Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 49.


__ADS_3

Nada merasa puas, melihat gelagat Radit yang merespon panggilannya. Tapi justru Radit merasa geram karna tingkah Nada.


"Sebaiknya kita shalat dulu, setelah itu kita makan malam," ucap Nada kemudian melangkah pergi. Radit mengikuti langkah Nada. Keduanya sampai di kamar Nada yang begitu Rapi.


Nada menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, sedangkan Radit mengamati setiap sudut kamar Nada yang begitu nyaman. Radit mengamati satu foto yang terbingkai cantik di atas meja rias. Sepasang suami istri dan kedua putra-putrinya. Foto ayah mertua, kakak ipar, Nada dan yang jelas wanita cantik berhijab yang berada di samping Nada adalah ibu Nada.


Ya, pantas saja Nada begitu cantik, itu semua karena ibu Nada juga sama cantiknya seperti Nada. Nada cantik? Aishh, apa benar begitu? Mendapat pertanyaan dari kepalanya sendiri membuat dirinya tersenyum kecut.


"Kamu mau ambil wudhu dulu?" Nada yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap ke arah Radit yang masih menatap ke arah poto.


"Segeralah shalat, jangan banyak bicara. Waktuku tidak banyak hanya untuk berpura-pura baik denganmu," ucap Radit dengan sorot mata tajam.


Nada terdiam, memaksa orang untuk shalat sepertinya tidak di benarkan. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah mendoakan, semoga suaminya dibukakan pintu hidayah nantinya. Amin.


Nada melangkah menjauh dari Radit dan menuju ke tempat ibadah.


Lima belas menit berlalu, Nada keluar dari kamar shalat. Wajah nya terlihat segar, ia tersenyum saat melihat Radit duduk di pinggiran ranjang sambil mengamati ponselnya.


Nada juga mengambil ponselnya yang tampak mendapatkan pesan masuk dari ayah dan Sifa.


Sayang, katamu mau mengantar makanan ke apartemen kakak? Tidak usah, kakakmu kembali dinas. Sedangkan ayah menghadiri pesta. Kita makan bersama lain waktu saja ya. Habiskan malammu bersama suamimu. Ayah.


Nada, aku tidak bisa menghampiri. Kita bertemu di sana ya. Sifa.


Nada menghela napas panjang dan menatap jam yang menunjukkan pukul 18.30. Nada berjalan ke arah cermin dan memoles wajahnya dengan tenang.


"Apa kau berniat membuatku karatan? Kenapa lama sekali?" ucap Radit yang mulai emosi.

__ADS_1


Nada mengakhiri aktifitasnya, dia tau diri. Bahkan dia tau ada kakek yang menunggu di bawah.


"Maaf jika merasa karatan karna menungguku, sebaiknya kita segera turun," ucap Nada santai kemudian melangkah pergi.


Radit menarik tangan Nada hingga keduanya saling berhadapan.


"Kenapa?" tanya Nada sambil menatap ke arah Radit. Sepertinya suaminya ini hobi sekali menyentuhnya.


"Aku harap jangan menggodaku lagi, sudah cukup sampai disini," Nada yang tadinya bahagia, mendadak kecewa. Dia menatap ke arah Radit dengan tenang.


"Apa kamu merasa aku menggodamu? Bahkan aku sama sekali tidak berniat untuk itu," ucap Nada.


Radit terkejut dengan ucapan Nada ia pun melepaskan tangan Nada.


"Lalu apa namanya jika tidak menggoda? Kau memanggilku dengan mesra, harus berapa kali aku bilang, kau harus tau posisimu," ucap Radit sambil menatap tajam ke arah Radit.


"Bukankah kau yang mau aku memanggilmu seperti itu?" tanya Nada santai. Radit terdiam, sepertinya otaknya tidak berpikir dengan benar sehingga membuat dirinya semakin bingung. Bukankah tadi memang dia yang meminta Nada memanggilnya seperti itu? Entahlah.


"Diamlah, jangan membuat telingaku sakit karna mendengar suaramu," ucap Radit. Nada memejamkan matanya. Orang di depannya benar-benar menguras energinya.


"Apa yang kau mau dari kerja sama ini?" tanya Radit.


"Kerjasama?" tanya Nada balik.


"Ya, bukankah ini namanya kerjasama, kau tidak dipenjara karna percobaan pembunuhan. Dan aku bisa berbisnis dan mendapatkan kontrak kerja," ucap Radit. Nada memejamkan matanya. Rasa sakit menghujam hatinya. Radit benar-benar jahat.


"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya, jika aku akan tetap menjadi istri yang sesungguhnya?" tanya Nada.

__ADS_1


Radit tersenyum sinis.


"Itu keinginanmu, bukan keinginanku. Kau harus selalu ingat posisimu. Kau hanya istri sementara," ucap tegas Radit kemudian melangkah pergi.


"Oh, aku lupa," Radit tampak menghentikan langkahnya dan melangkah kembali di depan Nada. Memandang ke arah Nada dengan tenang.


"Sepertinya, dari setiap wanita bo*oh yang mau menyerahkan tubuhnya dengan sejumlah uang. Hanya kau, manusia bodo* yang menolak dispensasi dariku. Ku harap kau tak menyesal di kemudian hari," ucap Radit dengan tegas.


Nada tidak lagi bisa menahan sesak yang mendera. Kini Nada menatap Radit dengan tajam.


"Aku yang bodoh, atau orang yang menginginkan pernikahan ini yang terlalu Bod*h? kau pikir aku setuju dengan kerjasama yang kau maksud? Bukankah kau terlalu licik dan memberi pilihan yang bod*h juga? Kau tau, tidak ada manusia b*doh yang membiarkan keluarganya memderita. Kecuali mereka yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang seutuhnya," ucap Nada kemudian melangkah keluar.


Nada memejamkan matanya dan menyandarkan dirinya ke dinding. Radit terdiam, memaki Nada bukan membahagiakan hatinya justru sepertinya malah merusak moodnya. Bahkan, kata terakhir Nada malah mengusik hatinya. Pada akhirnya Radit mengikuti langkah Nada.


"Ya Tuhan, aku baru saja mencoba menerima menjalani pernikahan seperti ini, kini harus hancur karena ucapan nya yang menyakitkan. Aku harus kuat, aku bukan wanita lemah, ini adalah pilihan ku, menerima pernikahan dengan orang yang jelas-jelas sangat jahat. Aku harus tetap bertahan demi keluargaku," ucap nada lirih, menasehati dirinya sendiri.


Nada hampir saja melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan, kini Radit sudah berhenti di depannya.


"Kita turun sekarang, kakek sudah lama menunggu," ucap Radit, Radit menggenggam erat tangan Nada kemudian berjalan menuju ruang makan.


😍😍😍🙏🙏🤣


Nah lo, siapa yang mau nggetok kepalanya babang Radit yang menyebalkan? Udah bikin sakit hati terus megang-megang tangan. Sepertinya ember emak-emak pada nganggur. Kita getok berjamaah aja bang Raditnya 🤣🤣🤣



Sambil nungguin babang Radit, mampir juga ke karya temen othor yang keren ini yakk...😍😍😍😍😍

__ADS_1



__ADS_2