Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 102


__ADS_3

Radit memejamkan matanya dan merasakan sesak yang mungkin sama sesaknya seperti apa yang Micel rasakan.


Entah dorongan dari mana, Radit keluar dari kamar utama. Ingin sekali dia mendekat ke arah dua wanita cantik itu. Seketika Radit melangkah keluar dari kamar utama, melewati anak tangga. Sebenarnya lewat jalur yang dilewati oleh Nada lebih dekat, namun rasa gengsi masih saja melekat di benaknya.


Langkah Radit terus maju hingga dirinya berpapasan dengan Mira yang entah dari mana, Mira berdiri tepat di depannya. Keduanya saling menatap dengan sorot mata yang sulit untuk dijelaskan.


Tanpa sapa, Radit melangkah kembali dan pada akhirnya Mira menghentikan langkah kaki Radit karna panggilannya.


"Marvel," panggilnya.


Radit menoleh ke arah Mira dan melangkah ke arah wanita paruh baya yang sesungguhnya sangat dia nantikan pelukan hangatnya itu. Dia menatap mata Mira yang menyimpan sejuta kerinduan yang sama, namun terhalang tembok yang berdiri kokok di hatinya.


"Marvel, kenapa baru keluar? Ada Zifana yang tadi menunggu," ucap Mira dengan tenang.


Aish, kenapa pertanyaan yang keluar dari mulut ibunya itu sangat tidak berfaidah dan sangat tidak penting untuk dijawab? Pantaskah pertanyaan itu dilontarkan pada seorang lelaki beristri? Benar-benar mencerminkan wanita yang sangat rendahan.


"Anda pikir penting? Aku tidak ada urusan dengan wanita itu," ketus Radit. Kakinya hampir melangkah kembali, namun Mira menarik tangannya dan membuat Radit menghentikan langkahnya.


Netranya menatap lengan tangannya yang dicekal oleh ibunya. Menepis dengan gerakan pelan sehingga wanita itu melepaskannya.


"Apa lagi yang ingin anda katakan? Aku tidak punya banyak waktu hamya untuk membahas hal yang tidak penting," ucap Radit santai.


"Zifana penting bagi Mama, sebaiknya segera hentikan pernikahan palsumu dan menikah sesungguhnya dengan Zifana," tegas Mira. Radit menghela napas panjang dan tersenyum tipis menatap ke arah Mira yang menatapnya dengan tajam.


"Penting bagimu? Tapi tidak untukku," sahut Radit kemudian mencoba kembali melangkah, meski harus kembali berhenti karna ucapan Mira.


"Jangan mempertaruhkan nama perusahaan hanya karna egomu yang setinggi langit itu Marvel. MRD group bukan perusahaan yang bisa dipandang sebelah mata, bukan orang rendahan yang bisa menjadi pendamping untukmu," ucap Mira dengan tegas.


Radit kembali menatap ke arah ibunya, tampaknya wanita ini tidak gentar menjodohkan dirinya dengan Zifana.


"Siapa pendampingku tidak penting untuk di bahas, MRD group tetap berjalan sebagaimana mestinya entah siapa pendampingku, Nyonya Mira. Jangan pernah ikut campur urusan pribadiku dari pada kau menyesal nantinya," ucap Radit lagi.


"Jangan mengancam mama, mama juga bisa melakukan banyak hal hanya untuk melihat wanita itu menyingkir dari hidupmu," tegas Mira. Radit memejamkan matanya, dia sangat teeusik ketika ketenangan Nada terancam.


"Zifana kandidat terbaik, kita akan melalui masa kejayaan jika keluarga kita menyatu," ucap Mira lagi.


"Aku pastikan akan hancur siapapun yang mencoba mengusik ketenanganku. Nada Aira, wanita itu akan tetap berdiri tegak di sampingku. Dengan, atau tanpa restumu, Nyonya Mira." Radit menekankan ucapannya dan melangkah pergi. Mendengar ucapan Mira benar-benar membuat emosinya memuncak.

__ADS_1


Mira mengepalkan tangannya, Nada? Nama wanita itu begitu mengusik hatinya.


"Seistimewa apa wanita itu?"


😘😘😘😘


Nada dan Micel kembali merangkai bunga. Micel jauh lebih tenang saat sudah mendapat pelukan hangat dari Nada. Wajahnya yang semula sendu kini sudah tampak berbinar, meskipun wajahnya masih menyisakan sembab.


"Kak," Micel menatap ke arah Nada yang kini menatapnya.


"Ada apa?" tanya Nada antusias.


"Kak, kalau aku merasa bahagia saat melihat seseorang. Terus aku suka sekali bertemu dengannya meski dia cuek, itu apa karna aku jatuh cinta?" Micel menatap Nada dengan senyuman indah yang membuat lesung pipinya tampak. Nada terkekeh dan menatap ke arah Micel.


"Cie lagi jatuh cinta ya?" goda Nada.


"Sepertinya seperti itu, tapi sepertinya dia sudah sangat dewasa. Mungkin saja seumuran Kak Marvel," ucap Micel sambil membayangkan wajah tampan yang selalu mengganggu pikirannya.


"Tidak masalah dong, memang ada larangan untuk jatuh cinta pada orang yang usianya jauh berbeda? Kan enggak," ucap Nada sehingga membuat seulas senyum di pipi Micel.


"Ya enggak dong kak, dia pandai dan sangat dewasa. Bisa aja kan aku dibantuin dan mempunyai ip yang memuaskan kalau jadian sama dia, lagian mana mau dia sama gadis berkemampuan biasa aja. Senggaknya aku harus pandai jika harus bersanding dengannya," ucap Micel sambil tersenyum. Wajah tampan Vino berputar di otaknya. Membuat semangat tersendiri untuknya.


Nada terkekeh kecil dan mengusap pelan puncak kepala Micel yang menggemaskan itu.


"Bagus dong kalau dengan mengenal dia kamu jadi rajin belajar," ucap Nada.


Micel tersenyum bayangan memori otaknya memikirkan kejadian tempo hari di gedung gashion mode.


Flashback.


"Kak, luangkan waktu untukku. Aku akan datang ke kantor kakak untuk mengajak kakak lunch," teriak Micel dan membuat semua mata mengarahkan pandangan ke pada Vino.


Vino memejamkan matanya dan berjalan kembali menuju ke arah Micel kemudian menarik tangan gadis kecil itu untuk mengikuti langkahnya.


"Aduh kak, sakit," Micel menatap Vino yang geram karna ulahnya dengan wajah yang memerah menahan sakit. Seketika Vino menghempas tangan Micel saat menyadari cekalan tangannya menyakiti gadis itu. Micel memegangi lengan tangannya yang sedikit memerah.


"Kenapa suka sekali menggangguku? Bukankah kita tidak ada urusan? Aku tidak ada waktu untuk meladenimu, jangan membuatku malu," sentaknya.

__ADS_1


Vino menatap tajam ke arah gadis cantik itu. Micel merasakan takut, tegang dan jantung yang berdetak tak beraturan secara bersamaan.


"Sekali lagi menggangguku, aku tak akan segan-segan melaporkan tindakanmu ke pihak berwajib karna telah mengganggu kenyamanan orang lain." Vino menatap ke arah Micel dengan sorot mata tajammya.


Vino memutar tubuhnya untuk pergi, berasamaan dengan Micel yang akan melangkah. Tangan kekar Vino yang mencoba mempercepat jalannya menyenggol Micel.


Micel yang tidak mempunyai keseimbangan yang kokoh memejamkan matanya. Dia takut Akan terjatuh, tapi seseorang menahan dirinya.


Vino memandang wajah cantik di depannya, wajah seseorang dihadapannya yang memejamkan mata. Sejenak Vino terpesona, senyum tipis menghiasi bibirnya. Wajah itu begitu cantik, imut dan sanggup mendebarkan hatinya.


Micel yang merasa menggantung diudara segera membuka matanya. Keduanya saling berpandangan, mata itu membuat Micel berbinar, wajah tampan itu membuat dirinya terpesona untuk yang sekian kalinya.


Seketika Micel berdiri dan merapikan pakaiannya . Micel dan Vino saling memandang.


"Maaf Kak," ucap Micel.


Vino? Dia memandang wajah cantik dengan make up natural itu. Wajah cantik tetapi memuakan di matanya.


"Pergilah, waktuku banyak tersita hanya karna meladenimu," ucap Vino dan melenggang pergi.


Flashback off.


"Micel," Nada mengguncang pundak Micel yang sejak tadi mengabaikannya dan malah tersenyum-senyum sendiri itu. Micel terkejut dan menatap ke arah Nada.


"Maaf Kak, aku melamun," ucapnya sambil tersenyum.


"Sepertinya kamu butuh refresing deh," ucap Nada agak kesal. Micel hanya tersenyum memandang Nada.


"Bersiaplah, kita pergi bersama,"


Suara itu membuat Nada dan Micel mendongak. Dilihatnya Radit dengan celana pendek selutut dan kaos oblong berwarna putih tampak memandang mereka. Micel dan Nada tampak bengong.


"Mau atau tidak? Jangan menyita waktuku," sentaknya kemudian melangkah pergi lagi.


Nada dan Micel tampak saling memandang. Tak percaya? Jelas, apa kakaknya kesambet? pikir Micel.


😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2