
Nada memejamkan matanya, sudah pasti adik iparnya salah paham.
"Aku tidak mengganggukan, Kak?" tanya Micel lagi. Nada menggeleng dan maju ke arah Micel.
"Tidak, kamu tidak mengganggu. Jangan berpikir yang tidak tidak, kakak hanya membersihkan luka di pundak kakakmu. Masuklah, kakak akan ke bawah menemui Kak Sifa," ucap Nada sambil tersenyum ke arah Micel.
"Tapi Dear, kita belum selesai." berontak Radit, Nada menutup telinganya dan mengabaikan ucapan Radit. Nada berjalan ke bawah dan ingin bertemu dengan pemilik Zif Bontique.
🎀🎀🎀
Micel dan Radit saling memandang kemudian Radit menghela napas panjang.
"Tunggulah, kakak ambil baju dulu," Radit mempersilahkan Micel duduk di ruang tamu.
Micel melangkahkan kakinya dan duduk ke arah sofa panjang, Micel mematap ke bawah. Dari bangunan lantai lima itu dia bisa melihat jelas wajah Vino yang saat ini masuk ke dalam mobil dan menancap gas mobilnya meniggalkan Sheyna bontique.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Radit yang baru saja keluar dari kamar sambil mengancingkan lengan bajunya. Radit duduk di depan Micel dan menatap adiknya itu dengan tenang.
"Micel Adela Dika, coba katakan." Radit menatap kembali ke arah Micel yang saat ini memejamkan mata indahnya. Micel memegang ponselnya, berita tentang kakaknya bahkan tentang dirinya sudah menjadi trending topik di dunia maya.
Micel tidak bisa memutuskan sendiri apa yang menjadi pertanyaan Vino itu, bahkan dia lupa tentang perasaanya. Yang dia ingat, bahwa Vino adalah orang yang selalu ada dalam otaknya.
"Kak, tolong beri aku satu alasan untuk menerima atau menolak pernikahan dengan Kak Vino." Micel membuka matanya, memang di hatinya seakan menyetujui. Tapi, masih ada keraguan yang menyelimuti pikirannya.
Radit menghela napas panjang, bukankah untuk menikah masih terlalu dini untuk Micel? Bahkan yang Radit tau, Vino sempat mencintai Nada. Lalu, bisakah dia percaya dengan mudah pada Vino untuk menyerahkan tanggung jawabnya untuk menjaga Micel? Dia mencintai Micel, atau hanya melampiaskan segala rasa kecewanya pada Micel?
"Kakak akan memikirkanya nanti," ucap Radit. Micel menghela napas panjang.
"Malam ini Kak Vino akan ke rumah, aku ikut apa kata Kakak. Keputusan apapun yang kakak ambil, itu adalah keputusan yang aku lakukan," ucap Micel sambil tersenyum.
Radit mengusap pelan pundak Micel dan meraih adiknya dalam peluk hangatnya.
__ADS_1
"Kakak akan memikirkannya Nanti, sebaiknya kamu pulang. Istirahatlah, ada pak sopir di bawah sana, biar Kak Nada pulang bersama kakak nanti," ucap Radit.
"Baik, aku pulanh Kak, terimaksih karna kakak mau memikirkannya untukku," ucap Micel sambil melepas pelukan kakaknya. Radit mengacak rambut Micel dan tersenyum.
"Kau adikku, bahagiamu adalah impian kakak," ucap Radit.
"Aku pulang Kak, asalamualaikum," ucap Micel kemudian melangkah dan diangguki oleh Radit.
Radit menatap punggung Micel yang menjauh darinya, Radit meraih ponselnya. Berita di dunia maya membuatnya bahagia.
Kini tangannya memencet satu nomer dan terdengar jawaban dari sebrang.
"Bagaimana? Kau mampu mengalihkan semua kliennya?" tanya Radit sambil menampakan wajah datarnya.
"Aku bisa diandalakan Tuan Marvel Raditia Dika," sahutnya.
"Bagus, kau memang terbaik Delon. Terimakasih karna kau sudah banyak membantuku, aku tidak bisa membiarkan siapapun menyakiti istriku dan keluargaku." lirihnya.
"Apa yang kau minta dariku?" tanya Radit.
"Doakan aku segera menyusulmu menikah," jawab Delon dan membuat Radit terkekeh
"Kau, kau juga menginginkan menikah lagi? Bukankah kau playboy? Pastinya banyak wanita yang mau denganmu De," ucap Radit.
"Aku masih belum bisa memastikanya Dit," sahutnya.
"Okey, semoga apa yang menjadi keinginanmu cepat terlaksana," ucap Radit sambil tertawa.
"Hem, aku punya banyak wanita. Tapi aku masih ragu membawanya pada mama," ucap Delon di sebrang.
"Kenapa? Bukankah Tante Amel tak banyak memilih?" tanya Radit.
__ADS_1
"Tapi Mama sulit untuk mengenal baik wanitaku karna traumanya dulu," ucap Delon terdengar Lirih.
"Semoga semua lekas membaik De," ucap Radit lagi.
"Aku juga berharap seperti itu," ucapnya kemudian menutup ponselnya.
Radit menghela napas panjang setelah menutup ponselnya. Setelah dirinya berhasil mengambil lima puluh persen investor dari SNT group, saat ini Delon juga berhasil mengalihkan limapuluh persenya lagi ke perusahaannya. Dipastikan SNT grup mengalami krisis keuangan karna investornya beralih. Kepuasan tersendiri bagi Radit karna ini.
"Kalian patut merasakan hukuman ini," ucap Radit sinis.
🎀🎀🎀🎀🎀
"****. Kenapa bisa begini?" bentak Tuan Sinatria yang tampak emosi, sambil melemparkan beberapa berkas pada Gino yang saat ini sedang memijat pelipisnya.
"Aku juga tidak tau, Pa. Perusahaan ini sangat meresahkan. Namun aku tidak bisa mengakses identitas mereka," ucap Gino lagi sambil mengotak atik komputernya.
Tuan Sinatria memijat pelipisnya, menerka sebuah kesimpulan. Namun, orang suruhanya bilang tak ada pergerakan apapun dari MRD group. Bahkan Radit sibuk dengan istrinya.
"Sebaiknya kau mencari suntikan dana pengganti sebelum semuanya terlambat. Aku tidak mau tau, lakukan apapun untuk kembali menstabilkan keuangan perusahaan," ucap Tuan Sinatria lagi.
"Kita tunggu kabar dari Zifana Pa, semoga Zifana bisa membantu," ucap Gino.
"Uang Zifana tidak apa-apanya, kecuali Dia mampu menggait pengusaha kaya Raya," ucap Tuan Sinatria.
Gino tampak membelalak sempurna, akan tetapi sebuah senyum tipis terukir di benaknya.
"Bagaimana bila kita meminta bantuan MR Lee, Bukankah Papa tau, dia sangat kaya dan pecinta wanita. Jika kita meminta bantuan padanya dan menyerahkan Zifana untuk menikah dengannya, aku rasa dia mau membantu kita," ucap Gino.
Tuan Sinatria memejamkan matanya, bukankah itu sama saja menjual Zifana?
🎀🎀🎀🎀🎀
__ADS_1