Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 76


__ADS_3

Deg, Jantung Radit seakan sesak seketika. Haruskah dia meninggalkan Nada? Netranya mengamati wajah cantik yang kini berada dalam rengkuhannya.


"Dear," Radit mengusap pelan puncak kepala berkerudung milik Nada.


Nada mengarahkan pandangannya kearah Radit. Nada merasakan kebahagiaan bersama dengan Radit, merasakan deguban jantung yang begitu cepat, merasakan debaran rasa yang mengusik.


"Aku..." Radit tampak menahan ucapannya. Entah bagaimana dia merasa sesak harus meninggalkan istri cantiknya.


"Apa?" Nada mendongak dan menatap wajah tampan suaminya.


"Aku harus pergi malam ini," Radit mengucap dengan tenang, mencoba menutupi gejolak rasa yang sebenarnya tak sanggup untuk di sembunyikan, tetapi masih harus membutuhkan kepastian.


Nada sontak melepas pelukan hangat yang membelit tubuh Radit, di tatapnya mata Radit yang memandangnya dengan teduh. Kenapa dirinya tampak tak rela?


"Malam ini?" tanya Nada dan diangguki oleh Radit. Nada merasakan sesak yang menghujam hatinya, antara pasti dan tidak pasti tentang sebuah perasaan yang menyelinap dalam benaknya. Yang jelas dia seakan tak mampu berpisah dari makhluk yang kini berada di depan matanya.


"Berapa lama?" tanyanya.


"Satu minggu, itu waktu yang paling cepat," ucap Radit.


"Boleh aku ikut?" Nada meminta. Radit mengusap pelan wajah cantik yang kini tampak memerah. Banyak pertimbangan yang harus dia pikirkan. Keberadaan Nada di sini lebih aman dari pada bersama dengannya.


"Aku pergi untuk kembali, tetaplah berada dalam posisimu. Mungkin bila nanti aku tidak di dekatmu, aku akan tau suatu hal," ucap Radit.


Nada tersentak, rasa ngilu menyeruak dihatinya karna ucapan Radit. Nada merasakan sesak, bahkan hanya sebuah kemungkinan membuatnya merasakan sakit. Nada memandang wajah Radit, mengusap wajah tampan itu dengan tangan kanannya.

__ADS_1


"Kamu yakin mau meninggalkanku?" tanyanya. Matanya berkaca, Radit menghela nafas panjang kembali.


Radit mengarahkan pandangan mata Nada kearahnya. Mengusap air mata yang menetes di pipi istrinya. Tanpa Nada mengungkapkan pun sebenarnya dia tau Nada menyimpan kesedihan, sama seperti yang dia rasakan. Bahkan, sebuah perasaan tak rela mampu meyakinkan hatinya bahwa Nada adalah manusia yang mampu merebut hatinya.


"Dear, jangan bersedih..."


Belum selesai Radit mengatakan sesuatu, perkataanya harus terhenti karna dering ponsel miliknya. Radit tampak menganggukan kepalanya kemudian mengembalikan ponsel ke dalam sakunya.


"Aku harus pergi, jangan menangis lagi. Sebentar lagi orang rumah akan menjemputmu," ucap Radit kemudian memeluk erat tubuh Nada. Radit memberikan kecupan hangat di puncak kepala Nada sehingga membuat tubuh Nada seakan lemah tak berdaya.


"Aku akan kembali untukmu," ucap Radit kemudian berjalan ke arah mobil dan menancapkan gas mobilnya.


Nada mematung di tempatnya, memandang mobil yang kian menjauh dari pandangan matanya. Nada memejamkan matanya. menepis semua rasa sesak yang menyeruak di hatinya.


"Ini menyakitkan.Tapi aku akan baik-baik saja sampai kamu kembali lagi dengan membawa sejuta cinta untukku," ucapnya. Nada melangkah ke arah mobil yang kini tampak berhenti di depannya.


Nada mengangguk dan tersenyum, dia masuk ke dalam mobil itu dengan perasaan yang campur aduk. Bagaimana bisa dia harus tinggal di rumah Radit tanpa keberadaan Radit di sana?


Mobil membelah jalanan, hingga beberapa menit kemudian, dia sudah berada di area pelataran mansion mewah keluarga Handika.


Nada melangkah masuk, dengan pelan dirinya berjalan. Suasana rumah tampak sepi, namun dirinya disambut dengan beberapa pelayan yang kini berada di samping pintu masuk.


"Selamat malam Nona Muda," sambut beberapa pelayan dengan sopan.


"Malam," Nada tersenyum kemudian berjalan menapaki anak tangga menuju ke arah kamarnya.

__ADS_1


"Selamat Malam, Nona Muda. Menantu sementaraku,"


Deg.


Nada yang mendengar ucapan itu tampak menghentikan langkah. Meskipun sakit dia rasakan, kini Nada memutar langkah dan menatap ke arah ibu mertuanya. Nada berjalan dan menghampiri ibu mertuanya yang tengah membaca koran harian di sudut ruangan.


"Selamat Malam, Ma," Nada mengulurkan tangannya hendak menyalami. Namun, wanita paruh baya itu mengabaikannya.


Nira berdiri dan menatap ke arah Nada yang memang sangat cantik dengan balutan kostum mahal yang membelit tubuhnya.


"Sepertinya kau senang dengan peran yang sangat menjijikkan, istri bayaran. Sebutkan, berapa yang kau mau untuk bisa meninggalkan Marvel nantinya?" tanya Mira. Nada menghela napas panjang dan menatap ke arah mertuanya dengan senyuman yang indah.


"Maaf, tapi saya bukan wanita seperti itu," ucap Nada.


"Jangan menjelaskan apapun, aku tau permainan licik wanita murahan sepertimu, Pergi dan tinggalkan Radit," ucap Mira sambil memandang Nada dengan sorot mata tajamnya.


"Apa benar begitu Ma?" tanya Nada. Mira tampak tak suka dengan keberanian Nada.


"Saya akan pergi, jika Mas Marvel sendiri yang memintaku, permisi dan selamat malam mama mertua," ucap Nada kemudian melangkah pergi.


Mira tampak mengepalkan tangannya. Nada? Wanita itu ternyata mempunyai nyali diluar pemikirannya.


Nada membuka pintu kamarnya, menyandarkan dirinya di pintu. Air mata mengalir deras. Perasaan macam apa ini?


Nada menatap bingkai foto pernikahan di atas nakas, diangkatnya foto pernikahan dirinya dengan Radit. Nada mengusap pelan wajah tampan suaminya.

__ADS_1


"Segeralah kembali," ucap Nada dalam ucapan lirihnya.


😍😍😍😍😍😍


__ADS_2