mira menatap ke arah Radit seolah meminta persetujuan.


Radit memgangguk pelan, membuat Mira merasakan kebahagiaan yang mendalam. Mira mengusap pelan pipi Radit dan tersenyum di tengah isakan tangisnya.


Mira menjatuhka air mata melihat Micel terbaring tak berdaya. Banyak sekali peralatan medis yang melekat di tubuhnya. Tangan Mira terulur menyentuh puncak kepala putrinya dan mengecup pelan kening putrinya.


Wanita paruh baya itu mengamati beberapa bagian tubuh Micel yang berbalut perban, Rasanya begitu sakit melihat keadaan putrinya yang biasanya riang itu kini tak berdaya dan tak sadarkan diri, dan itu semua tak lepas dari kesalahannya.


"Micel, apa kamu mendengar mama? Maafkan mama karena selama ini menyembunyikan kebenaran darimu dan dari Kak Marvel. Mama membuat hati kalian berdua sakit, membuat hati kalian hancur dengan kebohongan yang mama buat. Mama menyesal Micel, mama menyesal, Nak. Kamu boleh marah sama mama, kamu boleh menghukum mama. Tapi kamu harus tau, mama begitu sangat menyayangimu, mama sangat menyayangi kalian. Mama takut kalian membenci mama jika tau kebenaranya, karna kebohongan yang mama lakukan membuat kalian kehilangan papa," ucap Mira sambil menggenggam tangan Micel.


"Kamu boleh benci sama mama, tapi kamu harus bangun, kasihan nenek, kakek, Kak Marvel dan kakak ipar yang mengkhawatirkan keadaanmu nak," ucap Mira lagi.


Radit memejamkan matanya, dia yang melihat interaksi Mira dan Micel kini mendekat. Dia mengusap pelan pundak ibunya, memberi kekuatan. Dia tau, Mira sama hancurnya seperti dirinya.


"Ma, aku yakin Micel gadis yang hebat. Dia akan bangun," ucap Radit.


Mira mendongak? Ma? putranya memanggilnya mama? Ya Tuhan, ini begitu membahahiakan bagi Mira.


Tanpa disadari oleh Mirq dan Radit, Micel menggerak-gerakan jarinya seperti akan terbangun.


Samar-sama Micel mendengar peebincangan dua orang. Bola mata Micel bergerak dan perlahan membuka mata. Ditatapnya langit-langit kamar. Entah, dia tidak tau ini dimana, kenapa dia ada disini. Bahkan dia lupa siapa dirinya. Semakin mengingat, semakin sakit.

__ADS_1


"Aduh," lirihnya. Terdengar suara erangan yang membuat Radit dan mamanya menoleh.


"Sayang, kamu sudah sadar?" ucap Mira. Segera Radit memencet tombol untuk memanggil dokter.


Radit dan Mira menatap Micel yang masih memandang langit-langit kamar dan memegang kepalanya.


Perlahan dia memiringkan kepalanya, orang pertama yang dia lihat adalah Radit. Micel menatap lekat wajah Radit, kemudian menatap ke arah Mira.


"Kalian siapa?" ucapnya.


Deg,


Jantung Mira dan Radit berdetak hebat. Kenapa Micel? Nada yang melihat kakaknya masuk ke dalam ruang rawat segera mengikuti.


Arfan segera mendekat dan mengecek keadaan Micel.


"Kak, apa yang terjadi pada Micel?" tanya Radit.


"Sebaiknya kita bicara di ruanganku," ucap Arfan. Radit mengangguk.


"Micel, kamu istirahat dan makan ya," ucap Dokter Arfan. Micel mengangguk dan menoleh, pandangan matanya tertuju pada Nada yang terpaku dan mengusap air mata di belakang Micel.


"Kak Nada," ucapnya.


Deg,


Semua mata menoleh ke arah Nada dan Micel bergantian. Micel lupa pada Radit dan Mira, tetapi ingat pada Nada? Nada segera memdekat dan mencium puncak kepala Micel.


"Kak Nada, benar? Lalu akau siapa?" tanyanya bingung.


Mira menutup mulutnya, air matanya kembali berderai. Sejahat itukah dia sehingga Micel melupakannya? Radit dan Arfan saling berpandangan, mereka pun segera keluar.


"Kamu Micel, Micela Adelia." ucap Nada. Air matanya mengalir deras. Micel tampak masih berpikir sesuatu kemudian menatap ke arah Nada.


"Kak,"


"Ya,"


"Antar aku ke kafe mawar. Ada yang menungguku di sana," ucap Micel.


Deg

__ADS_1


Jantung Nada bergetar hebat, dia tau yang dimaksud Micel. Pasti lelaki yang mampu menggetarkan hatinya seperti yang dia bilang saat itu. Jadi hanya dirinya dan lelaki itu yang dia ingat?


🎀🎀🎀🎀


__ADS_2