Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 65


__ADS_3

Dani hanya terdiam mengamati bibir manusia cantik yang kini mengomel ria di depannya tanpa mendengar ucapannya. Imajinasi liarnya menatap wanita cantik berhijab ini seperti Ayana jihye moon.


"Hai, apa kau tidak mendengarku?" Sifa yang sedang emosi memukul lengan Dani dan berhasil membuat lelaki tampan itu kembali dalam kesadaran. Ditatapnya Sifa yang menghela napas panjang dan tampak emosi kepadanya.


"Siapa anda Tuan? Mengapa membuat keributan disini?" tanyanya sinis. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis.


"Jangan ganggu aktifitas saya Nona, saya sudah mendapat izin dari Nona Nada," ucapnya dengan santai.


Sifa terkejut mendengar nama Nada disebut pria itu, apakah artinya Nada telah menyetujui ini semua? Entahlah, percuma juga berdebat jika pada akhirnya dia harus mengalah. Sifa melangkah pergi namun lelaki itu mencegahnya.


"Kau diam saja disini, Nona. Jika kau berani melangkah selangkah saja, saya pastikan hidup anda tidak bisa tenang untuk kedepannya," ucap Dani. Sifa terdiam. Dia memutar langkahnya menuju ke arah Dani dan menatap tampang menyebalkan lelaki itu.


"Memangnya pekerjaanku hanya meladeni orang sepertimu saja? Tidak ada waktu untuk itu," ucap Sifa kemudian melangkah pergi. Dani tersenyum tipis, wanita itu benar-benar membuat dirinya tertantang untuk mendekatinya.


Dani yang semula bersandar di dinding dan mengamati wanita itu, kini berjalan dan mengikuti langkah Sifa menuju ke ruang kerjanya.


Sifa yang merasa diikuti kini membalikan badannya tepat saat Dani masih melangkah sehingga tubuh mereka bertabrakan. Dani terkejut, begitu juga dengan Sifa. Keduanya saling berpandangan. Keduanya merasakan geleyar aneh melintas diantara keduanya.

__ADS_1


Sifa mundur beberapa langkah dan mencoba menatap Dani dengan tenang.


"Kenapa mengikutiku?" tanya Sifa tampak sebal.


"Aku bebas melakukan apa yang aku mau," ucap Dani.


"Kau siapa? Kau bukan siapa-siapa, minggirlah!" sentak Sifa. Dani tersenyum tipis dan menatap lekat wajah cantik yang sama cantiknya dengan Nada itu.


"Ikut aku sekarang juga," ucap Dani sambil menarik tangan Sifa. Sida mencoba melepaskan tangan Dani yang memaksanya sambil berjalan.


"Diam, atau mau aku melemparmu ke tengah jalan?" ucap Dani. Sifa yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun menarik tangannya dengan paksa. Sifa melayangkan satu tamparan keras di wajah Dani.


"Kau,"


"Apa? Kau tersinggung? Itu harga yang pantas dibayar oleh orang yang menjengkelkan sepertimu, pergi dari sini sekarang juga!" ucap Sifa tegas kemudian melenggang pergi. Dani mengusap pipi merahnya sambil mengamati punggung wanita yang kini mulai menghilang dari pandangannya.


"I Like it," lirihnya sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


😘😘😘😘😘


Laju mobil Radit begitu cepat, beberapa kali dirinya menerjang lampu lalu lintas, bayangan wajah Nada yang menangis dan mengatakan dia mencinta orang lain begitu jelas diingatannya. Bayangan ucapan Rafa yang mengajak istrinya makan malam tadi juga terekam jelas di otakknya.


Radit menghentikan mobilnya di sebuah bar, Radit berjalan menyusuri lorong dan berhenti di salah satu meja yang menyiapkan minuman beralkohol.


Berjam-jam dia menikmati hangat tubuhnya bersama dengan beberapa wanita di bar, namun berbeda untuk kali ini. Kali ini imajinasi liar dengan Amara tak lagi dalam otaknya. Bahkan untuk sekedar mencumbu wanita yang kini ada disampingnya juga tak ada selera.


"Nada," lirihnya.


Deg, Radit teeperanjak kaget dan segera berdiri, waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi. Nada, wanita yang dikuncinya di dalam kamar itu belum makan sama sekali sejak sore. Bagaimana keadaan wanita cantik itu di dalam kamarnya? Radit segera berdiri, Radit mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa keberadaan Nada membuatnya begitu tak berdaya?


Ya, statusnya adalah istriku, sampai beberapa waktu yang aku mau. Nenek bisa meminta apapun makanan yang nenek suka darinya


Radit ingat ucapannya tadi malam, Radit hanya ingin Nada terhindar dari kejahatan Mira. Semakin Radit menunjukan kedekatannya bersama Nada, semakin pula wanita itu menyakiti Nada. Sebab Mira tak akan tinggal diam.


"****," umpat Radit kemudian melangkah pergi.

__ADS_1


😚😚😚😚😚


__ADS_2