Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Rumah sakit


__ADS_3

Mama Elina yang hawatir dengan keadaan Vino segera membawa Vino ke rumah sakit. Dokter pribadi mereka ada perjalanan Dinas sehingga untuk beberapa hari tidak bisa menangani.


Kini keadaan Vino telah membaik setelah mendapatkan perawatan intensif. Mama Elina menatap Vino dengan bahagia.


"Mama ke depan dulu," ucap Mamanya sambil tersenyum.


Vino mengangguk pelan. Vino menerawang jauh. Bagaimana keadaan Micel? Bagaimana keadaan istrinya itu? Dengan siapa Dia? Apa sudah makan?


Vino mengusap kasar wajahnya, dadanya terasa sesak. Bayangan wajah Micel menari di otaknya. Astaga, selalu saja rasa bersalah menyeruak di dalam dadanya. Rasa bersalah pada Wanita cantik yang berstatus menjadi istrinya itu.


"Micel, kembalilah." lirih Vino. Vino mencabut selang invus. Rumah sakit ini adalah sebuah tempat dimana Asila dirawat. Vino ingin menemui wanita itu untuk mengakhiri semua. Penjelasan di telpon kemarin baginya belum selesai karna sampai saat ini Asila masih berusaha untuk menghubunginya.


Vino keluar dari kamarnya, kebetulan kamar yang dia tempati tidak jauh dari kamar Asila. Vino akan membuka pintu. Akan tetapi percakapan di dalam membuat Vino tercengang dan mengepalkan tangannya.


"Jadi kalian belum juga menemukan wanita itu? Belum juga menghabisi wanita itu? Mau sampai kapan? Aku tidak mau tau, cari Micela Adelia Dika, habisi dia dan lenyapkan jasadnya," ucap Asila kemudian menutup panggilan teleponnya.


Deh


Dada Vino seakan tertusuk benda yang tajam. Asila sejahat itu? Bukannya Asila wanita baik baik dan lemah lembut? Vino mundur beberapa langkah. Dilihatnya beberapa orang berseragam hitam di ujung sana berjalan ke arah ruang kamar Asila.


"Malam Nona Asila," ucap salah satu dari mereka dan tidak ada jawaban dari Asila.


"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?" tanya Orang itu. Asila menatap ke tiga anak buahnya dengan sorot mata yang tajam.


"Kalian harus memastikan bahwa Vino tidak tau bahwa kalian bekerja di bawah kendaliku, bantu teman kalian yang lain untuk menghabisi wanita itu. Satu lagi, jangan sampai semua menyisakan jejak. Aku tidak mau anggota geng Aster lainya mengetahui ini semua dan pada akhirnya membuat kekacauan pada setiap misi yang kita buat," ucap Asila.


"Baik Nona, kami harus berangkat sekarang juga." ucap mereka serempak.


Vino menggelengkan kepalanya, mereka adalah anggota geng Cobra. Jadi Asila bekerja sama? Bahkan Asila yang memegang kendali? Jadi selama ini Asila yang menerornya? Asila yang melakukan semua ini? Bagaimana bisa Asila sesadis itu? Apa maksud dari semua ini? Vino mengepalkan tangannya. Badannya yang sakit seakan tak merasakan sakit lagi.


Geng Aster? Apa Micel yang dimaksud? Jadi Micela bisa bela diri dan menguasai banyak ilmu bela diri karna Micel anggota geng Aster? Geng Aster yang dipimpin sosok misterius dan seorang gadis kecil. Apa gadis kecil itu adalah Micel? Vino menghela napas panjang. bagaimana Bisa? Apa Radit mengetahui semua ini? Bagaimana Bisa Micel mengikuti pelatihan geng yang berbahaya itu? Jantung Vino berdetak tak beraturan. Micel hilang ingatan, pastinya dia tak tau apapun. Vino mengepalkan tangannya. Ingin rasanya menghabisi Asila saat ini juga. Akan tetapi, Nyawa Micel lebih berharga.


Vino berlari keluar dan menuju ke ruangannya. Vino mengganti pakaiannya. Yang ingin dia lakukan saat ini adalah menyelamatkan Micel dari bahaya.


Vino mengambil ponselnya dan menelpon Willy asisten pribadinya.


"Halo Tuan Vino," sapa Willy dengan tenang.


"Siapkan mobil untukku, kita cari Micel lagi di puncak. Micel dalam bahaya dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi," ucap Vino dengan tegas.


"Aku sudah menemukan keberadaan Nona Micel. Rendi juga sudah mengetahui, bukankah Anda sedang sakit Tuan? Biarkan kami yang menjaga Nona Muda dari jarak jauh," ucap Willy.


"Jangan mengaturku, Micel istriku. Keselamatannya adalah tanggung jawabku," Vino menatap ke depan dengan sorot mata yang tajam. Tak ada yang mampu untuk menghalangi jalannya.


Vino melepaskan baju pasienya dan mengganti dengan kaos oblong pendek dan celana Jins. Dipakainya jaket hitam dan topi hitam. Vino keluar dari ruangan dan tak sengaja menabrak mamanya.

__ADS_1


Vino berlari, Mama Elina yang mengenali bahwa itu adalah Vino mengejarnya. Akan tetapi Mama Elina justru menabrak seseorang yang membawa sepasang anak kembar.


Mama Elina terkejut dan menatap ke arah lelaki itu.


"Nicho," ucap Mama Elina.


"Tante, ada apa?" tanya Nicho sambil mengamati wajah Mama Elina yang tampak panik.


"Nicho, tolong! Vino sedang sakit. Tapi tidak tau kenapa dia kabur dari sini. Tolong tante, kejar dia dan awasi dia," ucap Mama Elina.


Nicho menghela napas panjang, menatap ke arah dua ponakannya yang tadi meminta es krim.


"Tante, Nicho akan membantu Vino. Bisa tante membawa keponakan saya pada kedua orang tuanya yang berada di kamar mawar nomor lima?" tanya Nicho pada Mama Elina. Mama Elina mengangguk. Nicho menurunkan keponakannya dan mengejar langkah Vino.


Mama Elina berjongkok menatap sepasang anak kembar yang ada di depannya. Mama Elina mengerjakan mata beberapa kali. Anak Kembar di hadapannya mengingatkan dirinya dengan Rezhidan Alvino Pradikta dan Rezhian Alvina Pradikta. Sepasang anak kembar yang lahir dari rahimnya dan beberapa tahun yang lalu, Vina menjadi korban penculikan yang entah tak ada kabarnya.


Sudut air mata Mama Elina mengeluarkan air mata. Mereka mirip sekali dengan masa kecil anak anaknya.


"Oma, kenapa oma menangis?" suara itu membuat Mama Elina mengusap air mata dan mengulurkan tangannya ke arah sepasang anak kembar itu.


"Hai sayang, oma tidak Papa. Ayo kita ke kamar rawat Mama atau Papa kamu, oma akan mengantarkan kalian," ucap Mama Elina.


"Oma mau antar kami?" tanya gadis kecil itu dan diangguki oleh Mama Elina.


Mama Elina semakin terisak.


"Mama mau antar Vina dan Vino? Mama boleh antar kami, tapi mama tidak boleh menangis," ucapan Vina saat itu mengiang di otaknya. Ucapan Vina saat alergi mereka kambuh bersamaan dan harus di rawat bersama pula.


Mama Elina menghapus air matanya, kedua anak kembar itu membuat dirinya penasaran. Siapa sebenarnya mereka? Siapa orang tua mereka? Kenapa mereka seakan dekat sekali dengannya? Kenapa batin mama Elina mengatakan bahwa mereka mempunyai ikatan darah?


"Ayo kita ke sana, Oma akan mengantar kalian. Oma juga akan menghapus air mata oma," ucap Mama Elina. Kedua bocah kecil itu mengangguk pelan dan menatap ke arah Mama Elina.


"Ets, siapa nama kalian? Boleh oma tau?" tanya Mama Elina sambil menatap sorot mata anak kecil itu yang mirip sekali dengan Vino dan juga Vina.


"Nama aku Alda, dan Aku Aldi Oma," ucap mereka bergantian. Mama Elina memejamkan matanya.


"Alda, Aldi, Alvino dan Alvina? Kenapa aku yakin sekali ini ada hubungannya?" batin mama Elina semakin tak sabar ingin bertemu dengan kakak dari Nicho.


"Kita kesana sekarang ya Nak," ucap Mama Elina dan diangguki oleh Alda dan juga Aldi. Mama Elina ada di tengah, Menggandeng Alda dan Aldi, hingga pada akhirnya mereka sampai di ruangan Mawar nomer lima.


Mama Elina merasakan detak jantung yang tak beraturan. Dadanya merasakan sesak sekali.


"Oma, kenapa berhenti? Ayo masuk, kamalnya tidak dikunci. Papa dan mama ada di dalam," ucap Alda sambil tersenyum.


Mama Elina tersenyum dan mengangguk. Dengan pelan dia mendorong pintu. Netranya langsung menatap ke arah di mana seorang wanita cantik terbaring lemah. Mama Elina menatap ke arah wajah cantik yang sama persis seperti dirinya waktu muda dulu.

__ADS_1


"Mama, kami datang bersama Oma," kedua anak kembar itu berhamburan ke arah papa dan Mamanya.


Sedangkan Mama Elina masih berdiri mematung mengamati wanita cantik itu. Sangat mirip sekali. Ya Tuhan? Apa ini putrinya? Putrinya yang menghilang saat umur sembilan tahun?


"Vina," ucap Mama Elina.


Deg


Davina yang memeluk anaknya mengangkat wajahnya dan menatap ke arah wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu. Siapa wanita itu? Bagaimana bisa dia tau namanya?


Mama Elina menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Vina? Apa benar itu anaknya? Mama Elina maju beberapa langkah. Jika memang itu anaknya, Davina mempunyai tanda lahir di kaki bagian kiri. Tepat di bawah telapak kaki.


"Vina?" tanya Mama Elina lagi. Davina mengangguk. Dia bingung, seperti mengenal wanita di depannya dan ingin memeluknya. Siapa dia?


Davina dirawat di rumah sakit karna mengalami sesak napas, demam dan juga merah merah seperti alergi. Davina tak makan apapun, sehingga Kata dokter diagnosa terkena alergi. Lagi, bogem mentah yang di dapat dari teman Nicho membuat pipinya bengkak sehingga juga memerlukan perawatan.


"Tante siapa?" tanya Davina sambil tersenyum.


Mama Elina menatap ke arah wanita cantik yang mempunyai luka lebam di pipinya itu.


"Apa kamu punya tanda lahir di telapak kaki sebelah kiri?" tanya Mama Elina.


Deg


Davina memejamkan mata indahnya, pertanyaan itu benar adanya. Lalu siapa wanita di depannya? Vito yang melihat percakapan itu hanya terdiam. Vito menghela napas panjang. Apa wanita itu ibu kandung Davina? Mertuanya?


"Apa kamu beekenan menjawab Nak?" tanya Mama Elina.


Davina menyibak selimutnya dan memperlihatkan kaki sebelah kiri miliknya. Mama Elina terkejut saat melihat apa yang dia pertanyakan. Mama Elina memeluk erat Davina dengan deraian air mata.


"Rezhian Alvina pradikta, putriku," ucapnya lirih.


Deg


Jantung Davina bergetar hebat, nama itu seperti tidak asing baginya. Apa benar nama itu namanya?


Vito memejamkan matanya. Rhezian Alvina Pradikta? Apa artinya Vina adalah kembaran dari Vino? Apa ini kebenaran identitas istrinya?


"Kamu putriku, putri mama. Kembaran dari Alvino," ucap Mama Elina bahagia.


Davina memejamkan matanya, Alvino? Bukankah itu teman Nicho yang memberikan bogem mentah padanya kemarin? Apa artinya Micel adik iparnya? Davina memegang dadanya yang terasa sesak. Mama Elina terkejut dan membiarkan Davina untuk berbaring.


"Sayang, mungkin ini terlalu mendadak. Tapi Mama Yakin, Allah SWT mempertemukan kita dengan jalan ini, istirahatlah," lirih mama Elina dan tersenyum menatap ke arah Davina yang masih belum bisa mengatakan apapun karena terkejut.


❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2