
"Lihat Bu, dia menolak. Pasti dia mencoba menjebak kita nantinya, dasar wanita rendahan. Sudah di kasih jantung masih berharap yang lain," lirih Mira dengan sinis.
"Jangan berfikir terlalu jauh," ucap Nenek Amy pada Mira putrinya.
"Aku keluar dulu bu," lanjut Mira.
Nenek Amy hanya mengangguk, netranya mengawasi gerak-gerik putri semata wayangnya itu. Mungkin yang di katakan Mira tidak benar, tapi dia sangat tidak suka dengan kecerobohan. Nenek Amy berpikir, mungkin ada baiknya jika Mira menegur gadis cantik itu.
"Maaf pak, tidak usah," ucap Nada saat pak sopir memaksanya.
"Terima saja, aku tau model-model orang rendahan semacam dirimu! Kau akan mencari kami dan meminta lebih dari ini bukan?" tanya Mira sinis sambil mengamati Nada dari ujung kaki yang bersandal jepit hingga ujung kepala yang berkerudung itu.
Nada menoleh ke asal suara, dilihatnya seorang perempuan paruh baya yang sangat cantik dengan pakaian berkelas dan tampak sangat elegan. Dipastikan mereka adalah orang-orang sosialita seperti pengunjung butiknya.
"Maaf nyonya. Tapi, saya tidak berfikir demikian," ucap Nada.
Nada memejamkan matanya, sangat menyakitkan dituduh seperti itu. Namun, dia harus sabar menghadapi orang itu. Semakin dilawan pasti akan semakin memperpanjang masalah.
Mira mengambil amplop coklat itu dari tangan sopirnya kemudian mengambil tasnya dan menyerahkan lembaran cek beserta amplop itu pada Nada.
"Ambil dan isi berapapun yang kau mau, tapi kau jangan lagi memunculkan wajahmu itu di hadapanku," ucap Mira dengan nada yang menyepelekan.
Nada hanya memandang amplop dan cek yang diberikan padanya. Nada tersenyum dan memandang ke arah wanita di depannya.
__ADS_1
"Maaf nyonya, saya masih bisa makan dengan uang yang saya hasilkan dari jeripayah saya sendiri. Terimakasih atas perhatian anda Nyonya. Sebaiknya anda mendonasikannya di sana," tunjuk Nada pada sebuah panti asuhan yang berada di sebrang jalan.
Mira tampak mengepalkan tangannya, darahnya seakan mendidih. Wanita cantik di depannya benar-benar menyulut emosinya. Dia mengamati wajah Nada yang kini sangat kental di ingatannya.
"Dasar wanita murahan, aku pastikan aku mengingat wajahmu dan akan membuat perhitungan denganmu lain waktu," batin Mira.
Nenek Amy tampak keluar dari mobil dan mendekat ke arah dimana Nada dan putrinya berada, ucapan Nada membuatnya terkesan. Setelah mendengar ucapan berani Nada yang menentang Mira dengan ungkapan masuk akalnya, kini nenek Amy penasaran dengan wajah seorang yang berkerudung di sana.
Aura dingin begitu kuat Nada rasakan saat perempuan berusia lanjut itu memandangnya dengan sorot mata yang mengintimidasi.
"Mira, sebaiknya kita pergi. Acara Marvel lebih penting dari pada mengurusi gadis ceroboh sepertinya!" tegas Nenek Amy sambil melirik ke arah Nada yang menunduk.
Nada terdiam. Ceroboh? Oke, Mungkin ini lebih masuk akal dari apa yang di tuduhkan wanita paruh baya tadi kepadanya. Memang dia yang salah, dia ceroboh saat menyebrang jalan.
"Baik bu," ucap Mira kemudian melenggang pergi sambil menggandeng tangan ibunya. Supir mobil berpamitan dengan Nada, Nada mengangguk pelan.
Apa karna tadi lupa tidak membaca doa ketika berangkat? Pikirnya. Nada menatap jalanan yang tampaknya sudah tidak semacet tadi.
Dirinya melirik jam yang menunjukan pukul 08.00. Artinya dia sudah terlambat meting untuk hari pertamanya ke kantor.
Pada akhirnya Nada memgirimkan pesan pada asisten pribadinya yang selama ini menjadi orang kepercayaannya untuk kembali menggantikan dirinya meeting. Tak lama kemudian deringan ponsel berbunyi, dari Sifa asisten pribadinya.
"Halo Sifa, ada apa? Aku terjebak macet. Sebaiknya kamu yang menghadiri Meeting pagi ini," pinta Nada pada asistenya itu.
__ADS_1
"Maaf Bu, tapi sekarang yang hadir hanya Asisten Tuan Vino Pradikta. Dia menyampaikan bahwa Tuan Vino masih menghadiri acara penyambutan temanya di perusahaan temannya. Dia meminta bertemu dengan anda nanti siang, dia mengancam akan membatalkan kerjasama jika tidak jadi bertemu dengan pemilik Sheyna bontique sendiri," ucap Sida gugup.
Nada tampak sedikit berpikir dan mencoba menenangkan hatinya.
"Okey, 30 menit lagi saya sampai di kantor. Kamu atur jadwal dengan baik bersamanya,"
"Baik Bu Nada, terimaksih. Saya akan menjadwalkan pertemuan anda dengan Pak Vino Pradikta nanti," jawab Sifa.
"Okey Sifa, terimakasih. Selamat bekerja, Asalamualaikum." Nada menutup ponselnya, memasukan benda pipih berteknologi canggih itu ke dalam tasnya.
Dengan memutar langkahnya ia kembali naik ke mobilnya dan menancap gas mobilnya menyusuri jalanan yang padat dengan kendaraan.
🎀🎀🎀
Mobil Merah metalix berhenti di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Supir yang mengendarai segera turun dan membuka pintu mobil dengan tergesa untuk penumpangnya.
Tak lama dari itu, tampak seseorang turun dari mobil itu dengan elegan. Dia berdiri sempurna dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya, netranya memandang ke arah gedung tinggi yang bertuliskan MRD Group, perusahaan yang bergerak dalam bidang fashion dan properti. Perusahaan besar yang memiliki beberapa cabang dan berpusat di kota itu. Perusahaan yang didirikan oleh kakeknya, akan tetapi berkembang pesat dalam kepemimpinan papa tercintanya yang kini telah tiada.
"Mari, silahkan masuk Tuan Muda Marvel," Dani dan beberapa orang menyambut Radit ke depan.
Radit membuka kaca matanya. Bola mata indah itu menyilaukan mata yang memandangnya. Sejenak netranya menangkap wajah gadis yang kini berada di samping Dani. Namun, segera ia mengalihkan pandangannya.
Ersa, seorang Sekertaris di MRD grup. Seorang gadis yang dulu adalah orang yang sempat dekat dengan Radit. Karna mereka adalah teman kuliah.
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan Marvel, selamat datang di MRD group," sapa Ersa dengan ramah.
🎀🎀🎀🎀🎀